Islam

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*

Posted on

*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*

Pada zaman pemerintahan *Khalifah Syaidina Umar bin Khatab*, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah *Jenderal Khalid bin Walid*.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, _”Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.”_ Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai *Pedang Allah yang Terhunus*.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah *Khalid bin Walid*, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, _”Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”_

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, _”Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”_

_”Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!”_ Jawab Khalifah.

_”Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”_

_”Kamu tidak punya kesalahan.”_

_”Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”_

_”Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”_

_”Lalu kenapa saya dipecat?”_ tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, _”Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”_.

_”Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”_

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, _”Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”_

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, ‘kegagalan’ atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat…..bahkan hingga yang paling ekstrim…. Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, _”Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”_

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, _”Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”_

*****
Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, *”Pedang Allah yg Terhunus”*

_Patut direnungkan dan di hayati. Semoga bermafaat_
******************************************

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN

Posted on

PENGAKUAN ECONOMIC HITMAN
Oleh: Mardigu Wowiek Prasetyo

Berdiskusi dengan seorang bule yang tinggal di top floor Pakubuwono Residence selama 2 bulan hanya untuk mempelajari ekonomi Indonesia. Setelah itu, rencananya ia akan berangkat ke Mumbay dan katanya dia berencana tinggal di India juga selama 2 bulan untuk mempelajari ekonomi Negara India. Pembicaraan kami berdua cukup intense dan “menegangkan”.

Usianya 65 tahun, kebangsaan Amerika, ras Yahudi. Sebuah spesifikasi SARA yang bagi sebagian “pegiat agama”, dia bisa di ketagorikan “public enemy number one”. Atau bagi “pegiat agama” yang senangnya mencari perbedaan, spesifikasi dia masuk object penderita yang layak di bully.

Tetapi begitu kenal dia, dia seorang parenialist, seorang pluralist, universalist dan economist sejati. Di Amerika dia juga bukan orang yang di sukai semua orang. Dia seorang financial economics, dari kampus ternama Ivy League.

Di Indonesia dia mengumpulkan data, SUN surat hutang Negara kemana saja dan siapa yang ambil, hutang korporasi kemana saja, export import Indonesia, arus keluar masuk barang. Semua di petakan di “mapping”. Dia tahu kelemahan dan kekuatan data terakhir Indonesia. Kegiatannya ini sebenarnya termasuk kategori inteligen ekonomi (economic intelligent).

Sayangnya data ini tidak bisa dilarang. Tidak ada hal/data yang di langgar olehnya. Tidak ada rahasia Negara yang dicurinya. Dia hanya mengumpulkan data publik dan data Negara dengan cara berbeda dengan BPS. Dia juga tidak ABS asal bapak senang. Bahkan dia menganalisa setiap pejabat Indonesia yang memberikan jumpa pers. Dia tahu sekali ini misalnya menteri anu pinter tuh dia tahu masalah atau pejabat anu tahu hanya kulit-kulitnya, atau pemimpin anu dia nggak tahu sama sekali.

Dari setiap perkataan dan kalimat dia analisa pemilihan kata-katanya, mimiknya, gerak tubuhnya, timingnya, konten isi informasinya, arah pembicara, semua ada arti baginya, sang financial economic ini. Dia tidak membaca Koran yang diam/statis, dia melihat video atau tayangan yang reporter (asing) rekam. Oiya catatan, hampir 80% wartawan asing dekat dengan dunia intelijen.

Lalu dia berkata, your country is in bad shape!

Saya bertanya, any proof sir?

I tell you just one, dia berkata yang saya terjemahkan : jika pada bulan Agustus nanti PLN surat hutangnya jatuh tempo, saya tahu PLN tidak punya “uang”. Pasti minta di perpanjang hutangnya di Wallstreet. Apa yang terjadi kalau “saya” tidak perpanjang hutang tersebut. Saya minta bayar, saat itu juga. Apa yang terjadi dengan PLN?

Saya berkata, PLN default ? bangkrut?

Dia berkata, Indonesia pasien IMF dua bulan kemudian!!!. Kalian kan sudah punya bukti, APP Asia Pulp Papernya Sinarmas. Kami tidak perpanjang hutangnya 14 bilion dollar kira-kira 10 tahunan yang lalu bukan? Kok masih juga di ulang lagi sih?

Hanya PLN bikin Indonesia jadi pasien IMF? Saya bertanya

You want to know the rest State-owned enterprise record? Mau tahu catatat lain BUMN? Semua parah!

Kepala saya terbayang pabrik kertas keluarga Wijaya itu kena “hostile take over” dengan gagal dapat perpanjangan surat hutang atau bond.

Dia melanjutkan, BUMN Indonesia ini lucu, yang dilawan bangsanya sendiri. Harusnya BUMN melawan asing, yang swasta belum tentu kuat atau bahkan tidak kuat sama sekali melawan investor asing. Nah ini BUMN indonesia memakan swasta malah kerja sama dengan asing lagi.

Dia tertawa tergelak-gelak. Presdiennya nggak ngerti sejauh ini efek tindakan kebijakan BUMN anda tadi, well, damage is already done. See what happens in the near future, very near!! Dia masih tergelak di ujung kalimatnya.

Dia melanjutkan, kredit macet di bank 3 besar (pelat merah), ini karena memaksakan membangun ke sektor tidak produktif, infrastruktur. Bukan salah membangun infrastruktur, tapi bukan untuk daerah yang hanya berpopulasi rendah namun ada sektor produksinya. Negara anda bukan Negara maju, China dan Amerika (tahun 1940-50 di jaman FDR) membangun infrastruktur di saat GDP nya di atas 5000. Indonesia masih 3500 saat ini.

Nggak heran Bank Mandiri beberapa perusahan konstruksi karya-karya mulai menjual asetnya demi membayar beban hutang.hampir semua bank tersebut keuntunganya tahun 2015 di banding 2016, turun separuhnya di tahun 2016 dan di tahun 2017 kembali turun setengahnya.

Yang anehnya, China membeli Newmont di biayai bank nasional. Langung cashless itu bank. NPL Mandiri 4%, NPL BRI 5,6%. Padahal Non Performing Loan ini tidak boleh lebih 3 %. Sakit semua bank besar dan sekarang semua bank tidak sanggup kasih pinjaman BUMN lagi yang tidak likuid.

Puncaknya lagi bank BUMN akan jadi tumbal keputusan kereta cepatnya Rini Soemarno (Rinso), menarik lagi 6 milyar dolar.

Ini yang saya suka dari Pemerintah saat ini, kata si Bapak itu kemudian. Saya pemain uang, ini peluang banget di depan mata, mirip tahun 1997. Puncak gunung es mencair dengan hutang tak terkendali di Indonesia.

What are you gonna do? Saya bertanya.

Dia hanya menaikan dua pundaknya sambil tersenyum. Bukan saya lho yang buat negara ini “not in good shape”. Saya hanya lihat peluang. Saya tunggu Oktober, will see what Indonesian’s government can do, katanya kemudian. #peace

MENGHORMATI NU DENGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

Posted on

MENGHORMATI NU DENGAN MENEGAKKAN KHILAFAH

(c) Husain Matla

Saat ini perjuangan menegakkan khilafah di Indonesia memang sedang menghadapi ujian. Di antaranya adalah tidak disetujui sebagian saudara kita, seperti para pengurus struktural Nahdlatul Ulama (NU). Saya katakan “pengurus struktural” karena memang tidak semua NU demikian. KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan para kyai yang dekat dengan KH. Hasyim Muzadi (almarhum) tidak nampak memberikan dukungan terhadap KH. Said Aqil Siradj, ketua tanfidziyah NU sekarang.

Alasan yang dipakai kalangan struktural NU adalah bahwa NKRI itu membentuknya susah. Dulunya Nusantara ini terdiri dari banyak kerajaan. Dan sekarang sudah segedhe ini dan dalam kondisi bersatu dan sedang membangun. Eman-eman kalau sampai goncang apalagi bubar. Juga dinyatakan bahwa mempertahankan negara ini dulunya juga susah. Berdarah-darah. Sampai terjadi Resolusi Jihad yang menghasilkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Bung Tomo bisa leluasa memimpin para pejuang setelah mendapat fatwa jihad dari para kyai. “Kami berdarah-darah mendirikan Indonesia ini, jangan sampai negara besar ini bubar. Bukan hanya kaum nasionalis saja yang punya andil memperjuanglkan negara ini, tetapi juga kami. Jadi, tolong hargai !!!” Begitu kira-kira harapannya.

Kita tentu saja sangat bisa memahami dan menghormati alasan beliau-beliau itu. Namun justru karena menghormati itu kita seharusnya semakin giat dan “ngotot” untuk memperjuangkan khilafah.

Mengapa?

Karena para kyai NU, paling tidak melalui jaringan pesantren (karena yang struktural saya belum meneliti pandangan dan sikap mereka) ketika zaman awal abad XX juga bersikap seperti para pejuang khilafah sekarang ini. Yaitu ketika mereka menyertai HOS. Tjokroaminoto berusaha membangun pandangan baru atas masa depan Nusantara. Yang akhirnya berubah menjadi seruan merdeka.

Apakah sikap semacam itu gampang?

Sama sekali tidak gampang. Berbagai badai dan halilintar menghadang. Seperti sikap kalangan feodalis yang justru memihak pemerintahan kolonial Belanda. Banyak sekali mereka itu, terutama berbagai bangsawan kerajaan yang menjadi sekiutu Belanda. Kalau kita mau membuka lembar-lembar sejarah, banyak sekali mereka. Seperti para bangsawan Mangkoenegaran Solo, Adipati Sumedang, RM. Sosrokartono (kakak RA. Kartini) dll. Bahkan kalangan Mangkoenegaran berpendapat bahwa bangsa-bangsa pribumi Nusantara dan bangsa Belanda tidak bisa dipisahkan. Satunya menjalani pelaksanaan berbagai program, satunya mengarahkan program. Jika sampai berpisah, keduanya rugi. Satunya kurang tenaga, satunya kurang pemikir. Keduanya akan sama-sama menuju kemuduran. Begitu pandangan pro Belanda itu. Sepertinya logis ya. Sepertinya… kayaknya…. (seperti pandangan kontra khilafah sekarang yang sepertinya kayak logis). Sungguhpun berbagai alasan itu akhirnya mendapat alsan penyanggahan dan perlawanan dengan pengorbanan luar biasa dari HOS Tjokroaminoto beserta para muridnya .

Saya katakana mereka “sekutu Belanda” bukan “bawahan Belanda”. Karena Belanda menjajah Nusantara itu dengan system semacam waralaba. Mereka hanya mengambil kekuasaan dalam jenis tertentu (sebagaimana pengwaralaba), sementara para raja Nusantara memegang jenis kekuasaan lain yang lebih operasional (sebagaimana pewaralaba) [jadi memang bisa dipahami alasan Mangkoenegaran tadi]. Selain itu, raja-raja Nusantara juga mengerahkan pasukan untuk membantu Belanda dalam rangka menakhlukkan kerajaan-kerajaan lain yang belum tertakhlukkan seperti Aceh, Minangkabau dan Tapanuli.

Jadi mereka juga punya andil besar terhadap keberhasilan Belanda di Nusantara. Mereka, para bangsawan itu, bisa saja mengatakan, “Kami berdarah-darah mendirikan Hindia Belanda ini, jangan sampai negara besar ini bubar. Bukan hanya Belanda saja yang punya andil merintis negara ini, tetapi juga kami. Jadi, tolong hargai.” Begitu kira-kira seandainya diucapkan.

Lalu, jika sikap penentang kemerdekaan dulu itu sama dengan sikap para penentang khilafah di masa sekarang, lalu apakah di masa sebelumnya ketika mereka ikut membangun Hindia Belanda, mereka juga menentang para pendahulu mereka?

Kenyataannya bukan demikian. Mereka adalah keturunan para raja atau sultan yang gagah berani melawan Belanda seperti Sultan Agung hanyokrokusumo dan Sultan Ageng Tirtayasa. Yang kemudian setelah itu dikalahkan Belanda. Dalam sejarah mereka juga begitu menyanjung para leluhur mereka itu. Mereka sampai-sampai mencari banyak alasan mengapa mereka tak segagah dan semulia para pendahulu mereka. Seperti alas an takdir (sebagaimana di buku Babad Tanah Jawi). Bahwa jaman kakek mereka memang ditakdirkan jaman gagah, sementara jaman mereka ditakdirkan sebagai jaman pengecut.

Artinya apa dari fenomena itu? Ketika bangsawan itu menyanjung para leluhur mereka, tetapi para penerus mereka mencela mereka?

Artinya, tak bisa kita tafsirkan lain, bahwa zaman mereka adalah paling buruk dibanding sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya merdeka, di masa mereka terjajah, dan sesudahnya merdeka lagi. Dan berikiutnya ingin lebih merdeka lagi.

Ini berarti setelah masa paling buruk itu yang dilakukan adalah seruan dan langkah untuk lebih baik lagi dan terus lebih baik lagi. Perbaikan terus menerus yang semakin mendekati arah ideal. Sebelumnya terjajah, berikutnya lebih merdeka, berikutnya semakin kuat kemerdekaannya.

Kesimpulannya bisa kita tajamkan: sebelumnya dijajah dengan pemerintahan Belanda dan hukum Belanda. Setelah merdeka sudah bebas dari pemerintahan Belanda tetapi masih menggunakan hukum-hukum Belanda (dan juga hukum Inggris dan Amerika). Tentu berikutnya yang kita harapkan adalah bebas dari pemerintahan Belanda sekaligus bebas dari hukum Belanda (dan hukum Barat lainnya).

Bagi kita umat Islam, kita simpulkan: semula bukan pemerintahan oleh umat Islam dan bukan dari hukum Islam. Beikutnya sudah berhasil dikuasai oleh umat Islam, tetapi masih menggunakan hukum bukan Islam. Idealnya nanti, pemerintahan oleh umat Islam berdasarkan hukum Islam.

Kondisi ideal inilah yeng benar-benar bisa menjadikan manusia bebas, terbebas dari penindasan manusia lain (exploitation de l’homme par l’homme). Saat itu manusia benar-benar setara dan merdeka karena ketundukan mereka hanya kepada Allah SWT.

Kondisi demikian inilah, yang bisa diwujudkan dengan pemerintahan oleh umat Islam berdasar hukum Islam, yang disebut khilafah. Saat itu umat Islam hidup berdasar syariat Islam, berada dalam ukhuwah Islamiyah, dan lebih d ari itu, bahkan bisa mendakwahkan Islam ke berbagai pihak. Bahkan umat lain pun tak perlu takut karena syariat Islam juga membebaskan mereka dari penindasan saudara-saudara mereka sendiri.

Ini sebagaimana disampaikan seorang ulama, Rowas Qal Ahji, mengutip Imam Mawardi, “Tanpa Khilafah, orang-orang kuat kita akan memakan orang-orang lemah kita.”

Jadi, seruan khilafah adalah lanjutan seruan merdeka. Seruan khilafah adalah estafet dari seruan merdeka. Seruan khilafah adalah agar merdeka sebenar-benarnya. Merdeka hakiki. Ketika ketundukan hanya kepada Allah SWT.

Justru kami menghargai kalau para penyeru kemerdekaan itu sekarang mulai merasa capai, estafet perjuangan itu diberikan kepada kami. Kami sepenuhnya akan menghargai dan menghormati anda dengan meneruskan perjuangan anda. Kami akan mengingat semangat, perjuangan, dan pengorbanan anda, ketika anda mendapat kecaman dari para bangsawan pro Belanda. Kami tidak ingin anda justru bertindak sebagaimana mereka. Sikap mereka yang membela Belanda dan menindas anda begitu memuakkan anda. Kami mungkin belum apa-apa dbanding perjuangan bertaruh nyawa dan harta dari anda di Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Justru karena itu kami ingin menyerap sepenuhnya spirit anda.

Kami akan meneladani tekad dan keberanian anda di waktu lalu. Ketika anda adalah para ksatria pemberani di tengah badai dan halilintar.

BUKTI HISTORIS KHILAFAH BUKAN IJTIHAD

Posted on Updated on

BUKTI HISTORIS KHILAFAH BUKAN IJTIHAD

(c) Husain matla

1. Sampai akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, negara sudah sangat luas. Mengapa berikutnya Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak berbagi kekuasaan saja dg Muawiyah. Bayangkan, dari Libya smpi Iran. Sekarang trdiri dari 20-an negara.

2. Berikutnya ketika terjadi perang saudara: Abdul Malik bin Marwan vs Abdullah bin Zubair, Marwan bin Muhammad vs Abul Abbas, Al Amin vs Al Makmun, Khumarawaih vs Al Mu’tadhid Billah. Mengapa ujungnya harus integrasi. Bukan bagi dua. Bukankah masing2 amir sudah memegang wilayah lebih besar dr NKRI skrg? Mengapa para ulama mendukung keharusan integrasi? Mengapa tidak seperti pembagian Romawi atau pembagian Jenggala-Panjalu?

3. Mengapa Amir Abdurrahman ad-Dakhil tidak mau menyatakan diri sbg khalifah, padahal sudah memegang penuh wilayah Spanyol Portugis. Mengapa ia membiarkan khalifah Abu Jafar al Manshur sbg khalifah satu2nya padahal kapal2 khilafah Abbasiyah tak sanggup menguasai Spanyol? Ada kesan Umayah di Andalusia (Spanyol-Portigis) cenderung bersikap aman sperti Taiwan skrg. Jika skrg ada prinsip “satu China”, dulu ada “satu khilafah”.

4. Abad XII M, Shalahuddin al Ayyubi mendedikasikan kemenangannya atas Mesir dan Al Quds utk khilafah Abbasiyah (di bawah Khalifah An-Nashr Lid Dinillah). Hal yg sama dilakukan Yusuf bin Tasyfin ketika menakhluklan seluruh Andalusia. Apa sih susahnya mereka berdua menjadikan wilayahnya independen. Kekuatan militer mereka tampaknya di atas Abbasiyah.

5. Bani Buwaih, bani Seljuk, bani Khwarism, bani Ayyub, dan kaum Mamluk dan bani Utsmani senantiasa membaiat khalifah Abbasiyah. Padahal militer khilafah sepenuhnya dlm kendali mereka.

6. Tahun 1517, Khalifah Al Mutawakkil menyerahkan estafet khilafah kepada Sultan Salim I ( bani Utsmani, cucu Muhammad al Fatih). Ini mengakhiri dualisme kepemimpinan di dunia Islam di mana Abbasiyah di Kairo berposisi semacam Bung Karno thn 1966, sementara Utsmani di Konstantinopel seperi Pak Harto. Mengapa tidak membagi dua saja atas kepemimpinan dunia Islam. Bukankah masing2 punya keistimewaan dan.kharisma?

7. Kecuali benteng canggih Konstantinopel, batas wilayah khilafah Umayah dulu adalah alam. Yaitu: Pegunungan Taurus, Samudera Atlantik, Pegunungan Pirennia, Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Gurun Gobi, Pegunungan Indus, Pegunungan Hindu Kush, Samudera Hindia, dan Gurun Sahara. Ini berarti, selain Kekaisaran Romawi, yang sanggup menghentikan umat Islam hanya alam. Selain itu, pasukan Islam terus melaju. Tak ada yang sanggup menghadapi. Mereka juga tak berpikir berhenti. Mengapa demikian?

8. Setelah kehancuran khilafah Utsmani tahun 1924, pada tahun 1925 diadakan konferensi Khilafah di Mesir oleh para ulama besar Islam sebagai ikhtiar mendirikannya kembali. Mengapa harus didirikan kembali?

Dari fakta2 di atas, kira2 POLA PIKIR yg semacam apa yg “mencengkeram” benak mereka semua (tokoh-tokoh terkait di atas) shg harus menjaga integrasi wilayah.?

Apa yg membuat para fuqaha, amir, dan panglima miter dan orang2 hebat lainnya, seperti ” tercuci otaknya” shg tidak berani melangkah pd hal2 baru semisal negara berbasis wilayah atau bangsa sbgmn skrg?

Riba dan Ring Tinju

Posted on Updated on

RIBA DAN RING TINJU

Oleh: H. Dwi Condro Triono, Ph.D
Dalam sebuah acara Islamic Business Coaching (IBC), ada seorang peserta yang mengajukan pertanyaan: “Di dalam sebuah sistem ekonomi seperti sekarang ini, kita sebagai pebisnis muslim, apakah mungkin bisnis kita akan menjadi sukses dan barakah…?”. Untuk menjawabnya, kita dapat membawanya kepada sebuah analogi sederhana. Silakan direnungkan. 

Berbisnis di era sekarang ini, dapat diibaratkan kita masuk ke dalam arena tinju yang sangat besar. Namun, tinju yang dipertandingkan bukan tinju sembarang tinju. Pertandingan tinju yang diselenggarakan adalah pertandingan tinju gaya bebas dan tanpa kelas. Siapapun boleh langsung masuk ring dan boleh langsung bertanding di dalamnya.

Lantas, bagaimana dengan orang Islam yang ingin ikut bertanding di dalamnya? Bagi orang Islam yang ingin ikut bertanding, ternyata terkena aturan yang berasal dari Islam, yaitu: boleh mengikutinya, namun dengan syarat: tidak boleh memukul lawannya. Yang boleh dilakukan hanya satu, yaitu: menghindar dari pukulan lawan. 

Nah, silakan diprediksi sendiri. Mungkinkah pemain Islam akan memenangkan pertandingan? Jawabnya tentu sangat jelas. Secara normal, orang Islam tentu tidak akan pernah bisa memenangkan pertandingan. Jika ada orang Islam yang menang, kemungkinannya hanya dua. Kemungkinan pertama, lawan tandingnya jatuh sendiri karena sakit atau kelelahan. Kemungkinan kedua, orang Islamnya melanggar aturan Islam, yaitu ikut memukul lawannya.

Analogi inilah sesungguhnya yang terjadi dalam percaturan ekonomi di masa sekarang ini. Dalam sistem ekonomi sekarang ini, kita dipersilakan secara bebas untuk mengembangkan bisnisnya. Di dalam sistem ini pula, telah disediakan kebutuhan permodalan yang sangat besar. Semua pebisnis dipersilakan memanfaatkannya, dengan syarat harus mau mengembalikannya ditambah dengan bunga (riba). Maka, siapapun pebisnis yang ingin terus memperbesar perusahaannya, dipersilakan berlomba-lomba untuk menambah modalnya dari memanfaatkan uang di lembaga perbankan tersebut. 

Bagaimana dengan pebisnis muslim? Silakan berbisnis, namun tidak boleh pinjam uang di Bank, karena hukumnya haram. Padahal total asset dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat yang ada di Bank Konvensional sudah mencapai 6000 triliun rupiah. Jika pebisnis muslim diharamkan meminjam uang di bank, lantas siapa yang akan memanfaatkan dana yang super besar jumlahnya tersebut? Silakan dijawab, siapakah yang akan memenangkan pertandingan “tinju” terebut?

Lantas, bagaimana solusinya? Silakan dijawab dengan pemikiran yang jernih. Tawaran solusinya hanya ada dua. Pertama, solusinya adalah dengan membuat ring tinju sendiri, dengan aturan main sendiri. Mulai ring tinju yang kecil-kecilan tidak apa-apa. Yang penting telah berbuat, yang penting telah melakukan “action”…! Solusi kedua, yaitu dengan mengganti aturan main di arena tinju besar tersebut. Diganti dengan apa? Diganti dengan aturan Islam. Mana yang dipilih umat Islam saat ini?

Ternyata, umat Islam sekarang ini lebih memilih solusi pertama, yaitu membuat “ring tinju” sendiri, dengan jalan membangun bank-bank syari’ah sendiri. Bagaimana hasilnya? Setelah berjuang selama kurang lebih 25 tahun, total asset DPK di Bank Syari’ah sudah hampir menyentuh 300 triliun rupiah. Besar atau kecil? Tergantung perbandingannya. Jika dibandingkan dengan total asset DPK di bank konvensional, maka angka itu belum mencapai 5 %-nya. Padahal penduduk muslim di Indonesia mencapai 85 % dari penduduk Indonesia. Artinya, 85 % penduduk muslim Indonesia harus memperebutkan 5 % dari kue permodalan yang disediakan di Indonesia. 

Apakah masih akan dilanjutkan? Ataukah, kita akan melirik kepada solusi kedua? Untuk memilih solusi kedua, ternyata tidak mudah dan tidak sederhana. Kita memerlukan suatu gambaran penataan ekonomi Islam secara menyeluruh atau secara sistemik, untuk menggantikan sistem ekonomi pasar bebas atau kapitalisme.

Bagaimana penataan ekonomi Islam yang sistemik itu? Silakan baca selengkapnya pada buku Ekonomi Islam Madzhab Hamfara Jilid 2: Ekonomi Pasar Syari’ah. Insya Allah, penjelasannya sudah cukup lengkap dan tuntas. Selamat membaca.

​MENGUNGKAP PERSEKONGKOLAN WAHABI DAN PENGUASA SAUDI DALAM MENGHANCURKAN KHILAFAH

Posted on Updated on

MENGUNGKAP PERSEKONGKOLAN WAHABI DAN PENGUASA SAUDI DALAM MENGHANCURKAN KHILAFAH

Oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi

Pengantar

Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh besar terhadap umat Islam sejak abad ke-18. (Al-Ja’bari, 1996). Gerakan yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat Islam, misalnya membuka pintu ijtihad, memurnikan tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi apa yang dianggapnya bid’ah dan khurafat. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn Ats-Tsani ‘Asyar, menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnyaKaifa Hudimat Al-Khilafah hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.

Namun sisi gelap dari gerakan ini juga harus diungkap, khususnya dalam aspek politik. Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Tulisan ini hendak mengkaji kitab Kaifa Hudimat Al-Khilafah (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya Muhammad bin Saud memanfaatkan gerakan Wahabi untuk mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.

Persekongkolan Negara-Negara Eropa

Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal maupun eksternal.

Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing –seperti nasionalisme dan demokrasi– yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 177).

Secara eksternal, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya Masalah Timur (al-mas’alah al-syarqiyyah, eastern question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal. 27).

Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 206-207).

Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu. (Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II/9).

Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan, yaitu : pertama, menghembuskan paham nasionalisme. Kedua, mendorong gerakan separatisme. Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).

Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).

Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As’ad dalam kitabnya As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris. Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.

Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As’ad mengatakan,”Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913.” (Abu Al-As’ad, As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, hal. 16).

Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir’iyyah, sehingga sering disebut “Baiah Dir’iyyah” (Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).

Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi’i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).

Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap Khilafah

Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).

Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.

Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi –mereka lebih senang menyebut dirinya Salafi– menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Asy-Syuwai’ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj ‘Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat ‘an Da’wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).

Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hal. 623).

Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap representasi tentara Islam. Subhanallah, hadza buhtanun ‘azhim.

Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.
Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais,Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).

Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan pemberontakan?

Para penulis sejarah apologetik itu semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman (artinya) : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al-Maaidah : 8).

Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (l’histoire contemporaine, contemporary history). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra, 2008). Wallahu a’lam.

DAFTAR BACAAN

Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman, Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat ‘an Da’wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, (ttp : tp), tt.
Abu Al-As’ad, Muhammad, As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-Ma’lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.
Al-Fakhiri, Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf, Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, (Amman : tp), tt.
Al-Ja’bari, Hafizh Muhammad, Gerakan Kebangkitan Islam (Harakah Al-Ba’ts Al-Islami), Penerjemah Abu Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.
Al-Marjih, Muwaffaq Bani, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, (Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.
An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, (Beirut : Darul Ummah), 2002.
Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Ad-Daulah al-Utsmaniyah ‘Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, (ttp : tp), tt.
Asy-Syuwai’ir, Muhammad Saad, Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, (Ttp : Darul Habib), 2000.
El-Ibrahimy, M. Nur, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, (Bandung : NV Almaarif), 1955.
Ibnu Yusuf, Tarikh Ibnu Yusuf, tahqiq Uwaidhah Al-Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.
Imam, Hammadah, Daur Al-Usrah As-Su’udiyah fi Iqamah Ad-Daulah Al-Israiliyyah, (ttp : tp), 1997.
Muhammad, Jamal Abdul Hadi, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II, (Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.
Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.
Sinnu, Abdur Rauf, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881, (Beirut : Baisan), 1998.
Uwais, Abdul Halim, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, (ttp : tp), tt.
Yaghi, Ismail Ahmad, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-Tarikh Al-Islami al-Hadits, (Ttp : Maktabah Al-‘Abikan), 1998.
Zallum, Abdul Qadim, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, (Beirut : Darul Ummah), 1990.
http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=648&Itemid=47
Diambil dari :

Arab Saudi dan Wahabi Memerangi Khalifah Islam Turki dan Serahkan Palestina ke Yahudi?

Pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab dan Keluarga Saud Terhadap Negara Khilafah Utsmani

Posted on

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan sebenar-benarnya pujian atas kebaikan dan berkah-Nya, yang tak terhingga jumlahnya, memenuhi langit dan bumi, serta semua yang ada. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasul yang diutus dengan membawa rahmat untuk seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah, keluarganya, para sahabatnya, serta siapa saja yang senantiasa setia dan mengikutinya denga cara yang baik hingga hari kiamat. Waba’du.

Dalam situs “Al Islam Sual wa Jawab” (islamqa.info), yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid terdapat sebuah pertanyaan: “Apakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah, dan menjadi penyebab kejatuhannya?”

Beberapa orang memfitnah Muhammad ibn Abdul Wahab—semoga Allah merahmatinya. Mereka menuduhnya telah memerangi Khilafah Islam Utsmaniyah, serta memerangi Khalifah kaum Muslim. Oleh karena itu, ia menjadi musuh kaum Muslim. Dan perdebatan mereka seputar masalah ini. Apakah hal itu benar? Bagaimana mungkin tokoh (Islam) memerangi seorang amir (pemimpin) kaum Muslim, padahal ia seorang Khalifah yang mendirikan shalat, membayar zakat, dan sebagainya? Mereka juga mengatakan bahwa ia berkonspirasi dengan tentara Inggris untuk melawan kaum Muslim. Tolong beri saya jawaban yang rinci tentang masalah bersejarah ini, dan jelaskan kepada saya kebenarannya, hingga tampak siapa yang benar?

Kami akan memaparkan jawabab paragraf demi paragraf, kemudian kami akan mengulasnya dan mengomentarinya dengan ilmu yang Allah karuniakan kepada kami, dengan tetap memohon kepada Allah SWT agar kebenaran mengalir di lisan kami, serta memperlihatkan kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan memberi kami kekuatan untuk mengikutinya; juga memperlihatkan kepada kami bahwa yang batil itu batil, dan memberi kami kekuatan untuk meninggalkannya. Allâhumma Amîn.

Paragraf Pertama Dari Jawaban Situs Islam Sual wa Jawab:
Syaikh Abdul Aziz Abdul Latif mengatakan: “Beberapa musuh dakwah Salafi mengklaim bahwa Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab telah memberontak terhadap Negara Khilafah Utsmaniyah. Sehingga dengan itu ia telah memisahkan diri dari jamaah, dan mematahkan tongkat (ikatan untuk) mendengar dan taat.” (Da’âwal Munâwi’în li Da’wah asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, hlm. 233).

Dia mengatakan Abdul Qadim Zallum mengklaim bahwa munculnya dakwah Wahabi telah menjadi penyebab jatuhnya negara Khilafah. Zallum berkata: “Wahabi telah menemukan sebuah entitas di dalam negara Islam yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud, dan kemudian putranya Abdul Aziz. Lalu Inggris membantunya dengan senjata dan uang. Sehingga mereka bangkit atas dorongan madzhab untuk menguasai negeri-negeri Islam yang berada di bawah kekuasaan Khilafah, yakni mereka mengangkat pedang (senjata) melawan Khalifah, dan memerangi tentara Islam, yaitu tentara Amirul Mukminin, dengan provokasi (hasutan) dari Inggris dan bantuannya.” (Kaifa Hudimat al-Khilâfah, hlm. 10).
Sebelum kami menjawab syubhat (ketidakjelasan) tentang pemberontakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab terhadap negara Khilafah, adalah tepat untuk mengingat apa yang telah menjadi keyakinan asy-Syaikh al-Imam tentang wajibnya mendengar dan taan kepada para pemimpin kaum Muslim, baik mereka adil atau zalim, selama mereka tidak memerintahkan bermaksiat pada Allah, karena ketaatan itu hanya untuk perkara yang makruf (baik) saja.
Asy-Syaikh al-Imam dalam suratnya kepada warga al-Qashim berkata: “Saya berpendapat wajibnya mendengar dan taan kepada para pemimpin kaum Muslim, baik mereka adil atau zalim, selama mereka tidak memerintahkan bermaksiat pada Allah. Sehingga siapa saja memimpin Khilafah, sementara masyarakat mendukung dan meridhainya, bahkan sekalipun ia menguasai masyarakat dengan pedangnya hingga ia menjadi Khalifah, maka menaatinya wajib, dan haram memberontaknya.” (Majmû’ah Muallafât asy-Syaikh, 5/11).
Dia juga mengatakan: Kaidah Dasar Ketiga: “Kesempurnaan berkelompok (bermasyarakat) adalah mendengar dan taat kepada siapa saja yang memimpin kami, sekalipun ia seorang budak Habasyi.” (Majmû’ah Muallafât asy-Syaikh, 1/394), melalui (Da’âwal Munâwi’în, hlm. 233-234).

*** *** ***

Kami akan membahas isu-isu berikut seperti yang terdapat dalam fatwa dengan sebuah analisis, yaitu:
Pertama: Wajibanya mendengar dan taat kepada Khalifah.
Kedua: Haramnya memberontak terhadap Khalifah, dan analisis pendapat asy-Syaikh ketika Khalifah melakukan kemaksiatan berdasarkan nash hadis bahwa tidak boleh memberontak kecuali (Khalifah) melakukan perkara yang jelas-jelas kufur.
Ketiga: Tidak adanya dalam fatwa itu pembahasan tentang masalah wajibnya kesatuan negara Islam, dan haramnya membaiat imam (Khalifah) lain dalam waktu yang sama.
Paragraph ini berisi pendapat tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemimpin kaum Muslim, baik mereka yang adil maupun yang zalim, selama mereka tidak memerintahkan pada kemaksiatan. Tidak diragukan lagi bahwa paragraf ini argumen yang justru menjatuhkan Syaikh Ibnu Abdul Wahab, bukan argument yang menguatkannya. Sungguh, ia telah memfatwakan bahwa haram memberontak terhadap Khalifah, sementara ia sendiri melakukan pemberontakan itu terhadapnya. Dan akan saya jelaskan tentang pemberontakan yang ia lakukan hingga Homs dan Aleppo, serta pemberontakannya terhadap Khalifah di Irak, Kuwait dan lainnya, di antara wilayah-wilayah yang secara langsung tunduk pada Khalifah melalui para walinya, sebab para Amirul Mukimin mengangkat para wali untuk setiap wilayah. Dan hal lain yang kami baca dari sela-sela fatwa yang secara khusus berbicara tentang tidak adanya ketaatan ketika diperintah melakukan kemaksiatan, serta ketidakrinciannya terkait haramnya memberontak ketika diperintah melakukan kemaksiatan, kecuali Khalifah melakukan kekufuran yang jelas-jelas kufur.

Perkara yang mewajibkan memberontak terhadap Khalifah bukan sekedar perintah bermaksiat, karena apabila diperintah bermaksiat, maka tidak wajib menaatinya. Rasulullah Saw bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan pada makluk dalam bemaksiat kepada al-Khaliq (Allah).”

Hadis ini disahihkan oleh al-Albanni. Namun tetap saja haram memberontak terhadap Khalifah, kecuali ia terang-terangan melakukan kekufuran yang nyata, yang dapat dibuktikan di hadapan Allah kelak.

Muslim meriwayatkan dari Auf bin Malik:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian mencintainya, dan mereka mencintai kalian; mereka mendoakan kalian, dan kalian mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian membencinya, dan mereka membenci kalian; kalian melaknat mereka, dan mereka melaknat kalian.” Dikatakan: “Wahai Rasulullah mengapa tidak kami perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau bersabda: “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Apabila kalian melihat dari pemimpin sesuatu yang tidak kalian benci, maka bencilah pada perbuatannya saja, dan jangan kalian melepaskan tangan dari ketaatan.”

Secara gamblang hadis di atas mengabarkan tentang adanya para pemimpin yang baik dan yang buruk, serta jelas menunjukkan haramnya memerangi mereka dengan pedang selama mereka masih menegakkan agama. Sebab menegakkan shalat itu merupakan kiasan (metafora) tentang menegakkan agama, dan memerintah berdasarkan agama.

Bukhari meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah yang berkata: “Kami menjenguk Ubadah bin Shamit yang sedang sakit. Kami berkata—semoga Allah senantiasa memberi kebaikan kepadamu—sampaikan pada kami hadis yang dengannya Allah memberi manfaat padamu, yang telah kamu dengar dari Nabi Saw. Ia berkata:

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
“Nabi Saw memanggil kami, lalu kami membaiatnya. Beliau bersabda terkait apa yang beliau ambil dari kami, yaitu agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat, baik ketika kami senang dan benci, ketika kami dalam kesulitan dan lapang, serta tidak mementingkan diri kami, juga kami tidak akan merebut urusan (kekuasaan) dari yang berhak—Beliau menambahkan dengan sabdanya—kecuali kalian melihat kekufuran yang nyata, dimana terkait kekufuran itu kalian punya bukti dari Allah (dalil yang qath’iy).”

Penting dikatakan bahwa fatwa di atas tidak bisa mengabaikan masalah lain yang keterkaitannya sangat penting, yaitu wajibnya kesatuan kaum Muslim di bawah satu orang Khalifah, dan haramnya di tengah-tengah umat ada dua orang Khalifah, serta masalah wajibnya kaum Muslim dan institusinya bergabung di bawah institusi negara Islam, tidak boleh (haram) memberontak terhadapnya, serta haram setiap pemimpin suku mendirikan negara yang memisahkan diri dari negara Islam dan memeranginya.

Ada pendapat Syaikh, khususnya tentang kewajiban taat dan mendengarkan kepada siapa saja yang masyarakat mendukung dan meridhainya, bahkan sekalipun ia menguasai masyarakat dengan pedangnya hingga ia menjadi Khalifah. Pertanyaan terkait perkataan “menguasai masyarakat dengan pedang dan masyarakat meridhainya”, seolah-olah ini merupakan syarat wajibnya taat dan haramnya memberontak terhadap Khalifah. Padahal ini bukan syarat akad Khilafah, serta tidak ada dalam hadis-hadis Nabi al-Mustafa Saw. bahwa hubungan penguasa dan rakyat bukan hubungan “menguasai dengan pedang dan mendominasinya” hingga mereka tunduk kepadanya, melainkan melalui baiat yaitu akad saling ridha antara umat dan penguasa, yang dilandasi keridhaan dan kebebasan memilih.

Terdapat perkataan Umar bin Khattab ra, seperti yang terdapat dalam ath-Thabaqât al-Kubra Ibnu Sa’ad. Abdullah bin Umar berkata, lalu mereka bermusyawarah. Utsman memanggil aku sekali atau dua kali untuk melibatkan aku dalam urusan pemerintahan. Aku berkata kepadanya hendaklah kalian berpikir, apakah kalian akan mengangkat pemimpin sementara Amirul Mukminin masih hidup, maka demi Allah hal itu benar-benar membangunkan Umar dari tempat tidurnya. Umar berkata, jangan kalian tergesa-gesa, jika sebuah insiden menimpa saya, maka hendaklah Shuhaib memimpin shalat kalian selama tiga hari, kemudian mereka bersepakat atas urusan kalian, sebab “Barangsiapa yang memimpin kalian tanpa musyawarah kaum Muslim, maka penggallah lehernya.”

Dalam ath-Thabaqât al-Kubra Ibnu Sa’ad bahwa Umair bin Sa’ad ra. diangkat oleh Umar bin Khattab sebagai wali di Homs. Umair berkata: “Ketahuilah bahwa Islam itu laksana dinding yang kokoh dan pintu yang kuat. Dinding Islam adalah keadilan, sementara pintunya adalah kebenaran. Islam akan senantiasa kokoh selama kekuasaan masih kuat. Dan kuatnya kekuasaan bukan membunuh dengan pedang, dan bukan pula memukul dengan cambuk, melainkan mengadili dengan kebenaran, dan mengambil dengan adil.”

Adapun khusus tentang wajibnya kesatuan kaum Muslim di bawah satu orang Khalifah. Muslim meriwayatkan dalam Kitab al-Imârah, juga Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad, lafad matan hadis ini menurut Muslim. Dari Abdur Rahman bin Abdi Rabbi al-Ka’bah, yang mengatakan: Saya masuk masjid, tiba-tiba Abdullah bin Amr bin al-Ash duduk di bawah Ka’bah. Sementara orang-orang berkumpul di sekitarnya. Lalu, saya mendatanginya dan duduk bersama mereka. Abdullah bin Amr bin al-Ash nerkata: Kami bersama Rasulullah Saw dalam sebuah perjalanan … hingga Nabi Saw bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَليَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ
“Siapa saja yang ingin selamat dari neraka dan masuk surga, maka temuilah kematiannya, sedang ia beriman kepada Allah dan hari Akhir, karena itu hendaklah ia datang pada manusia, dimana ia ingin menemui kematiannya. Dan barangsia yang berbaiat pada seorang Imam, lalu ia memberikan uluran tangannya dan buah hatinya, maka taatilah ia selagi mampu. Jika ada orang lain yang merebutnya, maka penggallah leher orang itu.”

Muslim meriwayatkan dari Arfajah yang berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ
“Siapa saja yang datang kepada kalian, sementara semua urusan kalian ada di tangan satu orang (Khalifah). Dan ia datang untuk memecah tongkat kalian, serta mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.”

Muslim meriwayatkan dalam Kitab al-Imârah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri yang berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا
“Jika dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”

Seruan (khithâb) di sini adalah untuk semua kaum Muslim, bahwa tidak boleh ada pada mereka dua orang Khalifah. Hadis ini adalah nash (dalil) haramnya ada banyak Khalifah, dan wajibnya hanya ada seorang Khalifah bagi seluruh kaum Muslim.

Dan realitas orang yang merebut kepemimpinan Khalifah pada suatu wilayah di bumi ini, maka ia menyatakan bahwa dirinya tidak tunduk pada kekuasaan Khalifah, dan ia mendirikan pemerintahan di wilayah tersebut. Bahkan realitasnya ia mengangkat dirinya sebagai imam bagi kaum Muslim, dan itu adalah realitas Khalifah, sekalipun ia tidak menyebut dirinya Khalifah. Pengangkatan para amil dan wali untuk suatu wilayah adalah tugas Khalifah dan tanggung jawabnya, yang asy-Syâri’ bebankan kepadanya. Rasulullah Saw telah mengangkat para wali dan amil. Dan itulah yang juga dilakukan oleh para Khulafa’ ar-Rasyidin al-Mahdiyyin sesudah Rasulullah. Sehingga tidak sah (haram) suatu kabilah memberontak terhadap negara Islam, dan mengangkat dirinya sebagai walinya. Kemudian ia merebut kekuasaan Khalifah. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa ia merupakan aktivitas orang yang melihat dirinya sebagai Khalifah kaum Muslim.

Lihatlah untuk memperkuat hal ini apa yang terdapat dalam dokumen Arab Saudi:

Hubungan Negara Saudi dengan Syam:

Sumber-sumber Najd mengatakan bahwa Imam Abdul Aziz bin Muhammad memerintahkan beberapa pasukannya, pada tahun 1208 H/1793 M, untuk pergi ke Dumatul Jandal, di pinggiran Syam, dan memerangi warganya. Hal itu didasarkan informasi bahwa pasukan wali Utsmani ada di Syam. Pada tahun 1212 H/1797 M, Hujailan bin Hamad, pemimpin al-Qashim memimpin tentara rakyat al-Qashim, kemudian menyerang Bawadi asy-Syararat, sehingga banyak tokoh-tokohnya yang terbunuh, serta merampas harta dan barang-barang dalam jumlah besar.

Serangan tersebut untuk memperkuat penyebaran prinsip-prinsip dakwah reformasi di wilayah itu, dan mengambil zakat dari penduduknya. Bahkan serangan itu sampai di Bawadi asy-Syam, pada tahun 1218 M. Dari semua itu dipahami bahwa penduduk Bawadi asy-Syam telah menjadikan loyalitas politik dan agamanya pada Dir’iyah (wilayah kerajaan Arab Saudi), tidak lagi pada wali Syam.

Sampai di sini kutipan dari Mausû’ah Muqâtil min ash-Shahra’.

Seperti yang Anda lihat, bahwa zakat yang seharusnya diberikan pada wali Syam yang mewakili Khalifah, kemudian diambil untuk Dir’iyah. Apakah tindakan ini bukan tindakan orang yang menempatkan dirinya sebagai Khalifah bagi kaum Muslim? Dengan dalil ini jelas bahwa mereka merampas dari Khalifah aktivitas dan tanggung jawabnya, merampas wilayah darinya, dan kemudian menundukkannya untuk kekuasaan mereka, tidak lagi pada kekuasaan Khalifah?

Dari Arfajah dari Nabi Saw bersabda:

إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ وَهْىَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ
“Sungguh akan ada banyak fitnah dan bid’ah. Sehingga siapasaja yang ingin memecah-belah urusan umat ini, sedang umat ini sedang bersatu, maka penggallah dia dengan pedang, siapapun dia.” (HR. Muslim).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarah Shahih Muslim: “Jika seorang Khalifah dibaiat sesudah ada Khalifah, maka baiat Khalifah yang pertama yang sah, dan wajib memenuhi baiat yang pertama. Sementara baiat yang kedua batal, sehingga haram memenuhinya, serta haram ia menuntutnya, sama saja apakah mereka yang melakukan baiat kedua tahu dengan adanya baiat yang bertama atau tidak, sama saja apakah itu terjadi di dua negeri atau satu negeri, atau salah satunya berada di negeri imam yang terpisah, dan yang satunya di negeri lainnya. Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh ada akad baiat untuk dua orang Khalifah di waktu yang bersamaan, baik negara Islam luas atau tidak.”
Renungkan perkataan Imam Nawawi: “sama saja apakah itu terjadi di dua negeri atau satu negeri”, artinya sekalipun kita menerima sebagai hal yang kontroversi, seperti kita menemukan di saat itu wilayah yang tidak tunduk secara langsung terhadap negara Khilafah, maka membaiat Khalifah di wilayah itu adalah haram. Dan renungkan juga bahwa “ulama telah bersepakat dalam hal ini”, namun demikian ada orang yang berusaha membuat pembenaran untuk pemberontakan kelompok Wahabi terhadap Khilafah.
Adapun secara khusus terkait wajibnya kaum Muslim tergabung di bawah perintah Amirul Mukminin, maka Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitâb al-Jihâd was Siyar, juga Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi, sedang lafad matan menurut Imam Muslim: Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya yang berkata, apabila Rasulullah Saw mengangkat seorang amir militer atau pasukan khusus (sariyah), maka beliau berwasiat kepada pemimpinnya secara khusus agar bertakwa kepada Allah, dan berbuat baik kepada kaum Muslim yang bersamanya. Kemudian beliau bersabda: “Berperanglah atas nama Allah, di jalan Allah; perangilan orang yang kafir pada Allah; berperanglah kalian, jangan berlebih-lebihan, jangan berkhianat, jangan melampiaskan dendam, dan jangan membunuh anak-anak. Apabila kamu bertemu dengan musuhmu di antara kaum Musyrikin, maka serulah mereka pada tiga hal. Lalu yang manapun dari ketiga hal itu yang mereka penuhi, maka terima dan hentikan peperangan darinya. Kemudian serulah mereka pada Islam, jika mereka memenuhi seruanmu, maka terima dan hentikan peperangan darinya. Lalu, serulah mereka untuk berpindah dari negara (dâr) mereka ke negara (dâr) kaum Muhajirin, dan sampaikan pada mereka, jika mereka melakukan itu, maka mereka memiliki hak seperti hak kaum Muhajirin, dan mereka memiliki kewajiban seperti kewajiban kaum Muhajirin. Apabila mereka menolak untuk berpindah darinya, maka sampaikan pada mereka bahwa status mereka seperti kaum Muslim yang memilih tetap berasa di padang sahara, dimana atas mereka berlaku hukum Allah yang berlaku atas kaum Mukmin, mereka tidak berhak mendapatkan ghanimah dan fai’ sedikitpun kecuali mereka ikut berjihad bersama barisan kaum Muslim, jika mereka menolak, maka mintalah jizyah dari mereka, jika mereka memenuhinya, maka terimalah dan hentikan peperangan dengan mereka, jika mereka masih juga menolak, maka mintalah tolong pada Allah, dan perangi mereka. Apabila kamu mengepung warga Hishn, lalu kamu ingin membuat janji Allah dan nabi-Nya untuk mereka, maka kamu jangan membuat janji Allah dan nabi-Nya untuk mereka, namun buatlah untuk mereka janji kamu dan janji sahabatmu. Sebab jika kamu membatalkan janji kamu dan janji sahabatmu, maka itu lebih ringan daripada kamu membatalkan janji Allah dan nabi-Nya. Dan jika kamu ingin membuat persetujuan hukum Allah atas mereka, maka kamu jangan membuat persetujuan hukum Allah atas mereka, namun buatlah persetujuan berdasarkan hukum (ijtihad)mu, karena kamu tidak tahu apakah kamu benar pada hukum Allah dalam perkara mereka atau tidak.”

Sementara dalam riwayat Abu Dawud dan Ahmad: “Kemudian serulah mereka untuk berpindah dari negara (dâr) mereka ke negara (dâr) kaum Muhajirin, dan sampaikan pada mereka, jika mereka melakukan itu, maka mereka memiliki hak seperti hak kaum Muhajirin, dan mereka memiliki kewajiban seperti kewajiban kaum Muhajirin. Apabila mereka menolak untuk berpindah dan memilih tetap di negara (dâr) mereka, maka sampaikan pada mereka bahwa status mereka seperti kaum Muslim yang memilih tetap berada di padang sahara.”
Mengingat Rasulullah Saw memerintahkan agar memerangi setiap negeri yang tidak tunduk pada kekuasaan kaum Muslim, dan sungguh-sungguh dalam memerangi mereka, sama saja apakah penduduknya Muslim atau non-Muslim. Dalilnya adalah larangan Rasulullah dari memerangi warganya jika warganya adalah Muslim. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitâb al-Adzân: Dari Humaid dari Anas bin Malik bahwa “Nabi Saw jika memimpin kami memerangi suatu kaum, maka beliau tidak memerangi hingga masuk waktu shubuh, dan beliau memperhatikan, jika beliau mendengar adzan, maka beliau tidak memeranginya, sebaliknya jika beliau tidak mendengar adzan, maka beliau memeranginya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad al-Makiyyin: Dari seseorang dari Muzainah yang bernama Ibnu Isham. Ia adalah sahabat Nabi saw. Ia berkata: “Apabila Saw mengirim pasukan khusus (sariyah), beliau bersabda jika kalian melihat masjid atau mendengar adzan, maka janganlah kalian membunuh siapa pun.”
Adzan dan masjid termasuk di antara simbol-simbol Islam. Sehingga semua ini menunjukkan bahwa keberadaan negeri yang warganya kaum Muslim tidak mencegah untuk menyerangnya dan memeranginya dengan sunguh-sungguh. Ini artinya bahwa negeri itu dianggap sebagai negara (dâr) yang dalam situasi perang, sehingga diperangi seperti negara (dâr) manapun yang dalam situasi perang, sampai tunduk pada kekuasaan Islam, dan dalam keamanan kaum Muslim, serta bergabung ke dalam tubuh negara Islam.
Jadi, kesimpulannya bahwa masalah ini bukan sekedar masalah pemberontakan Muhammad bin Abdul Wahab terhadap negara, tetapi ia juga tidak mendorong untuk bergabung ke dalam tubuh negara Islam, bahkan ia merebut kekuasaan Khalifah di bumi Allah yang seharusnya tunduk pada kekuasaan satu orang Khalifah saja, serta terus berusaha melakukan disintegrasi terhadap persatuan dan kesatuan wilayah kaum Muslim dengan mengangkat pemimpin lain, yaitu Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan kemudian putranya Saud, serta tidak tunduk pada kekuasaan Khalifah. Ia merebut kekuasaan Khalifah di sebuah wilayah di dunia Islam, bahkan ia terus memberontak terhadap Khalifah hingga mencapai Homs dan Aleppo. Ia tidak puas hanya dengan membaiat pemimpin lain yang menguasai sebuah wilayah dari wilayah-wilayah dunia Islam, bahkan ia melakukan lebih dari itu, yaitu memberontak terhadap Khaliaf di dalam rumahnya. Dan hal itu akan kami jelaskan setelah ini, insya Allah.
Selanjutnya, bahwa posisinya menurut syara’ di hadapan negara Utsmani adalah posisi wilayah yang tidak tunduk pada kekuasaan Khalifah, sehingga menurut syara’ pula menjadi hak negara Utsmani untuk memeranginya dan menundukkannya pada kekuasaannya, berdasarkan hadis Sulaiman bin Buraidah ra, seperti tersebut di atas. Jika Abdul Azin dan setelah itu putranya Saud tidak tunduk terhadap Khalifah, bahkan keduanya terus merebut kekuasaan Khalifah di sebagian wilayah negara kaum Muslim, maka perbuatannya masuk dalam cakupan hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Imârah dari Arfajah yang berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ
“Siapa saja yang datang kepada kalian, sementara semua urusan kalian ada di tangan satu orang (Khalifah). Dan ia datang untuk memecah tongkat kalian, serta mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.”

Dan juga sabda Rasulullah Saw.:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
“Jika dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”

Abu Bakar ash-Shiddiq ra berkata sebagaimana yang tercantum dalam Sunan Baihaqi: “Tidak halal (haram) kaum Muslim memiliki dua orang pemimpin, sebab bagaimanapun baiknya keduanya, maka urusan dan keputusan mereka akan berbeda, jamaahnya akan cerai-berai, dan diantara mereka akan saling berebut, sehingga dalam kondisi seperti itu sunnah akan ditinggalkan, dan bid’ah akan bermunculan, serta akan terjadi fitnah yang lebih besar, akhirnya tidak seorang pun yang bisa memperbaikinya.”

Hal ini harus selalu diingat bahwa nash-nash haramnya akad Khilafah untuk dua orang adalah bersifat mutlak, meliputi semua keadaan, sama saja apakah wilayah-wilayah dunia Islam saling berjauhan, sehingga sulit akses kekuasaan pada yang satu dan yang lain. Nash-nash yang mutlak itu menunjukkan pada hukum haram, dan larangan menepati baiat yang kedua, dan memerintahkan untuk membuhnya siapapun dia!

Paragraf Kedua dari Jawaban Situs Islam Sual wa Jawab:

Syaikh Abdul Aziz Abdul Latif berkata: Setelah laporan singkat ini, yang telah menunjukkan posisi Syaikh terkait wajibnya mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum Muslim, yang baik dan yang buruk, selama mereka tidak memerintah bermaksiat pada Allah. Kami tunjukkan masalah yang jawabannya penting terkait syubhat (ketidakjelasan) tersebut, melalui sebuah pertanyaan penting yaitu: “Apakah ‘Najed’ wilayah dan tempat berdirinya dakwah ini ada di bawah kendali negara Khilafah Utsmani?”
Dr Shaleh al-Abud menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan: “Secara umum ‘Najed’ tidak pernah berada di bawah pengaruh negara Utsmani, sekalipun kekuasaannya terbentang luas, para wali negara Utsmani tidak datang ke sana, dan tidak ditemukan adanya perlindungan Turki di rumah-rumah Najed saat sebelum munculnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Sehingga semua ini menunjukkan fakta sejarah stabilitas pembagian administrasi negara Utsmani, diantarnya melalui disertasi tentang Turki berjudul: “Qawanin Alu Utsman Mudhamin Daftar ad-Diwan”, artinya “Undang-Undang Kelurga Utsman Yang Tersimpan Dalam Arsip Kantor”, yang ditulis oleh Yamin Ali Effendi, ia adalah sekretaris untuk arsip Khaqani, tahun 1018 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1609 Masehi. Melalui disertasi ini jelas bahwa sejak abad sebelas Hijriyah, negara keluarga Utsman terbagi menjadi 32 provinsi, di antaranya 14 provinsi Arab, dan negeri Najed tidak termasuk dari 14 provinsi itu, kecuali al-Ihsa’, jika kita menganggapnya bagian dari Najed.” (Aqidah asy-Syaikh Muhammd bin Abdul Wahab wa Atsaruha fi al-Alam al-Islami, 1/27, tidak dipublikasikan).

Dr Abdullah Utsaimin mengatakan: “Apapun alasannya ‘Najed’ tidak pernah berada di bawah pengaruh langsung Utsmaniyin sebelum lahirnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Juga tidak pernah ada pengaruh kuat yang memaksa kehadirannya pada jalannya peristiwa dalam bentuk apapun. Sehingga tidak ada pengaruh Bani Jabr atau Bani Khalid di beberapa aspeknya, serta tidak ada pengarus al-Asyraf dalam beberapa aspeknya yang lain sebagai jenis stabilitas politik terbaru. Sedangkan perang di antara negeri-negeri Najed masih berlangsung, dan konflik antara suku-suku yang berbeda berlangsung tajam diwarnai kekerasan.” (Muhammad bin Abdul Wahab Hayatuhu wa Fiqruhu, hlm. 11, melalui Da’awa al-Munawi’in, hlm. 234-235).

Sebagai pelengkap bahasan ini, kami kemukakan jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz atas kontradiksi ini. Bin Baz berkata: “Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak memberontak terhadap negara Khilafah Utsmani, sejauh apa yang saya ketahui dan saya yakini. Di Najed tidak ada kepemimpinan dan imarah bagi orang Turki, namun Najed adalah kepemimpinan kecil, dan desa-desa yang terebar. Setiap kota atau desa—sekalipun kecil—memiliki pemimpin yang independen. Itulah kepemimpinan yang diantara mereka terjadi pertumpahan dan peperangan, serta perselisihan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak memberontak terhadap negara Khilafah, namun ia melawan kondisi yang rusak di negerinya, kemudian ia berjihad dengan sebenar-benarnya jihad, ia sabar dan tekun hingga cahaya dakwahnya ini menyebar ke negeri-negeri lain.” (Nadwah Musajjalah ala al-Asyrithah, rekaman seminar”, melalui Da’awa al-Munawi’in, hlm. 237).

Dr Ajil an-Nasymi berkata: “….. Negara Khilafah berdiam diri saja, tidak menawarkan inisiatif sebagai reaksi kemarahan atau pertentangan apapun bentuknya. Padahal ada empat sulthan keluarga Utsman yang memimpin selama dalam kehidupan Syaikh.” (Majallah al-mujtama’, edisi 510).

*** *** ***

Terkait jawabab pada paragraf kedua ini, kami mengomentarinya sebagai berikut:

Sekali lagi, kami dapati bahwa jawabannya mengabaikan dalil-dalil syara’ yang seharusnya dipahami oleh seorang mujtahid dan ulama, khususnya realitas perbuatan sehubungan dengan negara Khilafah Islam. Juga kami dapati jawabannya benar-benar mengabaikan pemberontakan kelompok Wahabi bersama keluarga Saud terhadap Khalifah di dalam rumahnya, hingga serangan mereka mencapai Homs, seperti yang akan dijelaskan setelah ini, Insya Allah.

Ketika suku-suku Arab memberontak terhada negara Khilafah pada awal pemerintahan Khalifah Rasyidin pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Mereka tidak tunduk pada pemerintahannya, dan menolak untuk membayar zakat, padahal kapasitasnya sebagai Khalifah Rasulullah Saw, maka Abu Bakar memerangi mereka, dan mengirim tentara pada mereka hingga mereka tunduk pada kekuasaannya. Sehingga tidak seorang pun dari mereka yang mengakui (membela) pemberontakannya terhadap kekuasaan negara Islam, dan membentuk negara dalam negara!

Apakah kami katakan bahwa mereka yang menjawab masalah ini, yang diwakili oleh Dr Shaleh al-Abud, Syaikh Utsaimin dan lain-lainnya, mengatakan bahwa “hukum syara’ bagi orang yang keberadaan dirinya jauh dari pembagian administrasi negara Islam adalah memerdekakan dirinya dan mendirikan kekuasaan lain, serta membenarkan dirinya untuk memperluas kekuasaan ini dengan memasuki wilayah-wilayah yang tunduk pada negara Khilafah seperti Syam, Irak, Makkah, Madinah dan lainnya untuk dijadikan wilayah kekuasaannya, lalu ia mendirikan negara tanpa negara? Tidakkah semua ini dinamakan merebut kekuasaan dari mereka yang berhak?

Kemudian dimunculkan polemik bahwa Najed tidak mendapatkan sejumlah perlindungan negara Khilafah. Apakah ketundukan pada kekuasaan Khalifah hanya diketahui dengan adanya sejumlah perlindungan, atau adanya pengaruh yang memaksakan pengendalian berbagai kejadian besar dan kecil. Sebab ketika itu negara Islam sedang mengalami kelemahan. Sedang kelemahan bukan pembenaran syar’iy untuk melakukan pemberontakan. Akan tetapi, kewajiban yang benar dalam kondisi seperti itu adalah berusaha memperkuat pilar-pilar negara, dan mendidik masyarakat di daerah-daerah dan desa-desa terpencil akan wajibnya tunduk pada negara yang ada. Jika tidak, apakah kita membenarkan Khawarij Shufariyah, misalnya, yang memberontak terhadap negara Khilafah Umayyah di Maroko karena lemahnya komunikasi suku-suku di sana dengan Syam, dan apakah kita membenarkan memberontaknya setiap negeri kecil, yang kemudian mendirikan pemerintahan independen, sehingga mengakibatkan umat Islam tercerai-berai dan tidak lagi memiliki kekuatan?

Juga bukan hal yang begitu penting bahwa kekuasaan Khalifah dan pengawasannya meliputi daerah-daerah terpencil secara langsung untuk membenarkan bahwa daerah itu ada di bawah kekuasaan Khalifah, namun hal itu cukup dengan adanya komunikasi kekuasaan meski melalui jalan yang tidak langsung, seperti melalui para wali dan amir yang mereka itu diangangkat oleh Khalifah untuk memimpin daerah-daerah itu, serta memberi mereka hak untuk mengatur pengelolaan semua urusan di daerah mereka, sesuai dengan sistem yang dijalankan negara. Umar bin Khattab ra menolak permintaan para wali dan amir untuk mengembalikan padanya setiap persoalan besar dan kecil. Umar mengatakan pada mereka bahwa orang yang ada di lapangan (asy-syâhid) melihat apa yang tidak dilihatnya oleh orang yang tidak berada di lapangan (al-ghâib).

Faktanya, bahwa kekuasaan negara meliputi setiap daerah di sekitar Najed, namun tidak secara langsung sampai ke suku-suku di daerah-daerah terpencil. Kekuasaan itu telah sampai ke daerah-daerah perkotaan yang dekat dengannya. Sehingga hukum asalnya bahwa warga di desa-desa terpencil itu wajib merujuk pada amir terdekat yang ditugasi oleh Khalifah untuk mengurusi urusan mereka, terkait perkara-perkara yang mereka diberi kewenangan untuk mengurusinya, artinya mereka wajib bergabung dengan negara (dâr) muhajirin, sebagaimana perintahah Nabi Saw dalam hadis dari Sulaiman bin Buraidah yang disebutkan di atas.

Namun keyataannya bahwa keluarga Saud dan kelompok Wahabi di belakangnya telah memberontak juga di daerah-daerah yang sangat dekat dan tunduk kepada negara Khilafah. Berikut rincian terkait hal itu, seperti yang terdapat dalam kitab Kaifa Hudimat al-Kilafah, karya al-Allamah asy-Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh rahmatan wâsiatan: “Kelompok Wahabi benar-benar telah menemukan sebuah entitas dalam negara Islam yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud, kemudian putranya Abdul Aziz. Lalu Inggris membantu mereka dengan senjata dan uang. Selanjutnya mereka bangkit atas dasar madzhab untuk menguasai negeri-negeri yang tunduk pada kekuasaan Khilafah, artinya mereka mengangkat senjata melawan Khalifah, dan mereka memerangi tentara Islam, tentara Amirul Mukminin atas provokasi dari Inggris dan bantuannya terhadap mereka. Semua itu dilakukan demi merebut sebuah negeri dari Khalifah dan kemudian menerapkan madzhabnya, serta menghapus madzhab-madzhab Islam yang lain di luar madzhabnya dengan cara kekerasan. Mereka menyerang Kuwait pada 1788, dan mendudukinya, kemudian mereka terus bergerak ke utara sampai mereka mengepun Baghdad. Mereka ingin menguasai Karbala, serta makam Hussein ra untuk dihancurkannya dan melarang orang mengunjunginya. Pada bulan April, tahun 1803, mereka melancarkan serangan terhadap Makkah dan mendudukinya. Sementara pada musim semi, tahun 1804, Madinah jatuh di tangan mereka. Lalu, mereka merobohkan kubah besar yang menaungi makam Rasulullah, dan menyita semua barang berharga. Setelah mereka sukses menguasai seluruh Hijaz, mereka bergerak menuju Syam, dan mendekati Homs. Pada tahun 1810 mereka menyerang Damaskus dan juga menyerang Najaf. Damaskus pun membela dirinya dengan pertahanan yang kuat. Namun, kelompok Wahabi, bersamaan dengan mengepung Damaskus, mereka bergerak ke arah utara, dan meluaskan kekuasaannya di sebagian besar wilayah Suriah, hingga Aleppo.”

Apakah Damaskus, Baghdad, Aleppo, dan daerah-daerah ainnya tidak dikatakan daerah yang tunduk pada kekuasaan negara Khilafah, dan apakah tindakan seperti itu tidak disebut memberontak terhadap negara khilafah, merobohkannya, merusak pilar-pilarnya, dan menghancurkan bangunannya?

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apa hukum syara’ terhadap orang yang melakukan kejahatan seperti ini?

Rasulullah Saw bersabda sebgaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya di Kitab al-Imârah dari Arfajah yang berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ
“Siapa saja yang datang kepada kalian, sementara semua urusan kalian ada di tangan satu orang (Khalifah). Dan ia datang untuk memecah tongkat kalian, serta mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.”

Sehingga tidak ada berkah Allah terhadap upaya dan aktivitas yang dilakukan untuk memecah tongkat (kekuasaan) kaum Muslim, mencerai-beraikan jamaahnya, dan mencabut tangannya dari taat pada Khalifahnya yang dibaiat untuk didengar dan ditaatinya.

Jadi, mengambarkan persoalan kelompok Wahabi dan para Saudis bahwa mereka mendirikan negara yang sama sekali tidak ada konflik dengan Khilafah, dan bahwa mereka mendirikannya di wilayah yang sama sekali tidak tunduk pada negara Khilafah, adalah bentuk pendistorsian kebenaran dan pemutar balikan fakta, serta menutup mata dari sejumlah serangan militer yang telah mereka lakukan untuk memecah negara khilafah, memotong uratnya dan mencerai-beraikan jamaah kaum Muslim.

Paragraf Ketiga dari Jawaban Situs Islam Sual wa Jawab:

Jika hal di atas mencerminkan persepsi asy-Syaikh terhadap negara Khilafah, lalu bagaimana citra dakwah asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan negara Khilafah?

Dr Nasymi menjawab pertanyaan ini: “Citra gerakan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan negara Khilafah adalah citra yang sangat terdistorsi dan kacau, sehingga negara Khilafah tidak memperlihatkan kecuali sikap anti-gerakan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, baik melalui laporan yang dikirim oleh para walinya di Hijaz, Baghdad atau lainnya …, atau memalui beberapa individu yang tiba ke kota Konstantinopel dengan membawa berita.” (Majallah al-mujtama’, edisi 504, melalui melalui Da’awa al-Munawi’in, hlm. 238 – 239).

*** *** ***

Ini juga merupakan bentuk pendistorsian fakta. Apakah negara Khilafah sebodoh itu hingga tidak mengetahui serangan yang telah sampai ke Baghdad, Damaskus dan Aleppo, sehingga negara Khilafah harus menunggu laporan dari para musafir yang mendistorsi fakta?

Paragraph Keempat dan Terakhir dari Jawaban Situs Islam Sual wa Jawab:

Adapun klaim “Zallum” bahwa dakwah asy-Syaikh salah satu penyebab runtuhnya Khilafah, dan bahwasannya Inggris membantu gerakan Wahabi meruntuhkannya. Maka dalam hal ini, Mahmud Mahdi mengatakan: Orang Istanbul menjawab klaim kontroversi ini. Seharusnya penulis ini mendukung pendapatnya dengan dalil dan bukti. Dahulu kala seorang penyair pernah berkata: “Jika klaim tanpa didukung dengan dalil, maka itu menjadi bukti kebodohannya”.

Padahal sejarah membuktikan bahwa orang-orang Inggris justru sangat menentang dakwah ini sejak berdirinya karena takut akan kebangkitan dunia Islam. (asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Mir’ah asy-Syarq wa al-Gharb, hlm. 240).

Ia mengatakan: Sungguh aneh dan ironis bahwa al-Ustadz ini menuduh gerakan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul wahab sebagai salah satu sebab runtuhnya Khilafah Utsmani, padahal semua tahu bahwa gerakan ini berdiri sekitar tahun 1811 M, sedang Khilafah runtuh sekitar tahun 1922 M. (asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Mir’ah asy-Syarq wa al-Gharb, hlm. 64).

Dan bukti yang menunjukkan Inggris menentang gerakan Wahabi, bahwa mereka mengirim Kapten Forster Sadler untuk mengucapkan selamat pada Ibrahim Pasha atas keberhasilan melawan gerakan Wahabi—selama perang Ibrahim Pasha di Dar’iyyah—dan hal ini juga memperkuat kecenderungan untuk bekerja sama dengan gerakan Inggris guna mengurangi apa yang mereka sebut pembajakan Wahabisme di Teluk Arab.

Bahkan, misi ini jelas menyatakan keinginan untuk membuat kesepakatan antara pemerintah Inggris dan Ibrahim Pasha dengan tujuan menghancurkan gerakan Wahabi sepenuhnya.

Syaikh Muhammad bin Mandzuz an-Nu’mani mengatakan: “Inggris telah memanfaatkan situasi yang berlawanan di India terkait Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sehingga mereka menuduh orang-orang yang menentang dan melawan mereka, yang mereka anggap sebagai ancaman bagi institusinya, dengan tuduhan Wahabisme dan didakwa Wahabi. Bahkan Inggris juga menyebut para ulama Deoband—di India—dengan sebutan Wahabi karena mereka secara terbuka menentang Inggris, dan mempersempit geraknya.” (Di’âyât Muktsifah Dhiddu asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, hlm. 105 – 106)

Dari kutipan beragam tersebut terbongkar kepalsuan dan kecacatan syubhat (ketidakjelasan) selama ini berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang jelas melalui sejumlah risalah asy-Syaikh dan al-Imam, serta karya-karya tulisnya. Juga terbongkar kepalsuan syubhat (ketidakjelasan) berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ditulis oleh mereka yang jujur dan adil.” (Da’awa al-Munawi’in, hlm. 239 – 240).

Akhirnya kami menasihati semua orang yang selama ini mulutnya lancang terhadap asy-Syaikh untuk segera menghentikannya, dan bertakwa kepada Allah dalam semua urusannya, semoga Allah menerima taubatnya dan menunjukkannya ke jalan yang lurus.

*** *** ***

Al-Imam al-Allamah asy-Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh rahmatan wâsiatan mengatakan dalam kitabnya yang tiada duanya Kaifa Hudimat al-Kilafah: “Semua tahu bahwa kampanye Wahhabi adalah pekerjaan Inggris, karena keluarga Saud adalah antek Inggris. Mereka telah memanfaatkan madzhab Wahabi—yaitu sebuah madzhab Islam, dan pendirinya adalah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab di antara seorang mujtahid—dimana mereka memanfaatkan madzhab ini dalam aktivitas politik untuk memukul negara Islam, dan membenturkannya dengan madzhab-madzhab lain, agar menimbulkan perang madzhab dalam negara Utsmani, tanpa disadari oleh para pengikut madzhab ini. Akan tetapi hal itu disadari oleh pangeran Saud, dan para Saudisme. Karena hubungan itu bukan antara Inggris dan pemilik madzhab, Muhammad bin Abdul Wahab, namun antara Inggris dan Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, kemudian antara Inggris dan putranya Saud.

Dia mengatakan: Abdul Aziz, pada tahun 1788 mempersiapkan serangan militer besar-besaran, kemudian menyerang Kuwait, menaklukannya dan menguasainya. Sementara Inggris berusaha untuk mengambil Kuwait dari negara Utsmani, namun Inggris tidak mampu melakukannya. Mengingat negara-negara lain, seperti Jerman, Rusia dan Prancis menentangnya, sementara negara Khilafah melawannya. Sehingga memisahkan Kuwait dari negara Utsmani, lalu maju ke utara untuk melindunginya, guna menarik perhatian negara-negara besar seperti Rusia, Jerman dan Prancis, serta untuk menarik perhatian negara Utsmani.

Sementara ketundukan dan loyalitas keluarga Saud pada Inggris sudah dikenal oleh negara Khilafah dan negara-negara lain, seperti Jerman, Prancis dan Rusia, serta semua tahu bahwa mereka dikendalikan oleh Inggris. Sementara Inggris sendiri tidak menyembunyikan keberpihakannya pada para Saudisme secara internasional, termasuk banyak senjata dan peralatan yang telah sampai pada mereka melalui India, serta uang yang dibutuhkannya untuk perang dan mobilisasi tentara, maka semua itu adalah senjata dan uang dari Inggris. Oleh karena itu, negara-negara Eropa, terutama Prancis menentang kampanye gerakan Wahabi, dan ini dilakukan karena Prancis menganggapnya sebagai kampanye Inggris.

Negara Khilafah telah berusaha untuk memukul gerakan Wahabi, namun tidak mampu menghentikannya. Para walinya di Madinah, Baghdad dan Damaskus sudah tidak berdaya untuk melawannya. Kemudian negara Khilafah meminta walinya di Mesir, Muhammad Ali untuk menyingkirkan tentara mereka. Dalam hal ini, negara Khilafah terlambat, sebab ia telah menjadi antek Prancis. Karena Prancis yang membantunya dalam melakukan kudeta di Mesir dan berhasil merebut kekuasaan. Lalu, memaksa Khilafah untuk mengakuinya. Berdasarkan persetujuan Prancis dan provokasinya, ia memenuhi perintah Sultan pada tahun 1811. Ia pun mengirim putranya, Tusun untuk memerangi mereka. Sehingga terjadi banyak pertempuran antara mereka dan tentara Mesir. Pada tahun 1812, tentara Mesir bisa menaklukkan Madinah. Kemudian pada Agustus 1816, ia mengirim putranya Ibrahim dari Kairo, sehingga gerakan Wahabi benar-benar hancur, sehingga mereka mundur ke ibukota mereka Dir’iyah, dan mereka berlingdung di dalamnya. Ibrahim mengepung mereka pada bulan April, tahu 1818, sepanjang musim panas. Pada tanggal 9 September 1818, gerakan Wahabi menyerah. Tentara Ibrahim benar-benar telah meratakan Dir’iyah dengan tanah. Sehingga dikatakan: “Tentara Ibrahim telah membajaknya dengan bajak sehingga tidak menyisakan apapun”. Dengan demikian, berakhirlah semua upaya Inggris.

Terdapat dalam Mausû’ah Muqâtil min ash-Shahra’: “Hubungan Negara Saudi dengan Syam”.

Sumber-sumber Najd mengatakan bahwa Imam Abdul Aziz bin Muhammad memerintahkan beberapa pasukannya, pada tahun 1208 H/1793 M, untuk pergi ke Dumatul Jandal, di pinggiran Syam, dan memerangi warganya. Hal itu didasarkan informasi bahwa pasukan wali Utsmani ada di Syam. Pada tahun 1212 H/1797 M, Hujailan bin Hamad, pemimpin al-Qashim memimpin tentara rakyat al-Qashim, kemudian menyerang Bawadi asy-Syararat, sehingga banyak tokoh-tokohnya yang terbunuh, serta merampas harta dan barang-barang dalam jumlah besar.

Serangan tersebut untuk memperkuat penyebaran prinsip-prinsip dakwah reformasi di wilayah itu, dan mengambil zakat dari penduduknya. Bahkan serangan itu sampai di Bawadi asy-Syam, pada tahun 1218 M. Dari semua itu dipahami bahwa penduduk Bawadi asy-Syam telah menjadikan loyalitas politik dan agamanya pada Dir’iyah (wilayah kerajaan Arab Saudi), tidak lagi pada wali Syam.

Ketika pengaruh Saudisme telah meliputi negeri Hijaz, maka mereka berada dalam posisi, yang membuatnya berani berhadapan langsung dengan kekuasaan Utsmani. Dan tantangan pertama negara Saudi adalah kepada wali Syam, pada tahun 1.221 H/1.806 M, ketika Imam Saud bin Abdul Aziz melarang Amir al-Haj al-Syami, Abdullah Pasha al-Adhm masuk ke al-Haramain (Makkah dan Madinah) untuk berhaji, karena ia datang membawa gendang dan seruling. Sehingga hampir terjadi bentrokan antara tentara Saudi dan tentara Abdullah Pasha al-Adhm, yang tidak dalam posisi militer (siap perang), yang memungkinkannya untuk bertemu dengan para Saudisme. Akibatnya, Sultan Salim III, memecat Abdullah Pasha al-Adhm, dari jabatannya karena ia tidak berbuat banyak untuk menghadapi pasukan Saudi, dan malah ia pulang kembali tidak berhaji, atas perintah Imam Saud bin Abdul Aziz. Dan menggantinya dengan Yusuf Pasha King. Sultan mengeluarkan perintah tegas kepada Yusuf Pasha King, tentang keharusan memerangi para Saudisme. Namun ia tidak melakukan tindakan positif apapun, justru ia sibuk mengumpulkan uang untuk dirinya sendiri, dan mengulur-ulur misi negara. Dan untuk merespon perintah Sultan, ia cukup dengan mengirimkan rencana perang, yang dianggapnya mampu mewujudkan keinginan Sultan. Yusuf King telah mengusulkan untuk berbagi dua wilayah dengannya, yaitu Mesir dan Baghdad, dalam penyusunan serangan, untuk melakukan misi yang dipercayakan kepadanya.
Sementara itu, Imam Saud bin Abdul Aziz melakukan serangan militer terhadap Syam. Dan ia berhasil mencapai di balik gunung Hermon (jabal al-syaikh). Selanjutnya pasukan Saudi bergerak di dataran Hauran, lalu menyerang benteng al-Mazirib dan Basra.
Imam Saud bin Abdul Aziz mengirim surat pada wali Syam, dan meminta penduduknya untuk menaatinya, serta memeluk prinsip-prinsip dakwah Salafi (lihat: Lampiran contoh-contoh surat Imam Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan balasannya). Ia menarik pasukannya dari Syam dengan membahwa banyak harta rampasan perang. Akibatnya, Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah pemecatan Yusuf Pasha King, karena ketidakmampuan. Dan diangkatlah Sulaiman Pasha sebagai wali di Syam. Ia diminta untuk menghubungi wali Mesir, Muhammad Ali Pasha, guna mengkoordinasikan upayanya melawan Dir’iyah.

Namun, Sulaiman Pasha dan Muhammad Ali Pasha, tidak menemukan kata sepakat. Jadi, negara masih melihat wali Mesir untuk mewujudkan tujuannya.”

Pertanyaan yang ingin kita sampaikan kepada mereka yang menjawab di situs ini: “Dari mana beberapa suku padang Shara memperoleh uang dan peralatan yang membuatnya mampu dengan serangannya mencapai wilayah-wilayah terpencil dan jauh dari kedudukannya di Najed, menggantikan posisi negara-negara besar yang sedang berkonflik di atasnya, serta menentang para wali negara Utsmani hingga memaksanya untuk meminta bantuan wali Mesir guna menghadapi pasukan bersenjata mereka. Kemudian wali Mesir menyerang mereka dan menghilangkan sumber kerusakan yang terus berusaha untuk memecah tongkat ketaatan dan jamaah kaum Muslim, serta mencerai-beraikan persatuan mereka. Padahal ketika itu, minyak bumi belum ditemukan untuk mendanai berbagai serangan. Juga industri pedang dan baju besi tidak ada di pasar Najed, untuk mempersenjatai tentara agar mampu melancarkan berbagai serangan yang kuat di timur, barat, utara dan selatan! Sungguh tidak diragukan lagi bahwa ia tidak lain adalah tangan-tangan (antek) Inggris!

Amin ar-Raihani dalam kitabya Mulûk al-Arab, hlm. 56, menulis tentang Abdul Aziz Al Saud yang mengatakan: “Orang-orang berpikir bahwa kami menerima sejumlah besar uang dari Inggris. Padahal yang benar, bahwa Inggris tidak membayar kami kecuali sedikit guna mewujudkan sejumlah perbuatan yang kami lakukan untuk kepentingan mereka selama dan setelah perang. Antara kami dan mereka ada perjanjian yang akan kami jaga sekalipun hal itu akan membahayakan diri kami dan kepentingan kami. Inggris berutang pada kami, dan kami tidak meminta selain apa yang menjadi hak bapak dan kakek kami. Agar hal itu diketahui oleh sahabat kami, Inggris.” Sejumlah pemberian itu diakui oleh Pangeran Talal bin Abdul Aziz, dalam sebuah wawancara dengannya di Aljazeera, dalam program “Syâhid ala al-Ashr”.

Utsman Bakhasy
Direktur Pusat Media Informasi
Hizbut Tahrir