Keimanan Modal Indah untuk Pernikahan

Posted on

Keimanan Modal Indah untuk Pernikahan

Menikah di usia 20 tahun, kuliah di Kebidanan semester 4, dibiayai oleh kakak sulung. Dengan calon suami berusia 21 tahun, sedang kuliah, membiayai diri sendiri, belum mempunyai pekerjaan, menanggung 6 adiknya untuk hidup. Apa anda berani menikah dalam keadaan seperti itu? Rumit, banyak mainset yang perlu diubah. Apa yang terjadi? saat mindset sang wanita sudah berubah, begitu pula mindset sang lelaki sudah berubah, Lamaran itu ditolak orangtua pihak wanita karena pertanyaan, “Apa yang kamu punya untuk menikah?”.

“Saya memang belum mempunyai apa-apa dari segi materi, pak. Saya hanya minta keridhoan bapak dan ibu untuk menikahkan saya dengan putri bungsu bapak dan ibu. Saya hanya berpijak pada keimanan saya yang belum cukup, selalu tidak cukup. Saya hanya takut, jika pernikahan ini menunggu materi yang saya punya nanti, saya malah tergelincir berbuat maksiat kepada-Nya. Tidak ada yang bisa menjamin, saya dan putri bapak yang saling mencintai karena Allah dapat terhindar dari maksiat dan dosa, meskipun kami sendiri tidak berniat untuk melakukannya. Na’udzubillahi min dzalik. Nabi Adam pun dapat tergelincir rayuan dan bisikan syetan, padahal ia bertemu langsung dengan Allah. Keimanannya pun pastilah sangat kuat. Apatah lagi saya yang bukan siapa-siapa, keimanan saya terlalu rapuh, saya tidak pernah bertemu langsung dengan-Nya. Yang saya punya hanya keinginan kuat untuk berada dalam jalan yang diridhoi-Nya dengan mengikuti Rasulullah, menjalankan sunnah untuk menyempurnakan setengah dari agama.”

Dan jawabannya, “Kami pun tidak terlalu mengunggulkan materi, hanya saja kita tetap perlu untuk kelangsungan kehidupan sehari-hari. Saya tidak menolak, tapi tolong ditangguhkan sampai kalian mampu. minimal untuk hidup kalian saja” Sang Bapakpun menjawab.

Matapun pedih, panas, hati pilu. Lelaki sholeh yang asalnya pun belum berniat menikah pada usia yang demikian muda, namun untuk menjaga fitnah dirinya dan wanita yang dicintainya, ditolak karena belum mempunyai materi apa-apa. Ia pun pulang dengan senyum. Harus tetap dalam keadaan baik, apapun yang terjadi. Prinsipnya.

Malam hari setelah peristiwa. “Bapak, kalau Bapak mengaku mencintai Rasul. Tahu tidak apa yang Beliau katakan tentang ini?” sang putri pun mengingatkan.

“Silakan sayang, utarakan. Apa kata Beliau?” tanya sang ayah mempersilakan.

“Kalau tidak salah, redaksinya seperti ini. Barangsiapa menolak lamaran seorang lelaki yang sholeh, maka tunggulah fitnah yang akan menghampirinya.”

“Nak, Bapak bukan menolak. Tapi menunda.”

“Ini bukan bentuk pemaksaan atau pembelaan diri, coba dengar dan ikuti suara hati ayah… Kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita hidup. Kenapa kita berani menunda? seolah olah kita tahu kapan datangnya ia (kematian).”

“Baiklah kalau tidak ditunda. Bagaimana dengan tempat tinggalmu?”

“Tidak maukah ayah, aku tinggal disini sementara bersama suamiku. Atau bila tidak aku tinggal di sini dan suamiku tinggal di rumah ibunya. Sementara sampai kami mampu?”

“Tentu ayah mau. Tapi apa kata orang, sayang?”

“Bila ada yang berani menggunjing. Biarlah ia bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Generasi terbaik pun pernah mengalaminya. Saat ‘Aisyah r.a dinikahi Rasulullah. Ia tinggal bersama orangtuanya (Abu Bakar Ash-Shidiq r.hum), sedangkan Rasulullah di Madinah. Beliau tidak mempermasalahkannya, kenapa kita mempermasalahkan. Keimanan yang membuatnya indah, Ayah!”

“Kamu benar sayang, bagaimana dengan biaya hidup atau minimal makanmu sehari-hari?”

“Ayah, kami punya iman. Kami bukan orang-orang yang hanya ingin berpangku tangan. Kami akan berusaha, terus berusaha. Sekali lagi, ridhokah Ayah sementara waktu menanggung biaya makan putri Ayah yang sudah menikah?”

“…………… Ridho sayang. Sangat ridho. Tapi kok, kesannya suamimu enak banget. Hanya ingin menikahi tanpa harus menanggungmu.”

“Abu Bakar tidak pernah bilang begitu pada Rasulullah, Ayah!”

“…………………………………………….”

“Kami akan berusaha, Ayah. Akan. Kami berjanji! Iman penuntun kami! Baiklah kalau begitu ada pilihan lain.”

“Apa itu?”

“Nabi SAW bersabda: Tidak ada kewajiban bagi suami untuk menafkahi istrinya, sebelum ia melihat istrinya dalam keadaan tidak menutup auratnya (tidak berpakaian). Bagaimana kalau selama kami belum mampu, suamiku diminta bersabar untuk tidak melihat auratku. Insya Allah ia pun tidak akan menuntut karena niat kami menikah bukan semata-mata karena syahwat? Bagaimana jawaban ayah nanti di hadapan Allah dan Rasul-Nya saat ternyata memang ada solusi yang sudah Rasul terangkan, tapi tetap dibantah hanya karena materi?”

“Rasulullah benar! Baiklah. Ayah mengerti. Bagaimana dengan pesta pernikahanmu?”

“Sebaik-baik wanita adalah yang tidak menyulitkan dalam maharnya. Kesholehannya sudah cukup dan tak akan tergantikan dengan apapun, Ayah. Tidak dirayakanpun tidak apa-apa. Karena hakikat pernikahan bukan pada pestanya. Tapi keteduhannya hingga akhir hayat. Pesta meriah dan megah tidak menjadi jaminan keutuhan rumah tangga. Memang sekali seumur hidup, hakikatnya bukan pestanya yang dimaknai sekali seumur hidup, tapi pernikahannya yang diharapkan sekali seumur hidup. Memang indah, menjadi Ratu dan Raja semalam pada pesta pernikahan. Tapi, apa keinginan itu harus sampai mengeluarkan uang puluhan juta? Belum tentu pernikahan nan megah itu menjadi ingatan orang. Lalu sebenarnya untuk apa? Lebih baik, itu untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak menyusahkan orang tua dan tidak menyusahkan calon suami. Biarlah senyuman Allah mengiringi kami. Kami ridho.”

“Subhanalloh!”

“Seperti Zainab dan Muhammad, menikah tanpa dirayakan. Tapi kerajaan langit langsung yang merayakan. Tidak ada yang lebih indah dari itu!”

“Benar!”

“Ayah, jadi apapun aku nanti. Jadi bidan yang kaya raya, jadi wanita sukses, sedangkan suami tidak seperti itu. Bukan pelegalanku untuk merendahkannya. Jadi sehebat dan sekaya apapun, aku tetap istri. Hartanya ia berikan pada suami pun menjadi pahala yang besar baginya. Aku ridho, ayah. Aku tidak ingin orang-orang yang aku cintai harus kesusahan menanggung hidupku, aku akan membantunya menafkahi rumah tangga, dengan bekerja sesuai dengan kodratku dan atas izin darinya, ketika ia belum mampu. Khadijah r.a sudah mencontohkannya, saudagar kaya raya itu memberikan seluruh hartanya untuk suaminya tanpa merendahkannya. Tetap menaatinya. Karena iman, ayah. Itu yang ingin aku ikuti.”

“……………………………………..” sang ayah tak berkata, hanya linangan air matanya yang mendera.

“Ia anak sulung dari 7 bersaudara. Siapa yang salah? Tidak ada yang salah. Betapa malangnya ia tidak diinginkan wanita hanya karena menanggung banyak adiknya, padahal ia begitu sholeh dan hafal Al-Qur’an. Siapa yang bisa memilih, dimana kita akan dilahirkan? Siapa orangtua kita? Berapa jumlah adik kita? Dari keluarga mampukah atau dari seorang ayah pemecah batu? Seorang Nabi pun menangis mencium tangan seorang pemecah batu untuk menafkahi keluarganya. Kenapa kita tidak? Kenapa kita menolak? Siapakah kita dibanding dengan Rasulullah? Bukan salahnya dia anak sulung dari 7 bersaudara, bukan keinginannya pula. Jangan khawatir ayah, do’akan kami mampu menjalani hidup ini….”

“Baik sayang, baik. Ayah ridho. Ibu Ridho. Semogapun Allah Ridho. Keimanan, itu solusinya. Semua bisa berubah menjadi indah dan mudah di tangan orang yang beriman….”

Berhasil! Sayapun telah menikah tanpa dirayakan. Maharpun tidak menyusahkan. Kuliah tetap lanjut. Akhirnya suamipun mempunyai pekerjaan yang mapan. Semoga hidup ini senantiasa diliputi iman. Aamiin Ya Allah..

#SebuahKisah
@Fp Indonesia Tanpa pacaran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s