Month: May 2017

MENGHORMATI NU DENGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

Posted on

MENGHORMATI NU DENGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

(c) Husain Matla

Saat ini perjuangan menegakkan khilafah di Indonesia memang sedang menghadapi ujian. Di antaranya adalah tidak disetujui sebagian saudara kita, seperti para pengurus struktural Nahdlatul Ulama (NU). Saya katakan “pengurus struktural” karena memang tidak semua NU demikian. KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan para kyai yang dekat dengan KH. Hasyim Muzadi (almarhum) tidak nampak memberikan dukungan terhadap KH. Said Aqil Siradj, ketua tanfidziyah NU sekarang.

Alasan yang dipakai kalangan struktural NU adalah bahwa NKRI itu membentuknya susah. Dulunya Nusantara ini terdiri dari banyak kerajaan. Dan sekarang sudah segedhe ini dan dalam kondisi bersatu dan sedang membangun. Eman-eman kalau sampai goncang apalagi bubar. Juga dinyatakan bahwa mempertahankan negara ini dulunya juga susah. Berdarah-darah. Sampai terjadi Resolusi Jihad yang menghasilkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Bung Tomo bisa leluasa memimpin para pejuang setelah mendapat fatwa jihad dari para kyai. “Kami berdarah-darah mendirikan Indonesia ini, jangan sampai negara besar ini bubar. Bukan hanya kaum nasionalis saja yang punya andil memperjuanglkan negara ini, tetapi juga kami. Jadi, tolong hargai !!!” Begitu kira-kira harapannya.

Kita tentu saja sangat bisa memahami dan menghormati alasan beliau-beliau itu. Namun justru karena menghormati itu kita seharusnya semakin giat dan “ngotot” untuk memperjuangkan khilafah.

Mengapa?

Karena para kyai NU, paling tidak melalui jaringan pesantren (karena yang struktural saya belum meneliti pandangan dan sikap mereka) ketika zaman awal abad XX juga bersikap seperti para pejuang khilafah sekarang ini. Yaitu ketika mereka menyertai HOS. Tjokroaminoto berusaha membangun pandangan baru atas masa depan Nusantara. Yang akhirnya berubah menjadi seruan merdeka.

Apakah sikap semacam itu gampang?

Sama sekali tidak gampang. Berbagai badai dan halilintar menghadang. Seperti sikap kalangan feodalis yang justru memihak pemerintahan kolonial Belanda. Banyak sekali mereka itu, terutama berbagai bangsawan kerajaan yang menjadi sekiutu Belanda. Kalau kita mau membuka lembar-lembar sejarah, banyak sekali mereka. Seperti para bangsawan Mangkoenegaran Solo, Adipati Sumedang, RM. Sosrokartono (kakak RA. Kartini) dll. Bahkan kalangan Mangkoenegaran berpendapat bahwa bangsa-bangsa pribumi Nusantara dan bangsa Belanda tidak bisa dipisahkan. Satunya menjalani pelaksanaan berbagai program, satunya mengarahkan program. Jika sampai berpisah, keduanya rugi. Satunya kurang tenaga, satunya kurang pemikir. Keduanya akan sama-sama menuju kemuduran. Begitu pandangan pro Belanda itu. Sepertinya logis ya. Sepertinya… kayaknya…. (seperti pandangan kontra khilafah sekarang yang sepertinya kayak logis). Sungguhpun berbagai alasan itu akhirnya mendapat alsan penyanggahan dan perlawanan dengan pengorbanan luar biasa dari HOS Tjokroaminoto beserta para muridnya .

Saya katakana mereka “sekutu Belanda” bukan “bawahan Belanda”. Karena Belanda menjajah Nusantara itu dengan system semacam waralaba. Mereka hanya mengambil kekuasaan dalam jenis tertentu (sebagaimana pengwaralaba), sementara para raja Nusantara memegang jenis kekuasaan lain yang lebih operasional (sebagaimana pewaralaba) [jadi memang bisa dipahami alasan Mangkoenegaran tadi]. Selain itu, raja-raja Nusantara juga mengerahkan pasukan untuk membantu Belanda dalam rangka menakhlukkan kerajaan-kerajaan lain yang belum tertakhlukkan seperti Aceh, Minangkabau dan Tapanuli.

Jadi mereka juga punya andil besar terhadap keberhasilan Belanda di Nusantara. Mereka, para bangsawan itu, bisa saja mengatakan, “Kami berdarah-darah mendirikan Hindia Belanda ini, jangan sampai negara besar ini bubar. Bukan hanya Belanda saja yang punya andil merintis negara ini, tetapi juga kami. Jadi, tolong hargai.” Begitu kira-kira seandainya diucapkan.

Lalu, jika sikap penentang kemerdekaan dulu itu sama dengan sikap para penentang khilafah di masa sekarang, lalu apakah di masa sebelumnya ketika mereka ikut membangun Hindia Belanda, mereka juga menentang para pendahulu mereka?

Kenyataannya bukan demikian. Mereka adalah keturunan para raja atau sultan yang gagah berani melawan Belanda seperti Sultan Agung hanyokrokusumo dan Sultan Ageng Tirtayasa. Yang kemudian setelah itu dikalahkan Belanda. Dalam sejarah mereka juga begitu menyanjung para leluhur mereka itu. Mereka sampai-sampai mencari banyak alasan mengapa mereka tak segagah dan semulia para pendahulu mereka. Seperti alas an takdir (sebagaimana di buku Babad Tanah Jawi). Bahwa jaman kakek mereka memang ditakdirkan jaman gagah, sementara jaman mereka ditakdirkan sebagai jaman pengecut.

Artinya apa dari fenomena itu? Ketika bangsawan itu menyanjung para leluhur mereka, tetapi para penerus mereka mencela mereka?

Artinya, tak bisa kita tafsirkan lain, bahwa zaman mereka adalah paling buruk dibanding sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya merdeka, di masa mereka terjajah, dan sesudahnya merdeka lagi. Dan berikiutnya ingin lebih merdeka lagi.

Ini berarti setelah masa paling buruk itu yang dilakukan adalah seruan dan langkah untuk lebih baik lagi dan terus lebih baik lagi. Perbaikan terus menerus yang semakin mendekati arah ideal. Sebelumnya terjajah, berikutnya lebih merdeka, berikutnya semakin kuat kemerdekaannya.

Kesimpulannya bisa kita tajamkan: sebelumnya dijajah dengan pemerintahan Belanda dan hukum Belanda. Setelah merdeka sudah bebas dari pemerintahan Belanda tetapi masih menggunakan hukum-hukum Belanda (dan juga hukum Inggris dan Amerika). Tentu berikutnya yang kita harapkan adalah bebas dari pemerintahan Belanda sekaligus bebas dari hukum Belanda (dan hukum Barat lainnya).

Bagi kita umat Islam, kita simpulkan: semula bukan pemerintahan oleh umat Islam dan bukan dari hukum Islam. Beikutnya sudah berhasil dikuasai oleh umat Islam, tetapi masih menggunakan hukum bukan Islam. Idealnya nanti, pemerintahan oleh umat Islam berdasarkan hukum Islam.

Kondisi ideal inilah yeng benar-benar bisa menjadikan manusia bebas, terbebas dari penindasan manusia lain (exploitation de l’homme par l’homme). Saat itu manusia benar-benar setara dan merdeka karena ketundukan mereka hanya kepada Allah SWT.

Kondisi demikian inilah, yang bisa diwujudkan dengan pemerintahan oleh umat Islam berdasar hukum Islam, yang disebut khilafah. Saat itu umat Islam hidup berdasar syariat Islam, berada dalam ukhuwah Islamiyah, dan lebih d ari itu, bahkan bisa mendakwahkan Islam ke berbagai pihak. Bahkan umat lain pun tak perlu takut karena syariat Islam juga membebaskan mereka dari penindasan saudara-saudara mereka sendiri.

Ini sebagaimana disampaikan seorang ulama, Rowas Qal Ahji, mengutip Imam Mawardi, “Tanpa Khilafah, orang-orang kuat kita akan memakan orang-orang lemah kita.”

Jadi, seruan khilafah adalah lanjutan seruan merdeka. Seruan khilafah adalah estafet dari seruan merdeka. Seruan khilafah adalah agar merdeka sebenar-benarnya. Merdeka hakiki. Ketika ketundukan hanya kepada Allah SWT.

Justru kami menghargai kalau para penyeru kemerdekaan itu sekarang mulai merasa capai, estafet perjuangan itu diberikan kepada kami. Kami sepenuhnya akan menghargai dan menghormati anda dengan meneruskan perjuangan anda. Kami akan mengingat semangat, perjuangan, dan pengorbanan anda, ketika anda mendapat kecaman dari para bangsawan pro Belanda. Kami tidak ingin anda justru bertindak sebagaimana mereka. Sikap mereka yang membela Belanda dan menindas anda begitu memuakkan anda. Kami mungkin belum apa-apa dbanding perjuangan bertaruh nyawa dan harta dari anda di Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Justru karena itu kami ingin menyerap sepenuhnya spirit anda.

Kami akan meneladani tekad dan keberanian anda di waktu lalu. Ketika anda adalah para ksatria pemberani di tengah badai dan halilintar.

BUKTI HISTORIS KHILAFAH BUKAN IJTIHAD

Posted on Updated on

BUKTI HISTORIS KHILAFAH BUKAN IJTIHAD

(c) Husain matla

1. Sampai akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, negara sudah sangat luas. Mengapa berikutnya Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak berbagi kekuasaan saja dg Muawiyah. Bayangkan, dari Libya smpi Iran. Sekarang trdiri dari 20-an negara.

2. Berikutnya ketika terjadi perang saudara: Abdul Malik bin Marwan vs Abdullah bin Zubair, Marwan bin Muhammad vs Abul Abbas, Al Amin vs Al Makmun, Khumarawaih vs Al Mu’tadhid Billah. Mengapa ujungnya harus integrasi. Bukan bagi dua. Bukankah masing2 amir sudah memegang wilayah lebih besar dr NKRI skrg? Mengapa para ulama mendukung keharusan integrasi? Mengapa tidak seperti pembagian Romawi atau pembagian Jenggala-Panjalu?

3. Mengapa Amir Abdurrahman ad-Dakhil tidak mau menyatakan diri sbg khalifah, padahal sudah memegang penuh wilayah Spanyol Portugis. Mengapa ia membiarkan khalifah Abu Jafar al Manshur sbg khalifah satu2nya padahal kapal2 khilafah Abbasiyah tak sanggup menguasai Spanyol? Ada kesan Umayah di Andalusia (Spanyol-Portigis) cenderung bersikap aman sperti Taiwan skrg. Jika skrg ada prinsip “satu China”, dulu ada “satu khilafah”.

4. Abad XII M, Shalahuddin al Ayyubi mendedikasikan kemenangannya atas Mesir dan Al Quds utk khilafah Abbasiyah (di bawah Khalifah An-Nashr Lid Dinillah). Hal yg sama dilakukan Yusuf bin Tasyfin ketika menakhluklan seluruh Andalusia. Apa sih susahnya mereka berdua menjadikan wilayahnya independen. Kekuatan militer mereka tampaknya di atas Abbasiyah.

5. Bani Buwaih, bani Seljuk, bani Khwarism, bani Ayyub, dan kaum Mamluk dan bani Utsmani senantiasa membaiat khalifah Abbasiyah. Padahal militer khilafah sepenuhnya dlm kendali mereka.

6. Tahun 1517, Khalifah Al Mutawakkil menyerahkan estafet khilafah kepada Sultan Salim I ( bani Utsmani, cucu Muhammad al Fatih). Ini mengakhiri dualisme kepemimpinan di dunia Islam di mana Abbasiyah di Kairo berposisi semacam Bung Karno thn 1966, sementara Utsmani di Konstantinopel seperi Pak Harto. Mengapa tidak membagi dua saja atas kepemimpinan dunia Islam. Bukankah masing2 punya keistimewaan dan.kharisma?

7. Kecuali benteng canggih Konstantinopel, batas wilayah khilafah Umayah dulu adalah alam. Yaitu: Pegunungan Taurus, Samudera Atlantik, Pegunungan Pirennia, Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Gurun Gobi, Pegunungan Indus, Pegunungan Hindu Kush, Samudera Hindia, dan Gurun Sahara. Ini berarti, selain Kekaisaran Romawi, yang sanggup menghentikan umat Islam hanya alam. Selain itu, pasukan Islam terus melaju. Tak ada yang sanggup menghadapi. Mereka juga tak berpikir berhenti. Mengapa demikian?

8. Setelah kehancuran khilafah Utsmani tahun 1924, pada tahun 1925 diadakan konferensi Khilafah di Mesir oleh para ulama besar Islam sebagai ikhtiar mendirikannya kembali. Mengapa harus didirikan kembali?

Dari fakta2 di atas, kira2 POLA PIKIR yg semacam apa yg “mencengkeram” benak mereka semua (tokoh-tokoh terkait di atas) shg harus menjaga integrasi wilayah.?

Apa yg membuat para fuqaha, amir, dan panglima miter dan orang2 hebat lainnya, seperti ” tercuci otaknya” shg tidak berani melangkah pd hal2 baru semisal negara berbasis wilayah atau bangsa sbgmn skrg?