Month: June 2017

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*

Posted on

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*

Pada zaman pemerintahan *Khalifah Syaidina Umar bin Khatab*, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah *Jenderal Khalid bin Walid*.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, _”Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.”_ Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai *Pedang Allah yang Terhunus*.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah *Khalid bin Walid*, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, _”Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”_

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, _”Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”_

_”Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!”_ Jawab Khalifah.

_”Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”_

_”Kamu tidak punya kesalahan.”_

_”Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”_

_”Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”_

_”Lalu kenapa saya dipecat?”_ tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, _”Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”_.

_”Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”_

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, _”Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”_

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, ‘kegagalan’ atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat…..bahkan hingga yang paling ekstrim…. Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, _”Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”_

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, _”Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”_

*****
Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, *”Pedang Allah yg Terhunus”*

_Patut direnungkan dan di hayati. Semoga bermafaat_
******************************************

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN

Posted on

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN
Oleh: Mardigu Wowiek Prasetyo

Berdiskusi dengan seorang bule yang tinggal di top floor Pakubuwono Residence selama 2 bulan hanya untuk mempelajari ekonomi Indonesia. Setelah itu, rencananya ia akan berangkat ke Mumbay dan katanya dia berencana tinggal di India juga selama 2 bulan untuk mempelajari ekonomi Negara India. Pembicaraan kami berdua cukup intense dan “menegangkan”.

Usianya 65 tahun, kebangsaan Amerika, ras Yahudi. Sebuah spesifikasi SARA yang bagi sebagian “pegiat agama”, dia bisa di ketagorikan “public enemy number one”. Atau bagi “pegiat agama” yang senangnya mencari perbedaan, spesifikasi dia masuk object penderita yang layak di bully.

Tetapi begitu kenal dia, dia seorang parenialist, seorang pluralist, universalist dan economist sejati. Di Amerika dia juga bukan orang yang di sukai semua orang. Dia seorang financial economics, dari kampus ternama Ivy League.

Di Indonesia dia mengumpulkan data, SUN surat hutang Negara kemana saja dan siapa yang ambil, hutang korporasi kemana saja, export import Indonesia, arus keluar masuk barang. Semua di petakan di “mapping”. Dia tahu kelemahan dan kekuatan data terakhir Indonesia. Kegiatannya ini sebenarnya termasuk kategori inteligen ekonomi (economic intelligent).

Sayangnya data ini tidak bisa dilarang. Tidak ada hal/data yang di langgar olehnya. Tidak ada rahasia Negara yang dicurinya. Dia hanya mengumpulkan data publik dan data Negara dengan cara berbeda dengan BPS. Dia juga tidak ABS asal bapak senang. Bahkan dia menganalisa setiap pejabat Indonesia yang memberikan jumpa pers. Dia tahu sekali ini misalnya menteri anu pinter tuh dia tahu masalah atau pejabat anu tahu hanya kulit-kulitnya, atau pemimpin anu dia nggak tahu sama sekali.

Dari setiap perkataan dan kalimat dia analisa pemilihan kata-katanya, mimiknya, gerak tubuhnya, timingnya, konten isi informasinya, arah pembicara, semua ada arti baginya, sang financial economic ini. Dia tidak membaca Koran yang diam/statis, dia melihat video atau tayangan yang reporter (asing) rekam. Oiya catatan, hampir 80% wartawan asing dekat dengan dunia intelijen.

Lalu dia berkata, your country is in bad shape!

Saya bertanya, any proof sir?

I tell you just one, dia berkata yang saya terjemahkan : jika pada bulan Agustus nanti PLN surat hutangnya jatuh tempo, saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta di perpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?

Saya berkata, PLN default ? bangkrut?

Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?

Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF? Saya bertanya

You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!

Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.

Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.

Dia tertawa tergelak-gelak. Presdiennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya.

Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.

Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya.

Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.

Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), menarik lagi 6 milyar dolar.

Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia.

What are you gonna do? Saya bertanya.

Dia hanya menaikan dua pundaknya sambil tersenyum. Bukan saya lho yang buat negara ini “not in good shape”. Saya hanya lihat peluang. Saya tunggu Oktober, will see what Indonesian’s government can do, katanya kemudian. #peace

ISLAM TANPA “NUSANTARA”

Posted on

ISLAM TANPA “NUSANTARA” ( Husain Matla)

Saya kira ungkapan “Islam Nusantara” itu tidak perlu. Seakan kok Islam itu masih kurang baik sehingga perlu ditambah baiknya dengan Nusantara. Masalahnya Nusantara sendiri juga tidak layak sebagai simbol kebaikan.

Atau kita berharap dengan Islam Nusantara akan lebih baik dari Islam lain, misal Islam Timur Tengah. Misal dikatakan Islam Timur Tengah itu seperti kita melihat Suriah…, perang !!! Sementara Islam Nusantara itu seperti kita melihat padi, nyiur, atau mata air, damai. Kenyataannya, pernah pada suatu masa Nusantara penuh pergolakan, sementara Timur Tengah penuh kedamaian.

Semoga tulisan saya pada buku “Khilafah jaga Kebinekaan” ini bisa membantu.
————————————————————–

“ISLAM INDONESIA LEBIH CINTA DAMAI”,
UNGKAPAN ORANG BUTA !!!

Beberapa pihak saat ini menyatakan adanya “Islam versi Indonesia”. Yang katanya lebih cinta damai. Sesungguhnya kalau kita menyelami sejarah Indonesia, nampak sekali itu ungkapan orang yang tidak paham sejarah.

Sejak meninggalnya pemimpin Demak Bintoro, Sultan Syah Alam Akbar III (Pangeran Trenggono), tahun 1546 M, kalangan pesisir Jawa tak pernah mau mengakui kalangan pedalaman Jawa sebagai penerus Demak. Tercatat adanya banyak pemimpin pantai utara Jawa yang melawan pemerintahan Pajang atau Mataram sejak tahun 1549 – 1680 M: Aryo Penangsang (Jipang –sekitar Blora dan Bojonegoro sekarang), Aryo Pangiri (Demak), Pangeran Pekik (Surabaya), Pangeran Puger (Demak), Adipati Pragola I dan Pragola II (Pati), Sunan Giri IV dan Panembahan Giri (keduanya dari Giri Kedhaton, Gresik), dan terakhir Pangeran Trunojoyo (Madura). Sepanjang masa itu Kesultanan Banten senantiasa memihak utara, entah secara aktif atau pasif. Sementara Kedaton Cirebon tergantung kondisi, kadang memihak utara, kadang memihak selatan.

Mengapa itu semua terjadi?

Karena adanya “gep batin” antara keduanya, yaitu dalam menempatkan Islam dan Jawa.

Pihak selatan seakan menyatakan, “Kalau bicara Islam, saya ini kan juga Islam, namun kamilah yang lebih merepresentasikan keturunan Majapahit”. Sementara pihak utara seakan menyatakan, “Kalau sekedar keturunan Majapahit, hendaknya kepemimpinan diserahkan kepada keturunan Demak, yang perjuangan pembelaan kepada Islamnya lebih nyata”. Kalangan selatan menganggap pihak utara kurang kadar kemajapahitannya. Kalangan utara menganggap pihak selatan kurang kadar Islamnya, sehingga tak layak mengaku sebagai penerus Demak.

Karena itu, kalau kita cermati siapa-siapa pihak di utara yang tidak pernah mau mengakui kekuasaan Mataram, mereka selalu terkait dengan para wali di utara. Aryo Penangsang adalah murid Sunan Kudus. Pangeran Pekik adalah keturunan Sunan Ampel. Sunan Giri IV (Sunan Prapen), bahkan konfrontasi langsung dengan Mataram. Adipati Pragola II didukung para santri Kudus. Sementara Pangeran Trunojoyo didukung Panembahan Giri.1
Sementara pihak selatan mengkaitkan dirinya dengan Sunan Kalijogo dan Brawijaya V Bhre Kertabhumi (raja Majapahit terakhir). Sultan Hadiwijoyo (Mas Karebet, alias Joko Tingkir, pemimpin Pajang) dan para penguasa Mataram di masa berikutnya dinyatakan didukung Sunan Kalijogo dan sebagai keturunan Bhre Kertabhumi.

Perang terus terjadi sampai Panembahan Adiprabu Anyokrokusumo memerintah di Mataram. Ia diterima pihak utara. Selain ia dinyatakan sebagai keturunan Majapahit dari jalur selatan (Pajang dan Selo), ia juga diakui sebagai keturunan Majapahit dari jalur utara (Demak) dan dianggap keturunan Sunan Giri I (Sunan Giri Gajah, yang bahkan selama ini diakui sebagai keturunan Rasulullah saw). Ia juga meminta Pangeran Pekik (pemimpin Surabaya, keturunan Sunan Ampel) sebagai menantunya dan meminta Panembahan Ratu (Cirebon) sebagai besannya. Kondisi ini menjadikan kondisi Jawa cenderung stabil sehingga pemerintahan Mataram sanggup menyerang Belanda pada tahun 1627.2

Namun sebenarnya kondisi tak sesederhana itu. Walaupun Jawa mulai stabil, sebenarnya sejak runtuhnya Demak, senantiasa terjadi persaingan Banten dan Pajang/Mataram untuk menjadi penerus Demak dan menjadi kekuatan yang lebih berpengaruh di Nusantara. Dan di sini asing juga mulai mengadakan pendekatan, di mana Portugis mendekati Mataram, sementara Belanda mendekati Banten. Kondisi itu nampaknya baik-baik saja saat keduanya berada dalam masa kejayaan. Bahkan keduanya berusaha mendapatkan pengakuan dari Syarif Mekah, yang saat itu berkedudukan sebagai penjaga dua kota suci dan gubernur dari khilafah Utsmaniyah. Setelah Panembahan Abdul Qodir (Banten) diakui Mekah dan mendapat gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1641, maka berikutnya Panembahan Anyokrokusumo melakukan upaya yang sama. Ia akhirnya juga diakui Mekah. Beliau bergelar Sultan Agung Abdullah Maulana Matarami. Beliau juga membangun persatuan utara selatan dengan menyatukan kalender Islam dan Jawa.3

Sayang, penguasa Mataram sesudahnya tak sebijak Sultan Agung. Amangkurat I, pengganti Sultan Agung, membantai ribuan ulama dan cenderung tunduk pada VOC. Sikap ini berbeda dengan sikap Sultan Ageng Tirtayasa di Banten yang tak mau dengan intervensi VOC. Keadaan semakin memanas karena Sultan Ageng semakin keras menentang Belanda bersama Sulan Hasanuddin di Makassar. Pihak utara jawa akhirnya memberontak kepada Mataram dipimpin Pangeran Trunojoyo yang didukung Sultan Ageng Tirtayasa dan Panembahan Giri (Sunan Giri V).

Akhirnya meledaklah perang besar skala Nusantara. Banten, Makassar, pesisir utara Jawa, dan beberapa kesultanan, melawan Mataram, Belanda (VOC), dan kadipaten/kerajaan yang telah ditundukkan. Dan dalam keadaan ini, Inggris dan Portugis cenderung berpihak kepada siapapun yang menentang Belanda. Surutnya kekuatan Islam di Nusantara mulai terjadi seiring kemenangan Belanda tahun 1680 yang ini hampir berbarengan dengan kekalahan kekhalifahan Utsmaniyah di Wina tahun 1683 M.

Dari gambaran di atas tadi, kiranya nampak sekali bahwa kondisi sepanjang lebih dari seabad itu (1549 – 1680 M) agak mirip dengan keadaan di Timur Tengah saat ini yang selalu membara, di mana Arab Saudi dan beberapa negara didukung AS dan Inggris, sementara Iran dan Suriah didukung Rusia.
Lalu, bagaimana kondisi Dunia Arab dulu saat Jawa senantiasa dalam kondisi konflik? Dunia Arab senantiasa “damai-damai saja”. Ini karena semua pihak di dunia Arab mendukung Kekhalifahan Utsmaniyah. Hanya Kesultanan Shafawi (Iran) yang menentang Utsmaniyah, namun akhirnya ia pun tunduk kepada Khalifah Salim II, pada awal abad XVII M.4

Sepanjang waktu itu pihak-pihak yang saat ini dijuluki “orang-orang Arab yang suka konflik” ternyata hidup penuh kedamaian. Kalau toh mereka perang, mereka ikut berperang serta di dalam kekhalifahan Utsmaniyah menggempur Eropa, bukan perang sesama mereka.

Lalu kapan Jawa berada dalam kedamaian?

Pertama, di zaman Demak Bintoro (1478 – 1549 M), saat mereka memimpin Islamisasi Nusantara dengan dakwah maupun jihad.

Kedua, tahun 1755-1825 (antara Perjanjian Salatiga sampai mulai Perang Diponegoro), saat mereka menjadi vasal tidak resmi dari VOC.

Ketiga, tahun 1830 – 1942 (antara Perang Diponegoro sampai PD II), saat mereka menjadi vasal Belanda secara nyata, saat mereka begitu nurut disuruh membunuhi orang-orang Minangkabau dan Aceh, serta menjadikan rakyatnya sebagai kuli perkebunan Belanda.

Keempat, tahun 1966 – sekarang, saat masyarakat Indonesia, terang-terangan sebagai antek Amerika, mengobral emas dan segala sumber alam lain kepadanya, serta menjadikan rakyatnya sebagai kuli-kuli perusahaan asing dengan gaji rendah, segera mengadakan impor beras dan sapi saat petani dan petrnak mulai merasa untung, membunuhi rakyatnya sendiri tanpa pengadilan dengan tuduhan sebagai pembela ISIS, menangkap siapapun yang memakai bendera “Ketuhanan Yang Maha Esa” (bendera lailaha illallah yg dipakai simpatisan ISIS, padahal itu bukan bendera ISIS, namun bendera Islam), sementara membiarkan warganya menjadi tentara Amerika Serikat (untuk selanjutnya membunuhi orang Islam), serta mengobral berbagai pelabuhannya kepada asing.

Memang damai itu harus ekstrem: saat menang atau kalah. Sementara saat dalam kondisi tanggung, yang ada adalah perang.

TINGGAL KITA PILIH MANA: DAMAI TERHORMAT, PERANG, ATAU DAMAI TERHINA ???

KISAH SEDIH SEORANG KORBAN BULLY

Posted on

KISAH SEDIH SEORANG KORBAN BULLY : SEBAB BULLYING TAK HANYA MENYAKITI HATI, NAMUN JUGA MENGHANCURKAN PSIKIS ORANG YANG ENGKAU BULLY.

Ditulis oleh Fissilmi Hamida (@fissilmihamida)

Saat kalian SMP & SMA, adakah teman kalian yang selalu jadi sasaran bully? Teman yang paling dibenci? Layaknya pesakitan yang terus dihujat tiada henti? Atau justru kalianlah yang menjadi obyek bully?

Inilah kisahku, seorang survivor bullying. Aku merasa wajib membagikan tulisan ini mengingat budaya bullying di negeri kita masih terus saja dianggap sebagai hal yang wajar, yang diperparah dengan banyaknya acara TV berkedok acara komedi namun isinya full bully. Benar, semenjak bertahun-tahun yang lalu, aku sudah kenyang dengan berbagai bullying, baik fisik atau verbal, yang seringkali dialamatkan pada fisikku. Inilah kisahku, dengan julukan yang saat itu disematkan padaku : si bau, si kerempeng, si tonggos, dan si si lainnya yang begitu menyakitiku. Inilah kisahku tentang 6 tahun terkelam dalam hidupku.

6 tahun itu bukan waktu yang singkat, kan?
____________________

Kamar Shofa, bertahun-tahun silam.

Saat itu aku tengah menyetrika di sebuah kamar yang kami sebut sebagai kamar Shofa, bersama 1 orang lainnya yang juga seringkali menjadi sasaran bully siswa lainnya. Namanya Farinka. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja, ada seorang kakak kelas yang berasal dari kota tempatku berasal yang tiba-tiba datang dan memakiku. Katanya aku hanyalah sampah bau, bahwa keberadaanku hanyalah pengganggu bagi yang lainnya. Aku diam saja. Mencoba untuk tidak menanggapi meski hatiku rasanya sakit sekali. Tiba-tiba sosok itu menarikku, menyeretku keluar kamar, juga melemparkan baju-bajuku. Aku kembali di maki habis-habisan. Dan aku hanya bisa menangis tertahan sembari memunguti baju-bajuku yang dilemparkannya ke lantai.

Benar, saat masih usia SMP-SMA, hampir setiap hari aku menerima bullying, terutama terkait fisikku. Itulah salah satu masa terberat dalam hidupku dimana aku menangis setiap harinya. Pura-pura ke kamar mandi untuk buang air kecil, padahal disana aku menangis sejadi-jadinya. Lalu kembali muncul dengan wajah pura-pura tampak bahagia. Apalagi saat itu aku bersekolah di sekolah asrama sehingga baik di sekolah ataupun di asrama, aku terus menerus menemui bullying yang seolah tidak ada habisnya : mulai dari sematan ‘BIBIR NDOBLEH’ untuk menghina bibir tebalku, ‘GIGI NDONGOS’ untuk merendahkan gigi tonggos-ku yang mungkin tidak seindah miliknya, juga sematan-sematan menyakitkan lainnya. Bahkan ada juga adik kelasku yang cantik jelita, mulus kulitnya, tega memanggilku dengan sebutan ‘Mbak Ndongos’.

Sayangnya, ada juga oknum guru berwajah khas Arab yang justru ikut andil dalam membully-ku :

“Kalau tertawa itu ditutup. Kasian yang lihat gigi ndongosmu nanti ketakutan,”

Begitu kata salah satu guruku waktu itu dan seisi kelas tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Sedangkan aku? Allahu Rabbi, sakit sekali rasanya. Belum lagi saat aku terus menerus diolok-olok dijodoh-jodohkan dengan teman laki-laki yang kebetulan giginya juga kurang sempurna seperti yang lainnya (saat ini aku tidak tahu bagaimana kabarnya tapi semoga Allah selalu merahmatinya). Bahkan salah satu kakak kelas pernah melakukannya di depan umum, di depan ratusan siswa sehingga seisi asrama, putra dan putri semua tertawa terbahak-bahak, tertawa bahagia tanpa sedikitpun merasa iba pada apa yang kurasa. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menangis, meski pada akhirnya ia meminta maaf.
___________________

Hari Selasa, saat kelas 2 SMP, saat berjalan menuju kelas untuk acara pidato 2 bahasa.

Aku memiliki tanda lahir di daerah sekitar mata di sebelah kiri yang membuatku terlihat seperti habis terjatuh/dipukul. Aku ingat betul, saat itu, salah satu teman sekelasku, salah satu anak cantik, gaul dan populer saat kelas 2 SMP dulu mendadak berteriak-teriak ketakutan saat aku sejenak melepas kacamataku. Dia terus menutupi wajahnya dan memeluk teman lainnya sambil terus berteriak ketakutan. Aku jadi salah tingkah dan buru-buru memakai kacamata. Apa yang terjadi kemudian? Dia dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan saat itu aku sadar, dia hanya pura-pura ketakutan untuk meledekku. Saat itu aku tidak bisa apa-apa, hanya bisa berjalan menunduk sambil meneteskan airmata dan bertanya-tanya :

“Semengerikan itukah fisik-ku?” 😭

Dan mereka melakukan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali tiap aku tidak memakai kacamata!

Dan perlakuan semena-mena ini tak berhenti sampai disitu. Hanya karena akulah yang paling menjadi sasaran empuk bully, saat ada yang kehilangan barangnya, akulah yang seringkali menjadi sosok pesakitan yang dituduh melakukannya. Namun saat aku kehilangan uang yang sedianya untuk membayar SPPku, tak ada yang menanggapi saat aku melaporkannya. Laporanku hanya dianggap sebagai dusta. Bahkan kakak senior yang merupakan siswi asal Purbalingga, yang menjadi pembimbing kamarku dengan keras melarangku untuk tak melaporkan kejadian itu. Takut nama seluruh anggota kamar menjadi jelek. Lagi-lagi, aku hanya bisa menangis karenanya.

Bahkan pernah saat aku tengah dekat dengan salah satu kakak kelas yang berada di 3 angkatan di atasku (dekat layaknya adik kakak, layaknya sahabat saja, bukan dekat lantaran ada cinta), lalu beberapakali aku bertukar surat motivasi dengannya, aku disidang oleh pengurus OPPMA (semacam OSIS). Memang, aku melanggar aturan asrama dengan bertukar surat dengan lawan jenis. Aku sepenuhnya sadar itu dan aku menerima jika memang harus dihukum karena itu. Tapi yang membuatku sedih, saat mereka menyidangku, mereka bukannya menyalahkan pelanggaranku, melainkan menghinaku bahwa sosok sepertiku, sosok sejelek diriku tak pantas dekat dengan kakak kelas populer seperti kakak kelasku itu.

Sakit, sakit sekali rasanya. Sebab itu semua terjadi bertahun-tahun lamanya. Bahkan saat Desember lalu ada reuni akbar untuk semua alumni, aku menangis haru saat group paduan suara menyanyikan lagu hymne sekolahku. Bukan, aku menangis bukan karena terhanyut dalam lagu itu. Tapi lantaran kembali teringat masa-masa menyakitkan yang kualami saat itu.

Perih, bagai tertusuk duri sembilu. Dan sebuah sumur di pojokan, di samping jemuran itu pernah menjadi saksi betapa sudah tak kuasa hatiku menahan semua itu. Aku sempat menatap nanar ke dalam sumur, berfikir untuk meloncat saja ke dalam sana agar penderitaanku berakhir dengan segera. Namun untungnya seseorang mengagetkanku, seorang adik kelas asal Pekalongan yang tetiba menyapaku, bertanya sedang apa diriku. Sapaan yang membuatku mengurungkan niatku. Terimakasih ya, Dek Laela Prahesti . Mungkin dirimu sudah lupa. Tapi sapaanmu saat itu menyelamatkanku.
__________________

Bertahun-tahun hidup penuh bully dan caci, membuatku kehilangan kepercayaan diri jika sudah menyangkut fisik, bahkan sampai saat ini. Meski sejak S1 dulu, bully dan caci maki sudah sangat drastis berkurang dan meski semenjak disini, tidak pernah lagi ada yang membully.

Saat hendak bertemu calon suami untuk pertama kalinya setelah beliau menyatakan tertarik denganku dan ingin bertemu, entah berapa kali aku bolak-balik berganti baju, entah berapa jam lamanya aku berada di depan cermin : hanya karena bully dan caci yang pernah aku peroleh dahulu kembali terngiang dan aku takut lelaki ini akan lari ketakutan dan tidak mau melanjutkan proses setelah bertemu dan melihat fisikku secara langsung. Tapi alhamdulillaah, yang aku takutkan tidak pernah terjadi.
___________________

Ryukoku University, Kyoto, saat konferensi international, Juni 2016.

Namanya Rod Ellis. Profesor Rod Ellis. Selama ini aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya saja, lewat teorinya, lewat risetnya. Sebab mahasiswa jurusan TESOL pastilah bersahabat dengan tulisannya. Dengan wajah tertutup masker, aku duduk di pojokan. Menunggu kedatangan Prof. Ellis. Benar, aku memang sengaja menutup wajahku. Saat itu wajahku hancur sekali. 2 gigi depan patah, bibir bengkak berdarah, wajahku biru lebam, lantaran sehari sebelumnya aku mengalami kecelakaan yang membuat wajahku mencium kerasnya aspal. Sebetulnya, giliranku untuk mempresentasikan paperku masih besok. Tapi aku memaksakan diri untuk datang hari itu demi bertemu langsung Prof. Rod Ellis.

“Why do you cover your face?” sebuah suara mengagetkanku. Ya Tuhan! Itu suara Prof. Ellis. Tiba-tiba saja dia sudah berada di sebelahku.

Dengan sedikit gugup, aku menjelaskan padanya. Tahu apa yang dikatakannya?

“Tidak perlu menutup wajah seperti itu karena disini, tidak akan ada orang yang akan meledek wajahmu.”

Bahkan sang Profesor tiba-tiba memanggil seseorang dari Oxford University Press dan memintanya untuk memfotokan kami berdua, di saat yang lainnya ingin berfoto bersamanya namun ditolaknya dengan alasan ia masih lelah.

Perlakuan yang sama juga kudapat dari peserta konferensi lainnya, agar aku tak menutup wajahku, agar aku tak minder dan merasa malu dengan kondisi wajahku kala itu.

Saat mendengar kabar aku terjatuh sehingga menyebabkan dua gigiku patah, banyak sekali pesan yang kuterima dari teman-teman sekampus menanyakan keadaanku. Mereka kira aku bercanda saat aku bilang :

“kalian akan takut melihat wajahku nanti.”

Dan benar, saat aku kembali ke Bristol, aku sempat malu untuk bertemu teman-teman ‘nongkrong’ ku. Lagi lagi, karena memang bully dan caci maki bertahun tahun lalu itu benar benar menurunkan rasa percaya diriku. Tahu apa yang mereka katakan?

” We don’t care. Even if you don’t have teeth anyomore, you are still our lovely Mimi that we know.”

Jawaban yang membuat keharuan menyelimutiku.
____________________

Sainsburry, Queens Road, Bristol, 2016.

Sebelum pulang ke Chantry Court selepas aku selesai belajar di Beacon Study House, aku menyempatkan diri untuk belanja beberapa keperluan di Sainsburry.

Tiba-tiba ada seorang perempuan mendekatiku, meminta maaf dan bertanya apakah aku baik-baik saja setelah melihat ada tanda biru di wajah sebelah kiriku (tanda lahirku). Saat aku bilang saya baik-baik saja dan itu hanya tanda lahir, perempuan berambut pirang ini berkali-kali minta maaf. Dia bilang dia sama sekali tidak ada maksud menyinggung. Dia hanya takut aku habis terjatuh atau dipukul sehingga meski tidak kenal, dia memberanikan diri untuk bertanya apakah aku baik-baik saja, membuatku diselimuti rasa haru karena kembali teringat apa yang dilakukan teman-temanku dulu saat melihat tanda lahir ini. Bisa dirasakan, kan, apa bedanya perlakuan yang kudapatkan disini dan disana?
__________________

Kawan, siapapun yang membaca kisah ini, aku
hanya ingin kita semua berhenti menjadikan keadaan fisik seseorang sebagai bahan hinaan, walaupun maksudnya mungkin hanya sebagai bahan candaan. Sebab bisa jadi di depan kita ia ikut tertawa, sedangkan di saat sendirian, ia menangis sejadi-jadinya.

Sebab memang hinaan itu tajam laksana pedang. Sekali tertancap, akan terus ada bekasnya. Contohnya aku. Hingga detik inipun aku masih ingat siapa saja yang saat itu tidak pernah berhenti membully fisikku, kapan kejadiannya dan apa yang dikatakannya. Meski aku sudah memaafkan, namun semua masih terekam jelas dalam ingatan. Ah, bahkan ingin rasanya aku berkomentar : “tapi ayahmu lupa mendidikmu untuk tidak membully temanmu” saat melihat salah satu yang dulu pernah begitu membully-ku menuliskan tentang betapa hebatnya ayahnya mendidiknya. Namun aku urung melakukannya. Dan karena pengalaman ini pula, aku menjadi sangat sensitif jika ada orang yang berani membuat keadaan fisik seseorang sebagai bahan candaan.

Sungguh, tidak mudah bagiku hingga akhirnya aku bisa berdiri tegak untuk percaya diri seperti ini, menutup mata, telinga, dan terus melangkah tanpa menghiraukan apapun yang orang katakan tentangku. Bahkan butuh bertahun-tahun untukku berani berfoto dengan senyum menampakkan gigi seperti ini 😊

Memang, pada akhirnya aku berhasil survive. Aku berhasil melampiaskan kesedihanku pada hal-hal positif, menjadikan hinaan dan caci maki tanpa henti itu sebagai motivasi untukku bangkit dan melompat lebih tinggi. Tapi tidak semua korban bullying bisa begini, tidak semuanya bisa bertahan, terutama jika dirasa perlakuan yang ia terima sudah teramat keterlaluan. Browsing saja. Ada banyak korban bully yang akhirnya bunuh diri lantaran tidak kuat setiap hari menghadapi bully 😦

Ingat bahwa bully dan cacimu tidak hanya akan menyakiti hati, namun juga mempengaruhi keadaan psikis orang yang engkau caci.

So please, berhentilah membully!
__________________
Ditulis dengan penuh linangan airmata, saat tetiba ingat seluruh rasa sakit yang kurasa. Kembali menuliskan tentang ini lantaran kenangan pahit yang kembali menjelma setelah tak sengaja melihat seseorang mengupload foto seseorang dan menjadikannya bahan hinaan dan canda tawa.

Pesan cinta dari korban bully yang lambat laun mampu membangkitkan kepercayaan dirinya kembali.