KISAH SEDIH SEORANG KORBAN BULLY

Posted on

KISAH SEDIH SEORANG KORBAN BULLY : SEBAB BULLYING TAK HANYA MENYAKITI HATI, NAMUN JUGA MENGHANCURKAN PSIKIS ORANG YANG ENGKAU BULLY.

Ditulis oleh Fissilmi Hamida (@fissilmihamida)

Saat kalian SMP & SMA, adakah teman kalian yang selalu jadi sasaran bully? Teman yang paling dibenci? Layaknya pesakitan yang terus dihujat tiada henti? Atau justru kalianlah yang menjadi obyek bully?

Inilah kisahku, seorang survivor bullying. Aku merasa wajib membagikan tulisan ini mengingat budaya bullying di negeri kita masih terus saja dianggap sebagai hal yang wajar, yang diperparah dengan banyaknya acara TV berkedok acara komedi namun isinya full bully. Benar, semenjak bertahun-tahun yang lalu, aku sudah kenyang dengan berbagai bullying, baik fisik atau verbal, yang seringkali dialamatkan pada fisikku. Inilah kisahku, dengan julukan yang saat itu disematkan padaku : si bau, si kerempeng, si tonggos, dan si si lainnya yang begitu menyakitiku. Inilah kisahku tentang 6 tahun terkelam dalam hidupku.

6 tahun itu bukan waktu yang singkat, kan?
____________________

Kamar Shofa, bertahun-tahun silam.

Saat itu aku tengah menyetrika di sebuah kamar yang kami sebut sebagai kamar Shofa, bersama 1 orang lainnya yang juga seringkali menjadi sasaran bully siswa lainnya. Namanya Farinka. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja, ada seorang kakak kelas yang berasal dari kota tempatku berasal yang tiba-tiba datang dan memakiku. Katanya aku hanyalah sampah bau, bahwa keberadaanku hanyalah pengganggu bagi yang lainnya. Aku diam saja. Mencoba untuk tidak menanggapi meski hatiku rasanya sakit sekali. Tiba-tiba sosok itu menarikku, menyeretku keluar kamar, juga melemparkan baju-bajuku. Aku kembali di maki habis-habisan. Dan aku hanya bisa menangis tertahan sembari memunguti baju-bajuku yang dilemparkannya ke lantai.

Benar, saat masih usia SMP-SMA, hampir setiap hari aku menerima bullying, terutama terkait fisikku. Itulah salah satu masa terberat dalam hidupku dimana aku menangis setiap harinya. Pura-pura ke kamar mandi untuk buang air kecil, padahal disana aku menangis sejadi-jadinya. Lalu kembali muncul dengan wajah pura-pura tampak bahagia. Apalagi saat itu aku bersekolah di sekolah asrama sehingga baik di sekolah ataupun di asrama, aku terus menerus menemui bullying yang seolah tidak ada habisnya : mulai dari sematan ‘BIBIR NDOBLEH’ untuk menghina bibir tebalku, ‘GIGI NDONGOS’ untuk merendahkan gigi tonggos-ku yang mungkin tidak seindah miliknya, juga sematan-sematan menyakitkan lainnya. Bahkan ada juga adik kelasku yang cantik jelita, mulus kulitnya, tega memanggilku dengan sebutan ‘Mbak Ndongos’.

Sayangnya, ada juga oknum guru berwajah khas Arab yang justru ikut andil dalam membully-ku :

“Kalau tertawa itu ditutup. Kasian yang lihat gigi ndongosmu nanti ketakutan,”

Begitu kata salah satu guruku waktu itu dan seisi kelas tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Sedangkan aku? Allahu Rabbi, sakit sekali rasanya. Belum lagi saat aku terus menerus diolok-olok dijodoh-jodohkan dengan teman laki-laki yang kebetulan giginya juga kurang sempurna seperti yang lainnya (saat ini aku tidak tahu bagaimana kabarnya tapi semoga Allah selalu merahmatinya). Bahkan salah satu kakak kelas pernah melakukannya di depan umum, di depan ratusan siswa sehingga seisi asrama, putra dan putri semua tertawa terbahak-bahak, tertawa bahagia tanpa sedikitpun merasa iba pada apa yang kurasa. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menangis, meski pada akhirnya ia meminta maaf.
___________________

Hari Selasa, saat kelas 2 SMP, saat berjalan menuju kelas untuk acara pidato 2 bahasa.

Aku memiliki tanda lahir di daerah sekitar mata di sebelah kiri yang membuatku terlihat seperti habis terjatuh/dipukul. Aku ingat betul, saat itu, salah satu teman sekelasku, salah satu anak cantik, gaul dan populer saat kelas 2 SMP dulu mendadak berteriak-teriak ketakutan saat aku sejenak melepas kacamataku. Dia terus menutupi wajahnya dan memeluk teman lainnya sambil terus berteriak ketakutan. Aku jadi salah tingkah dan buru-buru memakai kacamata. Apa yang terjadi kemudian? Dia dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan saat itu aku sadar, dia hanya pura-pura ketakutan untuk meledekku. Saat itu aku tidak bisa apa-apa, hanya bisa berjalan menunduk sambil meneteskan airmata dan bertanya-tanya :

“Semengerikan itukah fisik-ku?” 😭

Dan mereka melakukan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali tiap aku tidak memakai kacamata!

Dan perlakuan semena-mena ini tak berhenti sampai disitu. Hanya karena akulah yang paling menjadi sasaran empuk bully, saat ada yang kehilangan barangnya, akulah yang seringkali menjadi sosok pesakitan yang dituduh melakukannya. Namun saat aku kehilangan uang yang sedianya untuk membayar SPPku, tak ada yang menanggapi saat aku melaporkannya. Laporanku hanya dianggap sebagai dusta. Bahkan kakak senior yang merupakan siswi asal Purbalingga, yang menjadi pembimbing kamarku dengan keras melarangku untuk tak melaporkan kejadian itu. Takut nama seluruh anggota kamar menjadi jelek. Lagi-lagi, aku hanya bisa menangis karenanya.

Bahkan pernah saat aku tengah dekat dengan salah satu kakak kelas yang berada di 3 angkatan di atasku (dekat layaknya adik kakak, layaknya sahabat saja, bukan dekat lantaran ada cinta), lalu beberapakali aku bertukar surat motivasi dengannya, aku disidang oleh pengurus OPPMA (semacam OSIS). Memang, aku melanggar aturan asrama dengan bertukar surat dengan lawan jenis. Aku sepenuhnya sadar itu dan aku menerima jika memang harus dihukum karena itu. Tapi yang membuatku sedih, saat mereka menyidangku, mereka bukannya menyalahkan pelanggaranku, melainkan menghinaku bahwa sosok sepertiku, sosok sejelek diriku tak pantas dekat dengan kakak kelas populer seperti kakak kelasku itu.

Sakit, sakit sekali rasanya. Sebab itu semua terjadi bertahun-tahun lamanya. Bahkan saat Desember lalu ada reuni akbar untuk semua alumni, aku menangis haru saat group paduan suara menyanyikan lagu hymne sekolahku. Bukan, aku menangis bukan karena terhanyut dalam lagu itu. Tapi lantaran kembali teringat masa-masa menyakitkan yang kualami saat itu.

Perih, bagai tertusuk duri sembilu. Dan sebuah sumur di pojokan, di samping jemuran itu pernah menjadi saksi betapa sudah tak kuasa hatiku menahan semua itu. Aku sempat menatap nanar ke dalam sumur, berfikir untuk meloncat saja ke dalam sana agar penderitaanku berakhir dengan segera. Namun untungnya seseorang mengagetkanku, seorang adik kelas asal Pekalongan yang tetiba menyapaku, bertanya sedang apa diriku. Sapaan yang membuatku mengurungkan niatku. Terimakasih ya, Dek Laela Prahesti . Mungkin dirimu sudah lupa. Tapi sapaanmu saat itu menyelamatkanku.
__________________

Bertahun-tahun hidup penuh bully dan caci, membuatku kehilangan kepercayaan diri jika sudah menyangkut fisik, bahkan sampai saat ini. Meski sejak S1 dulu, bully dan caci maki sudah sangat drastis berkurang dan meski semenjak disini, tidak pernah lagi ada yang membully.

Saat hendak bertemu calon suami untuk pertama kalinya setelah beliau menyatakan tertarik denganku dan ingin bertemu, entah berapa kali aku bolak-balik berganti baju, entah berapa jam lamanya aku berada di depan cermin : hanya karena bully dan caci yang pernah aku peroleh dahulu kembali terngiang dan aku takut lelaki ini akan lari ketakutan dan tidak mau melanjutkan proses setelah bertemu dan melihat fisikku secara langsung. Tapi alhamdulillaah, yang aku takutkan tidak pernah terjadi.
___________________

Ryukoku University, Kyoto, saat konferensi international, Juni 2016.

Namanya Rod Ellis. Profesor Rod Ellis. Selama ini aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya saja, lewat teorinya, lewat risetnya. Sebab mahasiswa jurusan TESOL pastilah bersahabat dengan tulisannya. Dengan wajah tertutup masker, aku duduk di pojokan. Menunggu kedatangan Prof. Ellis. Benar, aku memang sengaja menutup wajahku. Saat itu wajahku hancur sekali. 2 gigi depan patah, bibir bengkak berdarah, wajahku biru lebam, lantaran sehari sebelumnya aku mengalami kecelakaan yang membuat wajahku mencium kerasnya aspal. Sebetulnya, giliranku untuk mempresentasikan paperku masih besok. Tapi aku memaksakan diri untuk datang hari itu demi bertemu langsung Prof. Rod Ellis.

“Why do you cover your face?” sebuah suara mengagetkanku. Ya Tuhan! Itu suara Prof. Ellis. Tiba-tiba saja dia sudah berada di sebelahku.

Dengan sedikit gugup, aku menjelaskan padanya. Tahu apa yang dikatakannya?

“Tidak perlu menutup wajah seperti itu karena disini, tidak akan ada orang yang akan meledek wajahmu.”

Bahkan sang Profesor tiba-tiba memanggil seseorang dari Oxford University Press dan memintanya untuk memfotokan kami berdua, di saat yang lainnya ingin berfoto bersamanya namun ditolaknya dengan alasan ia masih lelah.

Perlakuan yang sama juga kudapat dari peserta konferensi lainnya, agar aku tak menutup wajahku, agar aku tak minder dan merasa malu dengan kondisi wajahku kala itu.

Saat mendengar kabar aku terjatuh sehingga menyebabkan dua gigiku patah, banyak sekali pesan yang kuterima dari teman-teman sekampus menanyakan keadaanku. Mereka kira aku bercanda saat aku bilang :

“kalian akan takut melihat wajahku nanti.”

Dan benar, saat aku kembali ke Bristol, aku sempat malu untuk bertemu teman-teman ‘nongkrong’ ku. Lagi lagi, karena memang bully dan caci maki bertahun tahun lalu itu benar benar menurunkan rasa percaya diriku. Tahu apa yang mereka katakan?

” We don’t care. Even if you don’t have teeth anyomore, you are still our lovely Mimi that we know.”

Jawaban yang membuat keharuan menyelimutiku.
____________________

Sainsburry, Queens Road, Bristol, 2016.

Sebelum pulang ke Chantry Court selepas aku selesai belajar di Beacon Study House, aku menyempatkan diri untuk belanja beberapa keperluan di Sainsburry.

Tiba-tiba ada seorang perempuan mendekatiku, meminta maaf dan bertanya apakah aku baik-baik saja setelah melihat ada tanda biru di wajah sebelah kiriku (tanda lahirku). Saat aku bilang saya baik-baik saja dan itu hanya tanda lahir, perempuan berambut pirang ini berkali-kali minta maaf. Dia bilang dia sama sekali tidak ada maksud menyinggung. Dia hanya takut aku habis terjatuh atau dipukul sehingga meski tidak kenal, dia memberanikan diri untuk bertanya apakah aku baik-baik saja, membuatku diselimuti rasa haru karena kembali teringat apa yang dilakukan teman-temanku dulu saat melihat tanda lahir ini. Bisa dirasakan, kan, apa bedanya perlakuan yang kudapatkan disini dan disana?
__________________

Kawan, siapapun yang membaca kisah ini, aku
hanya ingin kita semua berhenti menjadikan keadaan fisik seseorang sebagai bahan hinaan, walaupun maksudnya mungkin hanya sebagai bahan candaan. Sebab bisa jadi di depan kita ia ikut tertawa, sedangkan di saat sendirian, ia menangis sejadi-jadinya.

Sebab memang hinaan itu tajam laksana pedang. Sekali tertancap, akan terus ada bekasnya. Contohnya aku. Hingga detik inipun aku masih ingat siapa saja yang saat itu tidak pernah berhenti membully fisikku, kapan kejadiannya dan apa yang dikatakannya. Meski aku sudah memaafkan, namun semua masih terekam jelas dalam ingatan. Ah, bahkan ingin rasanya aku berkomentar : “tapi ayahmu lupa mendidikmu untuk tidak membully temanmu” saat melihat salah satu yang dulu pernah begitu membully-ku menuliskan tentang betapa hebatnya ayahnya mendidiknya. Namun aku urung melakukannya. Dan karena pengalaman ini pula, aku menjadi sangat sensitif jika ada orang yang berani membuat keadaan fisik seseorang sebagai bahan candaan.

Sungguh, tidak mudah bagiku hingga akhirnya aku bisa berdiri tegak untuk percaya diri seperti ini, menutup mata, telinga, dan terus melangkah tanpa menghiraukan apapun yang orang katakan tentangku. Bahkan butuh bertahun-tahun untukku berani berfoto dengan senyum menampakkan gigi seperti ini 😊

Memang, pada akhirnya aku berhasil survive. Aku berhasil melampiaskan kesedihanku pada hal-hal positif, menjadikan hinaan dan caci maki tanpa henti itu sebagai motivasi untukku bangkit dan melompat lebih tinggi. Tapi tidak semua korban bullying bisa begini, tidak semuanya bisa bertahan, terutama jika dirasa perlakuan yang ia terima sudah teramat keterlaluan. Browsing saja. Ada banyak korban bully yang akhirnya bunuh diri lantaran tidak kuat setiap hari menghadapi bully 😦

Ingat bahwa bully dan cacimu tidak hanya akan menyakiti hati, namun juga mempengaruhi keadaan psikis orang yang engkau caci.

So please, berhentilah membully!
__________________
Ditulis dengan penuh linangan airmata, saat tetiba ingat seluruh rasa sakit yang kurasa. Kembali menuliskan tentang ini lantaran kenangan pahit yang kembali menjelma setelah tak sengaja melihat seseorang mengupload foto seseorang dan menjadikannya bahan hinaan dan canda tawa.

Pesan cinta dari korban bully yang lambat laun mampu membangkitkan kepercayaan dirinya kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s