Islam

Hikayat Karung Bocor

Posted on Updated on

Oleh : Hersubeno Arief
Konsultan Media dan Politik

Pernah dengar atau setidaknya membaca “Hikayat karung bocor?” Cerita ini berkisah tentang orang pandir yang sangat rajin menabung beras di karung. Dia bercita-cita menjadi orang kaya yang mempunyai beras segudang.

Setiap hari, selama bertahun-tahun dia mengisi karung tersebut dan menduga sudah menjadi orang kaya. Suatu saat ketika dia membuka karung-karung tersebut, ternyata tak sebutir beraspun yang dia temukan. Karungnya bocor.

Hikayat ini mengingatkan kita pada hubungan Presiden Jokowi dengan umat Islam. Bedanya Presiden Jokowi tentu bukanlah “si pandir.” Seorang Presiden adalah manusia pilih tanding, manusia istimewa. Hanya saja namanya manusia, tentu punya khilaf dan alpa.

Di satu sisi Presiden tampak berjuang keras memenangkan hati pemilih Islam. Namun di sisi lain berbagai kebijakannya banyak yang tidak menguntungkan, atau bahkan malah terkesan memusuhi Islam.

Pasca Pilkada DKI hubungan Jokowi dengan umat Islam mengalami titik terendah. Dukungannya terhadap Ahok membuat Jokowi berhadapan dengan sebagian besar umat Islam.

Menyadari posisinya yang tidak menguntungkan, Jokowi segera bergerilya ke berbagai pondok pesantren dan kantong-kantong pemilih Islam. Dia menebar sejumlah bantuan, terutama di kantung-kantung warga Nahdlatul Ulama (NU).

Jokowi juga berkunjung ke pesantren-pesantren di kawasan Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat yang menjadi ikon perlawanan terhadap rezim pemerintah dalam Aksi Bela Islam 212.

Puncaknya Jokowi bertemu dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) di Istana Merdeka.
Pertemuan dengan GNPF banyak diartikan sebagai isyarat rekonsiliasi pemerintahan Jokowi dengan umat Islam.

Jokowi tampaknya ingin memperbaiki relasinya dengan umat Islam. Pilpres 2019 semakin mendekat. Sebagai pemilih terbesar, suara umat Islam harus dimenangkannya bila ingin kembali memperpanjang jabatannya sebagai Presiden.

*Namun belum lagi “luka’ lama itu tersembuhkan, Jokowi kembali menoreh luka baru yang lebih dalam.*

Jokowi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 2 Tahun 2017 yang mengatur kewenangan pemerintah melakukan pembubaran Ormas yang dinilai radikal dan bertentangan dengan Pancasila. Perppu ini dimaksudkan sebagai jalur singkat pemerintah untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Perppu tersebut kian membuka tabir bagaimana sesungguhnya sikap pemerintahan Jokowi terhadap umat Islam.

Jauh-jauh hari langkah Jokowi sebenarnya sudah terbaca. Rencana pembubaran HTI hanyalah langkah awal untuk membubarkan berbagai Ormas Islam yang dianggap selalu menjadi batu sandungan bagi pemerintah. Salah satu target utamanya adalah Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin Habib Rizieq Shihab.

Habib Rizieq adalah Imam besar FPI. Dia juga menjadi Ketua Dewan Pembina GNPF MUI, sekaligus menjadi ikon perlawanan terhadap pemerintah melalui berbagai Aksi Bela Islam.

HTI hanyalah upaya Jokowi menjajaki seberapa “panasnya air.” Bila tidak terlalu panas, maka mereka akan bergerak menuju sasaran yang lebih besar lagi. Namun “panasnya air” berupa reaksi keras penolakan rencana pembubaran HTI ternyata tidak membuat Jokowi melangkah surut.

*Jokowi mengeluarkan senjata pamungkas untuk mengakhiri perlawanan. _The show must go on._*

Lahirlah Perppu kontroversial yang dinilai banyak kalangan, termasuk pakar, lembaga dan perguruan tinggi yang selama ini mendukung Jokowi, sebagai peraturan yang berpotensi melanggar HAM dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Perppu yang bisa mengubah Jokowi dari seorang Presiden yang terpilih secara demokratis, menjadi diktator yang bisa dengan sewenang-wenang mengabaikan prinsip-prinsip sebuah negara demokratis yang selalu mengedepankan pendekatan hukum.

Pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra bahkan menilai Perppu Ormas, lebih kejam dibandingkan UU yang pernah ada pada pemerintahan Belanda, Orde Lama maupun Orde Baru.

Dalam kosmologi Jawa, Jokowi kini telah menjelma menjadi raja, penguasa yang melengkapi diri dengan ajian *_Idu Geni._* Ludah api! Siapapun yang terkena ludahnya, ucapannya, bakal mati. Sungguh sangat sakti.

Bayangkan, dengan hanya perintah lisan dari Presiden, Mendagri maupun Menkumham bisa membubarkan Ormas yang dianggap bertentangan dengan Pancasila dan para pengikutnya bisa dipenjara.

Jokowi benar-benar telah menjelma menjadi Presiden paling berkuasa, sepanjang sejarah republik ini berdiri.

*Dengan lahirnya Perppu Ormas, Jokowi tidak hanya sedang menabung di karung bocor, tapi secara sadar dia juga ikut melubangi karung tersebut. Jadi jangan kaget ketika karung tersebut dibuka pada Pilpres 2019, isinya bisa kosong melompong.*

*Pilkada DKI Jilid II*

Terbitnya Perppu Ormas ini membuat hubungan Jokowi dengan umat Islam kembali ke titik terendah seperti ketika berlangsung Pilkada DKI, bahkan lebih parah.

Jokowi kini tidak lagi hanya berhadapan langsung dengan umat Islam, namun juga berhadapan dengan elemen-elemen pembela demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).

Dalam Pilkada DKI Jokowi bisa _ngeles_ dan menyatakan tidak mendukung Ahok yang menistakan agama. Kini semuanya terang benderang. Jokowi tidak bisa mengelak. Perppu Ormas adalah produk pemerintahannya.

*Inilah wajah sesungguhnya Jokowi terhadap umat Islam. Wajah yang tidak bersahabat. Taringnya telah keluar. Wajah yang sebenarnya sudah mulai dinampakkan ketika membuat sebuah dikotomi “Saya Pancasila” dan mencoba membuat stigma “Kamu bukan Pancasila!”*

Jokowi tidak lagi bisa mengelak bahwa label, stigma umat Islam adalah kelompok intoleran, anti NKRI, anti Pancasila dan berbagai label buruk lainnya adalah desain besar dan kebijakan yang dirancang oleh pemerintahannya.

Lahirnya Perppu Ormas adalah Pilkada DKI Jilid II dengan varian yang lebih buruk. Polarisasi di kalangan kubu pembela dan penentang Jokowi kembali menguat dan menegang. Perang di sosial media maupun polemik dan perdebatan di media massa kembali berkecamuk.

Pembelahan di tengah masyarakat dan parpol juga sangat jelas. Hanya saja kubu penentang Jokowi di kalangan umat Islam dan kelompok-kelompok masyarakat madani _(civil society)_makin besar.

Untuk pertamakalinya Jokowi juga harus berhadapan dengan komunitas internasional yang mengkhawatirkan Indonesia terjerumus menjadi negara diktator yang anti demokrasi dan melanggar HAM.

Pemerintah didukung oleh parpol pendukung pemerintah, PDIP, Golkar, PKB, PPP dan Hanura berhadapan dengan PKS, Gerindra, Demokrat dan PAN yang kembali membelot.

Keberadaan PAN di kabinet dipastikan hanya seumur jagung. Satu-satunya kursi menteri PAN di kabinet, yakni Menpan dan Reformasi Birokrasi dipastikan akan dicopot dalam reshufle jilid IV yang akan segera dilaksanakan Jokowi.

Melihat peta kekuatan partai-partai pendukung Jokowi, hampir dapat dipastikan Perppu tersebut akan disetujui oleh DPR. Kecuali bila akal sehat para anggota dewan kembali berfungsi. Kita akan menyaksikan drama-drama pemecatan anggota DPR dari fraksi pemerintah, bila mereka berani melawan kehendak Jokowi.

Sungguh ironis ketika partai-partai Islam seperti PKB dan PPP tidak hanya menjadi penyokong penista agama, tetapi kini juga menjadi partai penyokong Perppu yang akan memberangus Ormas Islam.

*Perlawanan dan gerakan boikot terhadap partai penyokong Perppu kini kembali bergema dan ini bisa menjadi “karung bocor” tidak hanya bagi Jokowi, tapi juga bagi partai-partai penyokongnya.*end

​FALLACY OF CIRCULAR ARGUMENT

Posted on

FALLACY OF CIRCULAR ARGUMENT

(c) Fahmi Amhar
FCA itu menarik konklusi dari sebuah premis lalu konklusi itu jadi premis dan premisnya jadi konklusi. Misalnya “Agamaku yang paling benar karena begitu kata Tuhanku seperti yang tertulis dalam kitab suciku. Dan kitab suciku pasti benar karena Tuhanku yang mengatakannya seperti tertulis dalam kitab suciku.”.
FCA itu tidak islami.  Dan aqidah Islam bukan dogma atau doktrin bermetodologi FCA.  Islam bukan benar karena “Qur’an mengatakan Islam agama paling benar.  Dan Qur’an benar karena dia kitab suci umat Islam”.  Tidak.  
Orang hanya akan kuat aqidah Islamnya, kalau dasar aqidahnya, yaitu keyakinan bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah” itu berdasarkan rasionalitas yang kokoh.
Yang saya maksud di sini adalah dasar aqidah.  Kalau aqidah seperti berbagai sifat Allah, keberadaan malaikat, kitab-kitab terdahulu, nabi-nabi terdahulu, hari kiamat (juga surga & neraka) serta qadha-qadar, itu jelas sumbernya Qur’an, tidak perlu rasionalitas.  Hanya orang muktazilah yang ingin semua rasional.
Tetapi dasar aqidah yang mengantarkan ke syahadat, wajib rasional.  Karena hanya ini yang dimiliki semua manusia yang sehat akalnya.  
Sampai pada titik bahwa “di balik alam semesta ini ada Dzat Yang Maha Mengatur, dan itu pasti juga Dzat Yang Maha Pencipta, dan itu pasti berbeda dengan semua mahluk, dan itu pasti Esa”, ini bisa dicapai secara rasional.  Inilah Tuhan.
Namun sekedar percaya pada  Tuhan seperti itu, belum cukup.  Kita belum tahu, apa maksud Tuhan menciptakan kita di dunia, apa tugas kita di dunia, bagaimana kita seharusnya hidup di dunia, dan kemana kita setelah mati”, itu Tuhan harus menyampaikan pada kita.  Pakai cara apa?  Dia harus mengirim manusia sebagai utusan yang membawa bukti yang pasti hanya Tuhan yang bisa bikin.  Bukti itu tidak boleh bisa direkayasa manusia.
Ternyata Qur’an memiliki bukti seperti itu.  Dari segi sastrawi, struktur dan juga kandungan yang baru bisa diketahui manusia abad-20/21.  Mustahil seorang Muhammad di abad-7 bisa mengetahuinya.  
Dan karena Qur’an adalah bukti kenabian Muhammad, maka selebihnya Qur’an menjadi acuan hidup kita.  Dari Qur’an juga, Sunnah menemukan dasarnya.  Ijma’ shahabat (Muhajirin & Anshar) menemukan dasarnya.  Dari Sunnah dan Ijma’ shahabat, baik taqlid dan ijtihad menemukan dasarnya.
Jadi islam adalah ajaran yang amat rasional, bukan FCA.

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*

Posted on

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*

Pada zaman pemerintahan *Khalifah Syaidina Umar bin Khatab*, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah *Jenderal Khalid bin Walid*.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, _”Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.”_ Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai *Pedang Allah yang Terhunus*.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah *Khalid bin Walid*, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, _”Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”_

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, _”Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”_

_”Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!”_ Jawab Khalifah.

_”Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”_

_”Kamu tidak punya kesalahan.”_

_”Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”_

_”Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”_

_”Lalu kenapa saya dipecat?”_ tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, _”Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”_.

_”Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”_

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, _”Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”_

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, ‘kegagalan’ atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat…..bahkan hingga yang paling ekstrim…. Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, _”Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”_

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, _”Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”_

*****
Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, *”Pedang Allah yg Terhunus”*

_Patut direnungkan dan di hayati. Semoga bermafaat_
******************************************

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN

Posted on

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN
Oleh: Mardigu Wowiek Prasetyo

Berdiskusi dengan seorang bule yang tinggal di top floor Pakubuwono Residence selama 2 bulan hanya untuk mempelajari ekonomi Indonesia. Setelah itu, rencananya ia akan berangkat ke Mumbay dan katanya dia berencana tinggal di India juga selama 2 bulan untuk mempelajari ekonomi Negara India. Pembicaraan kami berdua cukup intense dan “menegangkan”.

Usianya 65 tahun, kebangsaan Amerika, ras Yahudi. Sebuah spesifikasi SARA yang bagi sebagian “pegiat agama”, dia bisa di ketagorikan “public enemy number one”. Atau bagi “pegiat agama” yang senangnya mencari perbedaan, spesifikasi dia masuk object penderita yang layak di bully.

Tetapi begitu kenal dia, dia seorang parenialist, seorang pluralist, universalist dan economist sejati. Di Amerika dia juga bukan orang yang di sukai semua orang. Dia seorang financial economics, dari kampus ternama Ivy League.

Di Indonesia dia mengumpulkan data, SUN surat hutang Negara kemana saja dan siapa yang ambil, hutang korporasi kemana saja, export import Indonesia, arus keluar masuk barang. Semua di petakan di “mapping”. Dia tahu kelemahan dan kekuatan data terakhir Indonesia. Kegiatannya ini sebenarnya termasuk kategori inteligen ekonomi (economic intelligent).

Sayangnya data ini tidak bisa dilarang. Tidak ada hal/data yang di langgar olehnya. Tidak ada rahasia Negara yang dicurinya. Dia hanya mengumpulkan data publik dan data Negara dengan cara berbeda dengan BPS. Dia juga tidak ABS asal bapak senang. Bahkan dia menganalisa setiap pejabat Indonesia yang memberikan jumpa pers. Dia tahu sekali ini misalnya menteri anu pinter tuh dia tahu masalah atau pejabat anu tahu hanya kulit-kulitnya, atau pemimpin anu dia nggak tahu sama sekali.

Dari setiap perkataan dan kalimat dia analisa pemilihan kata-katanya, mimiknya, gerak tubuhnya, timingnya, konten isi informasinya, arah pembicara, semua ada arti baginya, sang financial economic ini. Dia tidak membaca Koran yang diam/statis, dia melihat video atau tayangan yang reporter (asing) rekam. Oiya catatan, hampir 80% wartawan asing dekat dengan dunia intelijen.

Lalu dia berkata, your country is in bad shape!

Saya bertanya, any proof sir?

I tell you just one, dia berkata yang saya terjemahkan : jika pada bulan Agustus nanti PLN surat hutangnya jatuh tempo, saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta di perpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?

Saya berkata, PLN default ? bangkrut?

Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?

Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF? Saya bertanya

You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!

Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.

Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.

Dia tertawa tergelak-gelak. Presdiennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya.

Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.

Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya.

Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.

Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), menarik lagi 6 milyar dolar.

Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia.

What are you gonna do? Saya bertanya.

Dia hanya menaikan dua pundaknya sambil tersenyum. Bukan saya lho yang buat negara ini “not in good shape”. Saya hanya lihat peluang. Saya tunggu Oktober, will see what Indonesian’s government can do, katanya kemudian. #peace

MENGHORMATI NU DENGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

Posted on

MENGHORMATI NU DENGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

(c) Husain Matla

Saat ini perjuangan menegakkan khilafah di Indonesia memang sedang menghadapi ujian. Di antaranya adalah tidak disetujui sebagian saudara kita, seperti para pengurus struktural Nahdlatul Ulama (NU). Saya katakan “pengurus struktural” karena memang tidak semua NU demikian. KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan para kyai yang dekat dengan KH. Hasyim Muzadi (almarhum) tidak nampak memberikan dukungan terhadap KH. Said Aqil Siradj, ketua tanfidziyah NU sekarang.

Alasan yang dipakai kalangan struktural NU adalah bahwa NKRI itu membentuknya susah. Dulunya Nusantara ini terdiri dari banyak kerajaan. Dan sekarang sudah segedhe ini dan dalam kondisi bersatu dan sedang membangun. Eman-eman kalau sampai goncang apalagi bubar. Juga dinyatakan bahwa mempertahankan negara ini dulunya juga susah. Berdarah-darah. Sampai terjadi Resolusi Jihad yang menghasilkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Bung Tomo bisa leluasa memimpin para pejuang setelah mendapat fatwa jihad dari para kyai. “Kami berdarah-darah mendirikan Indonesia ini, jangan sampai negara besar ini bubar. Bukan hanya kaum nasionalis saja yang punya andil memperjuanglkan negara ini, tetapi juga kami. Jadi, tolong hargai !!!” Begitu kira-kira harapannya.

Kita tentu saja sangat bisa memahami dan menghormati alasan beliau-beliau itu. Namun justru karena menghormati itu kita seharusnya semakin giat dan “ngotot” untuk memperjuangkan khilafah.

Mengapa?

Karena para kyai NU, paling tidak melalui jaringan pesantren (karena yang struktural saya belum meneliti pandangan dan sikap mereka) ketika zaman awal abad XX juga bersikap seperti para pejuang khilafah sekarang ini. Yaitu ketika mereka menyertai HOS. Tjokroaminoto berusaha membangun pandangan baru atas masa depan Nusantara. Yang akhirnya berubah menjadi seruan merdeka.

Apakah sikap semacam itu gampang?

Sama sekali tidak gampang. Berbagai badai dan halilintar menghadang. Seperti sikap kalangan feodalis yang justru memihak pemerintahan kolonial Belanda. Banyak sekali mereka itu, terutama berbagai bangsawan kerajaan yang menjadi sekiutu Belanda. Kalau kita mau membuka lembar-lembar sejarah, banyak sekali mereka. Seperti para bangsawan Mangkoenegaran Solo, Adipati Sumedang, RM. Sosrokartono (kakak RA. Kartini) dll. Bahkan kalangan Mangkoenegaran berpendapat bahwa bangsa-bangsa pribumi Nusantara dan bangsa Belanda tidak bisa dipisahkan. Satunya menjalani pelaksanaan berbagai program, satunya mengarahkan program. Jika sampai berpisah, keduanya rugi. Satunya kurang tenaga, satunya kurang pemikir. Keduanya akan sama-sama menuju kemuduran. Begitu pandangan pro Belanda itu. Sepertinya logis ya. Sepertinya… kayaknya…. (seperti pandangan kontra khilafah sekarang yang sepertinya kayak logis). Sungguhpun berbagai alasan itu akhirnya mendapat alsan penyanggahan dan perlawanan dengan pengorbanan luar biasa dari HOS Tjokroaminoto beserta para muridnya .

Saya katakana mereka “sekutu Belanda” bukan “bawahan Belanda”. Karena Belanda menjajah Nusantara itu dengan system semacam waralaba. Mereka hanya mengambil kekuasaan dalam jenis tertentu (sebagaimana pengwaralaba), sementara para raja Nusantara memegang jenis kekuasaan lain yang lebih operasional (sebagaimana pewaralaba) [jadi memang bisa dipahami alasan Mangkoenegaran tadi]. Selain itu, raja-raja Nusantara juga mengerahkan pasukan untuk membantu Belanda dalam rangka menakhlukkan kerajaan-kerajaan lain yang belum tertakhlukkan seperti Aceh, Minangkabau dan Tapanuli.

Jadi mereka juga punya andil besar terhadap keberhasilan Belanda di Nusantara. Mereka, para bangsawan itu, bisa saja mengatakan, “Kami berdarah-darah mendirikan Hindia Belanda ini, jangan sampai negara besar ini bubar. Bukan hanya Belanda saja yang punya andil merintis negara ini, tetapi juga kami. Jadi, tolong hargai.” Begitu kira-kira seandainya diucapkan.

Lalu, jika sikap penentang kemerdekaan dulu itu sama dengan sikap para penentang khilafah di masa sekarang, lalu apakah di masa sebelumnya ketika mereka ikut membangun Hindia Belanda, mereka juga menentang para pendahulu mereka?

Kenyataannya bukan demikian. Mereka adalah keturunan para raja atau sultan yang gagah berani melawan Belanda seperti Sultan Agung hanyokrokusumo dan Sultan Ageng Tirtayasa. Yang kemudian setelah itu dikalahkan Belanda. Dalam sejarah mereka juga begitu menyanjung para leluhur mereka itu. Mereka sampai-sampai mencari banyak alasan mengapa mereka tak segagah dan semulia para pendahulu mereka. Seperti alas an takdir (sebagaimana di buku Babad Tanah Jawi). Bahwa jaman kakek mereka memang ditakdirkan jaman gagah, sementara jaman mereka ditakdirkan sebagai jaman pengecut.

Artinya apa dari fenomena itu? Ketika bangsawan itu menyanjung para leluhur mereka, tetapi para penerus mereka mencela mereka?

Artinya, tak bisa kita tafsirkan lain, bahwa zaman mereka adalah paling buruk dibanding sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya merdeka, di masa mereka terjajah, dan sesudahnya merdeka lagi. Dan berikiutnya ingin lebih merdeka lagi.

Ini berarti setelah masa paling buruk itu yang dilakukan adalah seruan dan langkah untuk lebih baik lagi dan terus lebih baik lagi. Perbaikan terus menerus yang semakin mendekati arah ideal. Sebelumnya terjajah, berikutnya lebih merdeka, berikutnya semakin kuat kemerdekaannya.

Kesimpulannya bisa kita tajamkan: sebelumnya dijajah dengan pemerintahan Belanda dan hukum Belanda. Setelah merdeka sudah bebas dari pemerintahan Belanda tetapi masih menggunakan hukum-hukum Belanda (dan juga hukum Inggris dan Amerika). Tentu berikutnya yang kita harapkan adalah bebas dari pemerintahan Belanda sekaligus bebas dari hukum Belanda (dan hukum Barat lainnya).

Bagi kita umat Islam, kita simpulkan: semula bukan pemerintahan oleh umat Islam dan bukan dari hukum Islam. Beikutnya sudah berhasil dikuasai oleh umat Islam, tetapi masih menggunakan hukum bukan Islam. Idealnya nanti, pemerintahan oleh umat Islam berdasarkan hukum Islam.

Kondisi ideal inilah yeng benar-benar bisa menjadikan manusia bebas, terbebas dari penindasan manusia lain (exploitation de l’homme par l’homme). Saat itu manusia benar-benar setara dan merdeka karena ketundukan mereka hanya kepada Allah SWT.

Kondisi demikian inilah, yang bisa diwujudkan dengan pemerintahan oleh umat Islam berdasar hukum Islam, yang disebut khilafah. Saat itu umat Islam hidup berdasar syariat Islam, berada dalam ukhuwah Islamiyah, dan lebih d ari itu, bahkan bisa mendakwahkan Islam ke berbagai pihak. Bahkan umat lain pun tak perlu takut karena syariat Islam juga membebaskan mereka dari penindasan saudara-saudara mereka sendiri.

Ini sebagaimana disampaikan seorang ulama, Rowas Qal Ahji, mengutip Imam Mawardi, “Tanpa Khilafah, orang-orang kuat kita akan memakan orang-orang lemah kita.”

Jadi, seruan khilafah adalah lanjutan seruan merdeka. Seruan khilafah adalah estafet dari seruan merdeka. Seruan khilafah adalah agar merdeka sebenar-benarnya. Merdeka hakiki. Ketika ketundukan hanya kepada Allah SWT.

Justru kami menghargai kalau para penyeru kemerdekaan itu sekarang mulai merasa capai, estafet perjuangan itu diberikan kepada kami. Kami sepenuhnya akan menghargai dan menghormati anda dengan meneruskan perjuangan anda. Kami akan mengingat semangat, perjuangan, dan pengorbanan anda, ketika anda mendapat kecaman dari para bangsawan pro Belanda. Kami tidak ingin anda justru bertindak sebagaimana mereka. Sikap mereka yang membela Belanda dan menindas anda begitu memuakkan anda. Kami mungkin belum apa-apa dbanding perjuangan bertaruh nyawa dan harta dari anda di Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Justru karena itu kami ingin menyerap sepenuhnya spirit anda.

Kami akan meneladani tekad dan keberanian anda di waktu lalu. Ketika anda adalah para ksatria pemberani di tengah badai dan halilintar.

BUKTI HISTORIS KHILAFAH BUKAN IJTIHAD

Posted on Updated on

BUKTI HISTORIS KHILAFAH BUKAN IJTIHAD

(c) Husain matla

1. Sampai akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, negara sudah sangat luas. Mengapa berikutnya Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak berbagi kekuasaan saja dg Muawiyah. Bayangkan, dari Libya smpi Iran. Sekarang trdiri dari 20-an negara.

2. Berikutnya ketika terjadi perang saudara: Abdul Malik bin Marwan vs Abdullah bin Zubair, Marwan bin Muhammad vs Abul Abbas, Al Amin vs Al Makmun, Khumarawaih vs Al Mu’tadhid Billah. Mengapa ujungnya harus integrasi. Bukan bagi dua. Bukankah masing2 amir sudah memegang wilayah lebih besar dr NKRI skrg? Mengapa para ulama mendukung keharusan integrasi? Mengapa tidak seperti pembagian Romawi atau pembagian Jenggala-Panjalu?

3. Mengapa Amir Abdurrahman ad-Dakhil tidak mau menyatakan diri sbg khalifah, padahal sudah memegang penuh wilayah Spanyol Portugis. Mengapa ia membiarkan khalifah Abu Jafar al Manshur sbg khalifah satu2nya padahal kapal2 khilafah Abbasiyah tak sanggup menguasai Spanyol? Ada kesan Umayah di Andalusia (Spanyol-Portigis) cenderung bersikap aman sperti Taiwan skrg. Jika skrg ada prinsip “satu China”, dulu ada “satu khilafah”.

4. Abad XII M, Shalahuddin al Ayyubi mendedikasikan kemenangannya atas Mesir dan Al Quds utk khilafah Abbasiyah (di bawah Khalifah An-Nashr Lid Dinillah). Hal yg sama dilakukan Yusuf bin Tasyfin ketika menakhluklan seluruh Andalusia. Apa sih susahnya mereka berdua menjadikan wilayahnya independen. Kekuatan militer mereka tampaknya di atas Abbasiyah.

5. Bani Buwaih, bani Seljuk, bani Khwarism, bani Ayyub, dan kaum Mamluk dan bani Utsmani senantiasa membaiat khalifah Abbasiyah. Padahal militer khilafah sepenuhnya dlm kendali mereka.

6. Tahun 1517, Khalifah Al Mutawakkil menyerahkan estafet khilafah kepada Sultan Salim I ( bani Utsmani, cucu Muhammad al Fatih). Ini mengakhiri dualisme kepemimpinan di dunia Islam di mana Abbasiyah di Kairo berposisi semacam Bung Karno thn 1966, sementara Utsmani di Konstantinopel seperi Pak Harto. Mengapa tidak membagi dua saja atas kepemimpinan dunia Islam. Bukankah masing2 punya keistimewaan dan.kharisma?

7. Kecuali benteng canggih Konstantinopel, batas wilayah khilafah Umayah dulu adalah alam. Yaitu: Pegunungan Taurus, Samudera Atlantik, Pegunungan Pirennia, Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Gurun Gobi, Pegunungan Indus, Pegunungan Hindu Kush, Samudera Hindia, dan Gurun Sahara. Ini berarti, selain Kekaisaran Romawi, yang sanggup menghentikan umat Islam hanya alam. Selain itu, pasukan Islam terus melaju. Tak ada yang sanggup menghadapi. Mereka juga tak berpikir berhenti. Mengapa demikian?

8. Setelah kehancuran khilafah Utsmani tahun 1924, pada tahun 1925 diadakan konferensi Khilafah di Mesir oleh para ulama besar Islam sebagai ikhtiar mendirikannya kembali. Mengapa harus didirikan kembali?

Dari fakta2 di atas, kira2 POLA PIKIR yg semacam apa yg “mencengkeram” benak mereka semua (tokoh-tokoh terkait di atas) shg harus menjaga integrasi wilayah.?

Apa yg membuat para fuqaha, amir, dan panglima miter dan orang2 hebat lainnya, seperti ” tercuci otaknya” shg tidak berani melangkah pd hal2 baru semisal negara berbasis wilayah atau bangsa sbgmn skrg?

Riba dan Ring Tinju

Posted on Updated on

RIBA DAN RING TINJU

Oleh: H. Dwi Condro Triono, Ph.D
Dalam sebuah acara Islamic Business Coaching (IBC), ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan: “Di dalam sebuah sistem ekonomi seperti sekarang ini, kita sebagai pebisnis muslim, apakah mungkin bisnis kita akan menjadi sukses dan barakah…?”. Untuk menjawabnya, kita dapat membawanya kepada sebuah analogi sederhana. Silakan direnungkan. 

Berbisnis di era sekarang ini, dapat diibaratkan kita masuk ke dalam arena tinju yang sangat besar. Namun, tinju yang dipertandingkan bukan tinju sembarang tinju. Pertandingan tinju yang diselenggarakan adalah pertandingan tinju gaya bebas dan tanpa kelas. Siapapun boleh langsung masuk ring dan boleh langsung bertanding di dalamnya.

Lantas, bagaimana dengan orang Islam yang ingin ikut bertanding di dalamnya? Bagi orang Islam yang ingin ikut bertanding, ternyata terkena aturan yang berasal dari Islam, yaitu: boleh mengikutinya, namun dengan syarat: tidak boleh memukul lawannya. Yang boleh dilakukan hanya satu, yaitu: menghindar dari pukulan lawan. 

Nah, silakan diprediksi sendiri. Mungkinkah pemain Islam akan memenangkan pertandingan? Jawabnya tentu sangat jelas. Secara normal, orang Islam tentu tidak akan pernah bisa memenangkan pertandingan. Jika ada orang Islam yang menang, kemungkinannya hanya dua. Kemungkinan pertama, lawan tandingnya jatuh sendiri karena sakit atau kelelahan. Kemungkinan kedua, orang Islamnya melanggar aturan Islam, yaitu ikut memukul lawannya.

Analogi inilah sesungguhnya yang terjadi dalam percaturan ekonomi di masa sekarang ini. Dalam sistem ekonomi sekarang ini, kita dipersilakan secara bebas untuk mengembangkan bisnisnya. Di dalam sistem ini pula, telah disediakan kebutuhan permodalan yang sangat besar. Semua pebisnis dipersilakan memanfaatkannya, dengan syarat harus mau mengembalikannya ditambah dengan bunga (riba). Maka, siapapun pebisnis yang ingin terus memperbesar perusahaannya, dipersilakan berlomba-lomba untuk menambah modalnya dari memanfaatkan uang di lembaga perbankan tersebut. 

Bagaimana dengan pebisnis muslim? Silakan berbisnis, namun tidak boleh pinjam uang di Bank, karena hukumnya haram. Padahal total asset dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat yang ada di Bank Konvensional sudah mencapai 6000 triliun rupiah. Jika pebisnis muslim diharamkan meminjam uang di bank, lantas siapa yang akan memanfaatkan dana yang super besar jumlahnya tersebut? Silakan dijawab, siapakah yang akan memenangkan pertandingan “tinju” terebut?

Lantas, bagaimana solusinya? Silakan dijawab dengan pemikiran yang jernih. Tawaran solusinya hanya ada dua. Pertama, solusinya adalah dengan membuat ring tinju sendiri, dengan aturan main sendiri. Mulai ring tinju yang kecil-kecilan tidak apa-apa. Yang penting telah berbuat, yang penting telah melakukan “action”…! Solusi kedua, yaitu dengan mengganti aturan main di arena tinju besar tersebut. Diganti dengan apa? Diganti dengan aturan Islam. Mana yang dipilih umat Islam saat ini?

Ternyata, umat Islam sekarang ini lebih memilih solusi pertama, yaitu membuat “ring tinju” sendiri, dengan jalan membangun bank-bank syari’ah sendiri. Bagaimana hasilnya? Setelah berjuang selama kurang lebih 25 tahun, total asset DPK di Bank Syari’ah sudah hampir menyentuh 300 triliun rupiah. Besar atau kecil? Tergantung perbandingannya. Jika dibandingkan dengan total asset DPK di bank konvensional, maka angka itu belum mencapai 5 %-nya. Padahal penduduk muslim di Indonesia mencapai 85 % dari penduduk Indonesia. Artinya, 85 % penduduk muslim Indonesia harus memperebutkan 5 % dari kue permodalan yang disediakan di Indonesia. 

Apakah masih akan dilanjutkan? Ataukah, kita akan melirik kepada solusi kedua? Untuk memilih solusi kedua, ternyata tidak mudah dan tidak sederhana. Kita memerlukan suatu gambaran penataan ekonomi Islam secara menyeluruh atau secara sistemik, untuk menggantikan sistem ekonomi pasar bebas atau kapitalisme.

Bagaimana penataan ekonomi Islam yang sistemik itu? Silakan baca selengkapnya pada buku Ekonomi Islam Madzhab Hamfara Jilid 2: Ekonomi Pasar Syari’ah. Insya Allah, penjelasannya sudah cukup lengkap dan tuntas. Selamat membaca.