Riba dan Ring Tinju

Posted on Updated on

RIBA DAN RING TINJU

Oleh: H. Dwi Condro Triono, Ph.D
Dalam sebuah acara Islamic Business Coaching (IBC), ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan: “Di dalam sebuah sistem ekonomi seperti sekarang ini, kita sebagai pebisnis muslim, apakah mungkin bisnis kita akan menjadi sukses dan barakah…?”. Untuk menjawabnya, kita dapat membawanya kepada sebuah analogi sederhana. Silakan direnungkan. 

Berbisnis di era sekarang ini, dapat diibaratkan kita masuk ke dalam arena tinju yang sangat besar. Namun, tinju yang dipertandingkan bukan tinju sembarang tinju. Pertandingan tinju yang diselenggarakan adalah pertandingan tinju gaya bebas dan tanpa kelas. Siapapun boleh langsung masuk ring dan boleh langsung bertanding di dalamnya.

Lantas, bagaimana dengan orang Islam yang ingin ikut bertanding di dalamnya? Bagi orang Islam yang ingin ikut bertanding, ternyata terkena aturan yang berasal dari Islam, yaitu: boleh mengikutinya, namun dengan syarat: tidak boleh memukul lawannya. Yang boleh dilakukan hanya satu, yaitu: menghindar dari pukulan lawan. 

Nah, silakan diprediksi sendiri. Mungkinkah pemain Islam akan memenangkan pertandingan? Jawabnya tentu sangat jelas. Secara normal, orang Islam tentu tidak akan pernah bisa memenangkan pertandingan. Jika ada orang Islam yang menang, kemungkinannya hanya dua. Kemungkinan pertama, lawan tandingnya jatuh sendiri karena sakit atau kelelahan. Kemungkinan kedua, orang Islamnya melanggar aturan Islam, yaitu ikut memukul lawannya.

Analogi inilah sesungguhnya yang terjadi dalam percaturan ekonomi di masa sekarang ini. Dalam sistem ekonomi sekarang ini, kita dipersilakan secara bebas untuk mengembangkan bisnisnya. Di dalam sistem ini pula, telah disediakan kebutuhan permodalan yang sangat besar. Semua pebisnis dipersilakan memanfaatkannya, dengan syarat harus mau mengembalikannya ditambah dengan bunga (riba). Maka, siapapun pebisnis yang ingin terus memperbesar perusahaannya, dipersilakan berlomba-lomba untuk menambah modalnya dari memanfaatkan uang di lembaga perbankan tersebut. 

Bagaimana dengan pebisnis muslim? Silakan berbisnis, namun tidak boleh pinjam uang di Bank, karena hukumnya haram. Padahal total asset dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat yang ada di Bank Konvensional sudah mencapai 6000 triliun rupiah. Jika pebisnis muslim diharamkan meminjam uang di bank, lantas siapa yang akan memanfaatkan dana yang super besar jumlahnya tersebut? Silakan dijawab, siapakah yang akan memenangkan pertandingan “tinju” terebut?

Lantas, bagaimana solusinya? Silakan dijawab dengan pemikiran yang jernih. Tawaran solusinya hanya ada dua. Pertama, solusinya adalah dengan membuat ring tinju sendiri, dengan aturan main sendiri. Mulai ring tinju yang kecil-kecilan tidak apa-apa. Yang penting telah berbuat, yang penting telah melakukan “action”…! Solusi kedua, yaitu dengan mengganti aturan main di arena tinju besar tersebut. Diganti dengan apa? Diganti dengan aturan Islam. Mana yang dipilih umat Islam saat ini?

Ternyata, umat Islam sekarang ini lebih memilih solusi pertama, yaitu membuat “ring tinju” sendiri, dengan jalan membangun bank-bank syari’ah sendiri. Bagaimana hasilnya? Setelah berjuang selama kurang lebih 25 tahun, total asset DPK di Bank Syari’ah sudah hampir menyentuh 300 triliun rupiah. Besar atau kecil? Tergantung perbandingannya. Jika dibandingkan dengan total asset DPK di bank konvensional, maka angka itu belum mencapai 5 %-nya. Padahal penduduk muslim di Indonesia mencapai 85 % dari penduduk Indonesia. Artinya, 85 % penduduk muslim Indonesia harus memperebutkan 5 % dari kue permodalan yang disediakan di Indonesia. 

Apakah masih akan dilanjutkan? Ataukah, kita akan melirik kepada solusi kedua? Untuk memilih solusi kedua, ternyata tidak mudah dan tidak sederhana. Kita memerlukan suatu gambaran penataan ekonomi Islam secara menyeluruh atau secara sistemik, untuk menggantikan sistem ekonomi pasar bebas atau kapitalisme.

Bagaimana penataan ekonomi Islam yang sistemik itu? Silakan baca selengkapnya pada buku Ekonomi Islam Madzhab Hamfara Jilid 2: Ekonomi Pasar Syari’ah. Insya Allah, penjelasannya sudah cukup lengkap dan tuntas. Selamat membaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s