Keluarga

KISAH SEDIH SEORANG KORBAN BULLY

Posted on

KISAH SEDIH SEORANG KORBAN BULLY : SEBAB BULLYING TAK HANYA MENYAKITI HATI, NAMUN JUGA MENGHANCURKAN PSIKIS ORANG YANG ENGKAU BULLY.

Ditulis oleh Fissilmi Hamida (@fissilmihamida)

Saat kalian SMP & SMA, adakah teman kalian yang selalu jadi sasaran bully? Teman yang paling dibenci? Layaknya pesakitan yang terus dihujat tiada henti? Atau justru kalianlah yang menjadi obyek bully?

Inilah kisahku, seorang survivor bullying. Aku merasa wajib membagikan tulisan ini mengingat budaya bullying di negeri kita masih terus saja dianggap sebagai hal yang wajar, yang diperparah dengan banyaknya acara TV berkedok acara komedi namun isinya full bully. Benar, semenjak bertahun-tahun yang lalu, aku sudah kenyang dengan berbagai bullying, baik fisik atau verbal, yang seringkali dialamatkan pada fisikku. Inilah kisahku, dengan julukan yang saat itu disematkan padaku : si bau, si kerempeng, si tonggos, dan si si lainnya yang begitu menyakitiku. Inilah kisahku tentang 6 tahun terkelam dalam hidupku.

6 tahun itu bukan waktu yang singkat, kan?
____________________

Kamar Shofa, bertahun-tahun silam.

Saat itu aku tengah menyetrika di sebuah kamar yang kami sebut sebagai kamar Shofa, bersama 1 orang lainnya yang juga seringkali menjadi sasaran bully siswa lainnya. Namanya Farinka. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja, ada seorang kakak kelas yang berasal dari kota tempatku berasal yang tiba-tiba datang dan memakiku. Katanya aku hanyalah sampah bau, bahwa keberadaanku hanyalah pengganggu bagi yang lainnya. Aku diam saja. Mencoba untuk tidak menanggapi meski hatiku rasanya sakit sekali. Tiba-tiba sosok itu menarikku, menyeretku keluar kamar, juga melemparkan baju-bajuku. Aku kembali di maki habis-habisan. Dan aku hanya bisa menangis tertahan sembari memunguti baju-bajuku yang dilemparkannya ke lantai.

Benar, saat masih usia SMP-SMA, hampir setiap hari aku menerima bullying, terutama terkait fisikku. Itulah salah satu masa terberat dalam hidupku dimana aku menangis setiap harinya. Pura-pura ke kamar mandi untuk buang air kecil, padahal disana aku menangis sejadi-jadinya. Lalu kembali muncul dengan wajah pura-pura tampak bahagia. Apalagi saat itu aku bersekolah di sekolah asrama sehingga baik di sekolah ataupun di asrama, aku terus menerus menemui bullying yang seolah tidak ada habisnya : mulai dari sematan ‘BIBIR NDOBLEH’ untuk menghina bibir tebalku, ‘GIGI NDONGOS’ untuk merendahkan gigi tonggos-ku yang mungkin tidak seindah miliknya, juga sematan-sematan menyakitkan lainnya. Bahkan ada juga adik kelasku yang cantik jelita, mulus kulitnya, tega memanggilku dengan sebutan ‘Mbak Ndongos’.

Sayangnya, ada juga oknum guru berwajah khas Arab yang justru ikut andil dalam membully-ku :

“Kalau tertawa itu ditutup. Kasian yang lihat gigi ndongosmu nanti ketakutan,”

Begitu kata salah satu guruku waktu itu dan seisi kelas tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Sedangkan aku? Allahu Rabbi, sakit sekali rasanya. Belum lagi saat aku terus menerus diolok-olok dijodoh-jodohkan dengan teman laki-laki yang kebetulan giginya juga kurang sempurna seperti yang lainnya (saat ini aku tidak tahu bagaimana kabarnya tapi semoga Allah selalu merahmatinya). Bahkan salah satu kakak kelas pernah melakukannya di depan umum, di depan ratusan siswa sehingga seisi asrama, putra dan putri semua tertawa terbahak-bahak, tertawa bahagia tanpa sedikitpun merasa iba pada apa yang kurasa. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menangis, meski pada akhirnya ia meminta maaf.
___________________

Hari Selasa, saat kelas 2 SMP, saat berjalan menuju kelas untuk acara pidato 2 bahasa.

Aku memiliki tanda lahir di daerah sekitar mata di sebelah kiri yang membuatku terlihat seperti habis terjatuh/dipukul. Aku ingat betul, saat itu, salah satu teman sekelasku, salah satu anak cantik, gaul dan populer saat kelas 2 SMP dulu mendadak berteriak-teriak ketakutan saat aku sejenak melepas kacamataku. Dia terus menutupi wajahnya dan memeluk teman lainnya sambil terus berteriak ketakutan. Aku jadi salah tingkah dan buru-buru memakai kacamata. Apa yang terjadi kemudian? Dia dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan saat itu aku sadar, dia hanya pura-pura ketakutan untuk meledekku. Saat itu aku tidak bisa apa-apa, hanya bisa berjalan menunduk sambil meneteskan airmata dan bertanya-tanya :

“Semengerikan itukah fisik-ku?” 😭

Dan mereka melakukan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali tiap aku tidak memakai kacamata!

Dan perlakuan semena-mena ini tak berhenti sampai disitu. Hanya karena akulah yang paling menjadi sasaran empuk bully, saat ada yang kehilangan barangnya, akulah yang seringkali menjadi sosok pesakitan yang dituduh melakukannya. Namun saat aku kehilangan uang yang sedianya untuk membayar SPPku, tak ada yang menanggapi saat aku melaporkannya. Laporanku hanya dianggap sebagai dusta. Bahkan kakak senior yang merupakan siswi asal Purbalingga, yang menjadi pembimbing kamarku dengan keras melarangku untuk tak melaporkan kejadian itu. Takut nama seluruh anggota kamar menjadi jelek. Lagi-lagi, aku hanya bisa menangis karenanya.

Bahkan pernah saat aku tengah dekat dengan salah satu kakak kelas yang berada di 3 angkatan di atasku (dekat layaknya adik kakak, layaknya sahabat saja, bukan dekat lantaran ada cinta), lalu beberapakali aku bertukar surat motivasi dengannya, aku disidang oleh pengurus OPPMA (semacam OSIS). Memang, aku melanggar aturan asrama dengan bertukar surat dengan lawan jenis. Aku sepenuhnya sadar itu dan aku menerima jika memang harus dihukum karena itu. Tapi yang membuatku sedih, saat mereka menyidangku, mereka bukannya menyalahkan pelanggaranku, melainkan menghinaku bahwa sosok sepertiku, sosok sejelek diriku tak pantas dekat dengan kakak kelas populer seperti kakak kelasku itu.

Sakit, sakit sekali rasanya. Sebab itu semua terjadi bertahun-tahun lamanya. Bahkan saat Desember lalu ada reuni akbar untuk semua alumni, aku menangis haru saat group paduan suara menyanyikan lagu hymne sekolahku. Bukan, aku menangis bukan karena terhanyut dalam lagu itu. Tapi lantaran kembali teringat masa-masa menyakitkan yang kualami saat itu.

Perih, bagai tertusuk duri sembilu. Dan sebuah sumur di pojokan, di samping jemuran itu pernah menjadi saksi betapa sudah tak kuasa hatiku menahan semua itu. Aku sempat menatap nanar ke dalam sumur, berfikir untuk meloncat saja ke dalam sana agar penderitaanku berakhir dengan segera. Namun untungnya seseorang mengagetkanku, seorang adik kelas asal Pekalongan yang tetiba menyapaku, bertanya sedang apa diriku. Sapaan yang membuatku mengurungkan niatku. Terimakasih ya, Dek Laela Prahesti . Mungkin dirimu sudah lupa. Tapi sapaanmu saat itu menyelamatkanku.
__________________

Bertahun-tahun hidup penuh bully dan caci, membuatku kehilangan kepercayaan diri jika sudah menyangkut fisik, bahkan sampai saat ini. Meski sejak S1 dulu, bully dan caci maki sudah sangat drastis berkurang dan meski semenjak disini, tidak pernah lagi ada yang membully.

Saat hendak bertemu calon suami untuk pertama kalinya setelah beliau menyatakan tertarik denganku dan ingin bertemu, entah berapa kali aku bolak-balik berganti baju, entah berapa jam lamanya aku berada di depan cermin : hanya karena bully dan caci yang pernah aku peroleh dahulu kembali terngiang dan aku takut lelaki ini akan lari ketakutan dan tidak mau melanjutkan proses setelah bertemu dan melihat fisikku secara langsung. Tapi alhamdulillaah, yang aku takutkan tidak pernah terjadi.
___________________

Ryukoku University, Kyoto, saat konferensi international, Juni 2016.

Namanya Rod Ellis. Profesor Rod Ellis. Selama ini aku hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya saja, lewat teorinya, lewat risetnya. Sebab mahasiswa jurusan TESOL pastilah bersahabat dengan tulisannya. Dengan wajah tertutup masker, aku duduk di pojokan. Menunggu kedatangan Prof. Ellis. Benar, aku memang sengaja menutup wajahku. Saat itu wajahku hancur sekali. 2 gigi depan patah, bibir bengkak berdarah, wajahku biru lebam, lantaran sehari sebelumnya aku mengalami kecelakaan yang membuat wajahku mencium kerasnya aspal. Sebetulnya, giliranku untuk mempresentasikan paperku masih besok. Tapi aku memaksakan diri untuk datang hari itu demi bertemu langsung Prof. Rod Ellis.

“Why do you cover your face?” sebuah suara mengagetkanku. Ya Tuhan! Itu suara Prof. Ellis. Tiba-tiba saja dia sudah berada di sebelahku.

Dengan sedikit gugup, aku menjelaskan padanya. Tahu apa yang dikatakannya?

“Tidak perlu menutup wajah seperti itu karena disini, tidak akan ada orang yang akan meledek wajahmu.”

Bahkan sang Profesor tiba-tiba memanggil seseorang dari Oxford University Press dan memintanya untuk memfotokan kami berdua, di saat yang lainnya ingin berfoto bersamanya namun ditolaknya dengan alasan ia masih lelah.

Perlakuan yang sama juga kudapat dari peserta konferensi lainnya, agar aku tak menutup wajahku, agar aku tak minder dan merasa malu dengan kondisi wajahku kala itu.

Saat mendengar kabar aku terjatuh sehingga menyebabkan dua gigiku patah, banyak sekali pesan yang kuterima dari teman-teman sekampus menanyakan keadaanku. Mereka kira aku bercanda saat aku bilang :

“kalian akan takut melihat wajahku nanti.”

Dan benar, saat aku kembali ke Bristol, aku sempat malu untuk bertemu teman-teman ‘nongkrong’ ku. Lagi lagi, karena memang bully dan caci maki bertahun tahun lalu itu benar benar menurunkan rasa percaya diriku. Tahu apa yang mereka katakan?

” We don’t care. Even if you don’t have teeth anyomore, you are still our lovely Mimi that we know.”

Jawaban yang membuat keharuan menyelimutiku.
____________________

Sainsburry, Queens Road, Bristol, 2016.

Sebelum pulang ke Chantry Court selepas aku selesai belajar di Beacon Study House, aku menyempatkan diri untuk belanja beberapa keperluan di Sainsburry.

Tiba-tiba ada seorang perempuan mendekatiku, meminta maaf dan bertanya apakah aku baik-baik saja setelah melihat ada tanda biru di wajah sebelah kiriku (tanda lahirku). Saat aku bilang saya baik-baik saja dan itu hanya tanda lahir, perempuan berambut pirang ini berkali-kali minta maaf. Dia bilang dia sama sekali tidak ada maksud menyinggung. Dia hanya takut aku habis terjatuh atau dipukul sehingga meski tidak kenal, dia memberanikan diri untuk bertanya apakah aku baik-baik saja, membuatku diselimuti rasa haru karena kembali teringat apa yang dilakukan teman-temanku dulu saat melihat tanda lahir ini. Bisa dirasakan, kan, apa bedanya perlakuan yang kudapatkan disini dan disana?
__________________

Kawan, siapapun yang membaca kisah ini, aku
hanya ingin kita semua berhenti menjadikan keadaan fisik seseorang sebagai bahan hinaan, walaupun maksudnya mungkin hanya sebagai bahan candaan. Sebab bisa jadi di depan kita ia ikut tertawa, sedangkan di saat sendirian, ia menangis sejadi-jadinya.

Sebab memang hinaan itu tajam laksana pedang. Sekali tertancap, akan terus ada bekasnya. Contohnya aku. Hingga detik inipun aku masih ingat siapa saja yang saat itu tidak pernah berhenti membully fisikku, kapan kejadiannya dan apa yang dikatakannya. Meski aku sudah memaafkan, namun semua masih terekam jelas dalam ingatan. Ah, bahkan ingin rasanya aku berkomentar : “tapi ayahmu lupa mendidikmu untuk tidak membully temanmu” saat melihat salah satu yang dulu pernah begitu membully-ku menuliskan tentang betapa hebatnya ayahnya mendidiknya. Namun aku urung melakukannya. Dan karena pengalaman ini pula, aku menjadi sangat sensitif jika ada orang yang berani membuat keadaan fisik seseorang sebagai bahan candaan.

Sungguh, tidak mudah bagiku hingga akhirnya aku bisa berdiri tegak untuk percaya diri seperti ini, menutup mata, telinga, dan terus melangkah tanpa menghiraukan apapun yang orang katakan tentangku. Bahkan butuh bertahun-tahun untukku berani berfoto dengan senyum menampakkan gigi seperti ini 😊

Memang, pada akhirnya aku berhasil survive. Aku berhasil melampiaskan kesedihanku pada hal-hal positif, menjadikan hinaan dan caci maki tanpa henti itu sebagai motivasi untukku bangkit dan melompat lebih tinggi. Tapi tidak semua korban bullying bisa begini, tidak semuanya bisa bertahan, terutama jika dirasa perlakuan yang ia terima sudah teramat keterlaluan. Browsing saja. Ada banyak korban bully yang akhirnya bunuh diri lantaran tidak kuat setiap hari menghadapi bully 😦

Ingat bahwa bully dan cacimu tidak hanya akan menyakiti hati, namun juga mempengaruhi keadaan psikis orang yang engkau caci.

So please, berhentilah membully!
__________________
Ditulis dengan penuh linangan airmata, saat tetiba ingat seluruh rasa sakit yang kurasa. Kembali menuliskan tentang ini lantaran kenangan pahit yang kembali menjelma setelah tak sengaja melihat seseorang mengupload foto seseorang dan menjadikannya bahan hinaan dan canda tawa.

Pesan cinta dari korban bully yang lambat laun mampu membangkitkan kepercayaan dirinya kembali.

Advertisements

Keimanan Modal Indah untuk Pernikahan

Posted on

Keimanan Modal Indah untuk Pernikahan

Menikah di usia 20 tahun, kuliah di Kebidanan semester 4, dibiayai oleh kakak sulung. Dengan calon suami berusia 21 tahun, sedang kuliah, membiayai diri sendiri, belum mempunyai pekerjaan, menanggung 6 adiknya untuk hidup. Apa anda berani menikah dalam keadaan seperti itu? Rumit, banyak mainset yang perlu diubah. Apa yang terjadi? saat mindset sang wanita sudah berubah, begitu pula mindset sang lelaki sudah berubah, Lamaran itu ditolak orangtua pihak wanita karena pertanyaan, “Apa yang kamu punya untuk menikah?”.

“Saya memang belum mempunyai apa-apa dari segi materi, pak. Saya hanya minta keridhoan bapak dan ibu untuk menikahkan saya dengan putri bungsu bapak dan ibu. Saya hanya berpijak pada keimanan saya yang belum cukup, selalu tidak cukup. Saya hanya takut, jika pernikahan ini menunggu materi yang saya punya nanti, saya malah tergelincir berbuat maksiat kepada-Nya. Tidak ada yang bisa menjamin, saya dan putri bapak yang saling mencintai karena Allah dapat terhindar dari maksiat dan dosa, meskipun kami sendiri tidak berniat untuk melakukannya. Na’udzubillahi min dzalik. Nabi Adam pun dapat tergelincir rayuan dan bisikan syetan, padahal ia bertemu langsung dengan Allah. Keimanannya pun pastilah sangat kuat. Apatah lagi saya yang bukan siapa-siapa, keimanan saya terlalu rapuh, saya tidak pernah bertemu langsung dengan-Nya. Yang saya punya hanya keinginan kuat untuk berada dalam jalan yang diridhoi-Nya dengan mengikuti Rasulullah, menjalankan sunnah untuk menyempurnakan setengah dari agama.”

Dan jawabannya, “Kami pun tidak terlalu mengunggulkan materi, hanya saja kita tetap perlu untuk kelangsungan kehidupan sehari-hari. Saya tidak menolak, tapi tolong ditangguhkan sampai kalian mampu. minimal untuk hidup kalian saja” Sang Bapakpun menjawab.

Matapun pedih, panas, hati pilu. Lelaki sholeh yang asalnya pun belum berniat menikah pada usia yang demikian muda, namun untuk menjaga fitnah dirinya dan wanita yang dicintainya, ditolak karena belum mempunyai materi apa-apa. Ia pun pulang dengan senyum. Harus tetap dalam keadaan baik, apapun yang terjadi. Prinsipnya.

Malam hari setelah peristiwa. “Bapak, kalau Bapak mengaku mencintai Rasul. Tahu tidak apa yang Beliau katakan tentang ini?” sang putri pun mengingatkan.

“Silakan sayang, utarakan. Apa kata Beliau?” tanya sang ayah mempersilakan.

“Kalau tidak salah, redaksinya seperti ini. Barangsiapa menolak lamaran seorang lelaki yang sholeh, maka tunggulah fitnah yang akan menghampirinya.”

“Nak, Bapak bukan menolak. Tapi menunda.”

“Ini bukan bentuk pemaksaan atau pembelaan diri, coba dengar dan ikuti suara hati ayah… Kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita hidup. Kenapa kita berani menunda? seolah olah kita tahu kapan datangnya ia (kematian).”

“Baiklah kalau tidak ditunda. Bagaimana dengan tempat tinggalmu?”

“Tidak maukah ayah, aku tinggal disini sementara bersama suamiku. Atau bila tidak aku tinggal di sini dan suamiku tinggal di rumah ibunya. Sementara sampai kami mampu?”

“Tentu ayah mau. Tapi apa kata orang, sayang?”

“Bila ada yang berani menggunjing. Biarlah ia bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Generasi terbaik pun pernah mengalaminya. Saat ‘Aisyah r.a dinikahi Rasulullah. Ia tinggal bersama orangtuanya (Abu Bakar Ash-Shidiq r.hum), sedangkan Rasulullah di Madinah. Beliau tidak mempermasalahkannya, kenapa kita mempermasalahkan. Keimanan yang membuatnya indah, Ayah!”

“Kamu benar sayang, bagaimana dengan biaya hidup atau minimal makanmu sehari-hari?”

“Ayah, kami punya iman. Kami bukan orang-orang yang hanya ingin berpangku tangan. Kami akan berusaha, terus berusaha. Sekali lagi, ridhokah Ayah sementara waktu menanggung biaya makan putri Ayah yang sudah menikah?”

“…………… Ridho sayang. Sangat ridho. Tapi kok, kesannya suamimu enak banget. Hanya ingin menikahi tanpa harus menanggungmu.”

“Abu Bakar tidak pernah bilang begitu pada Rasulullah, Ayah!”

“…………………………………………….”

“Kami akan berusaha, Ayah. Akan. Kami berjanji! Iman penuntun kami! Baiklah kalau begitu ada pilihan lain.”

“Apa itu?”

“Nabi SAW bersabda: Tidak ada kewajiban bagi suami untuk menafkahi istrinya, sebelum ia melihat istrinya dalam keadaan tidak menutup auratnya (tidak berpakaian). Bagaimana kalau selama kami belum mampu, suamiku diminta bersabar untuk tidak melihat auratku. Insya Allah ia pun tidak akan menuntut karena niat kami menikah bukan semata-mata karena syahwat? Bagaimana jawaban ayah nanti di hadapan Allah dan Rasul-Nya saat ternyata memang ada solusi yang sudah Rasul terangkan, tapi tetap dibantah hanya karena materi?”

“Rasulullah benar! Baiklah. Ayah mengerti. Bagaimana dengan pesta pernikahanmu?”

“Sebaik-baik wanita adalah yang tidak menyulitkan dalam maharnya. Kesholehannya sudah cukup dan tak akan tergantikan dengan apapun, Ayah. Tidak dirayakanpun tidak apa-apa. Karena hakikat pernikahan bukan pada pestanya. Tapi keteduhannya hingga akhir hayat. Pesta meriah dan megah tidak menjadi jaminan keutuhan rumah tangga. Memang sekali seumur hidup, hakikatnya bukan pestanya yang dimaknai sekali seumur hidup, tapi pernikahannya yang diharapkan sekali seumur hidup. Memang indah, menjadi Ratu dan Raja semalam pada pesta pernikahan. Tapi, apa keinginan itu harus sampai mengeluarkan uang puluhan juta? Belum tentu pernikahan nan megah itu menjadi ingatan orang. Lalu sebenarnya untuk apa? Lebih baik, itu untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak menyusahkan orang tua dan tidak menyusahkan calon suami. Biarlah senyuman Allah mengiringi kami. Kami ridho.”

“Subhanalloh!”

“Seperti Zainab dan Muhammad, menikah tanpa dirayakan. Tapi kerajaan langit langsung yang merayakan. Tidak ada yang lebih indah dari itu!”

“Benar!”

“Ayah, jadi apapun aku nanti. Jadi bidan yang kaya raya, jadi wanita sukses, sedangkan suami tidak seperti itu. Bukan pelegalanku untuk merendahkannya. Jadi sehebat dan sekaya apapun, aku tetap istri. Hartanya ia berikan pada suami pun menjadi pahala yang besar baginya. Aku ridho, ayah. Aku tidak ingin orang-orang yang aku cintai harus kesusahan menanggung hidupku, aku akan membantunya menafkahi rumah tangga, dengan bekerja sesuai dengan kodratku dan atas izin darinya, ketika ia belum mampu. Khadijah r.a sudah mencontohkannya, saudagar kaya raya itu memberikan seluruh hartanya untuk suaminya tanpa merendahkannya. Tetap menaatinya. Karena iman, ayah. Itu yang ingin aku ikuti.”

“……………………………………..” sang ayah tak berkata, hanya linangan air matanya yang mendera.

“Ia anak sulung dari 7 bersaudara. Siapa yang salah? Tidak ada yang salah. Betapa malangnya ia tidak diinginkan wanita hanya karena menanggung banyak adiknya, padahal ia begitu sholeh dan hafal Al-Qur’an. Siapa yang bisa memilih, dimana kita akan dilahirkan? Siapa orangtua kita? Berapa jumlah adik kita? Dari keluarga mampukah atau dari seorang ayah pemecah batu? Seorang Nabi pun menangis mencium tangan seorang pemecah batu untuk menafkahi keluarganya. Kenapa kita tidak? Kenapa kita menolak? Siapakah kita dibanding dengan Rasulullah? Bukan salahnya dia anak sulung dari 7 bersaudara, bukan keinginannya pula. Jangan khawatir ayah, do’akan kami mampu menjalani hidup ini….”

“Baik sayang, baik. Ayah ridho. Ibu Ridho. Semogapun Allah Ridho. Keimanan, itu solusinya. Semua bisa berubah menjadi indah dan mudah di tangan orang yang beriman….”

Berhasil! Sayapun telah menikah tanpa dirayakan. Maharpun tidak menyusahkan. Kuliah tetap lanjut. Akhirnya suamipun mempunyai pekerjaan yang mapan. Semoga hidup ini senantiasa diliputi iman. Aamiin Ya Allah..

#SebuahKisah
@Fp Indonesia Tanpa pacaran

ISLAM MENGATUR BAGAIMANA KOMUNIKASI EFEKTIF ANTARA SUAMI DAN ISTRI

Posted on

ISLAM MENGATUR BAGAIMANA KOMUNIKASI EFEKTIF ANTARA SUAMI DAN ISTRI

Oleh : Ustadzah Dedeh Wahidah Achmad

Suami-istri bukanlah relasi atasan-bawahan, juga bukan seperti hubungan pemerintah dengan rakyatnya. Kehidupan suami-istri mesti diliputi rasa cinta dan kasih-sayang.

Pergaulan di antara keduanya adalah pergaulan persahabatan. Keduanya akan saling memberikan kedamaian dan ketenteraman.

Allah SWT menjelaskan bahwa ketentuan dasar dalam sebuah perkawinan adalah kedamaian dan dasar dari kehidupan suami-istri adalah ketenteraman. (QS ar-Rum [30]:21)

Supaya ketenteraman, kesakinahan dan kedamaian itu terwujud dalam kehidupan suami-istri, Allah SWT pun telah menetapkan aturan yang harus dipenuhi, yaitu berupa pemberian hak dan kewajiban yang harus dijalankan oleh masing-masing pasangan.

Namun dalam praktiknya, ketenangan dan kedamaian tidaklah mudah untuk diraih. Tak sedikit pernikahan mengalami konflik dan permasalahan yang bisa mengancam keharmonisan rumah tangga, bahkan tak jarang berujung perpisahan dan perceraian.

Salah satu yang memicu munculnya prahara ini adalah buruknya komunikasi di antara suami-istri.

Romantika dalam Pernikahan :

Kehidupan rumah tangga tak seindah bayangan dan tak semulus harapan. Kadang masalah muncul silih berganti karena perbedaan visi dan misi keluarga, ketidakcocokan karakter di antara pasangan, intervensi pihak keluarga, masalah anak, kesulitan ekonomi, dll. Bahkan pengaturan aktivitas dakwah pun bisa dianggap sebagai masalah.

Seharusnya sebanyak dan sesulit apapun masalah yang dihadapi tidak akan menjadi beban yang memberatkan apalagi mengantarkan pada perpecahan keluarga.

Syaratnya, suami-istri mampu mendudukkan persoalan secara proposional sesuai dengan tuntutan syariah, bisa menyatukan pandangan atas semua permasalahan tersebut, serta memiliki komitmen yang sama dalam penyelesaiannya.

Sebaliknya, jika mereka tetap bersikukuh pada kehendak dan pendapat masing-masing yang didorong oleh dominasi emosi dan egoisme, maka bukan tidak mungkin permasalahan sepele pun akan berubah menjadi badai yang bisa memporakporandakan bangunan rumah tangga.

Pada titik inilah pentingnya dibangun komunikasi yang harmonis dan efektif di antara suami-istiri. Komunikasi ini akan mampu menyatukan dua hati yang berbeda, mencari titik temu pendapat yang tidak sama dan melahirkan komitmen untuk sama-sama menyelesaikan masalah demi mempertahankan keutuhan rumah tangga dalam suasana sakinah, mawaddah dan rahmah.

Komunikasi Efektif :

Dalam teori komunikasi dikenal beberapa karakter yang bisa menentukan komunikasi efektif yaitu :

(1) Respek
Sikap, tatapan, intonasi, sapaan serta kalimat yang digunakan suami/istri ketika berkomunikasi dengan pasangannya harus menunjukkan rasa hormat, tidak melecehkan apalagi menjatuhkan.

(2) Empati
Kemampuan suami/istri untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh pasangan sehingga keduanya akan memahami apa yang sedang dirasakan pasangannya.
Tak akan menunjukkan suka-cita ketika pasangan sedang kesal atau bersedih. Tak akan menghukumi kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan.

(3) Audible
Komunikasi suami/istri dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik oleh pasangannya. Karena itu penting diperhatikan frekuensi suara dan jarak di antara keduanya (berbicara dengan tatap muka); tidak saling teriak, pembicaraan fokus; tidak mengajak bicara serius saat pasangan sedang sibuk dengan urusan lain yang tidak mungkin ditinggalkan.

(4) Clarity
Keterbukaan dan transparasi. Suami-istri harus menjauhkan kecurigaan terhadap pasangan.

(5) Humble
Rendah hati. Suami-istri tidak bersikap arogan kepada pasangan.

Penghambat Keberhasilan Komunikasi :

Berikut adalah beberapa faktor penghambat yang sering terjadi dalam komunikasi suami-istri:

(1) Suami/istri menyalahkan pasangan (blaming partner), bukan menunjukkan kesalahannya secara spesifik.
Akhirnya, pasangan akan tetap menganggap dirinya benar dan tak menyadari kesalahan yang telah dia lakukan.

Salah satu contoh adalah tuduhan bahwa suami/istri telah melanggar hukum syariah karena telah mengabaikan kewajibannya, namun tidak disertai penjelasan letak kesalahannya.

(2) Saling menyalahkan dan biasa mencari-cari kesalahan pasangan.
Biasanya diawali dengan persepsi bahwa pasangannya salah, padahal boleh jadi dia benar.
Karena gaya saling menyalahkan ini, komunikasi tidak akan mampu mengungkap kebenaran. Yang terjadi sebaliknya, mereka akan terus bersitegang serta menganggap pasangan-nya keras kepala dan tidak bisa dinasihati

(3) Antipati terhadap kritik atau nasihat yang disampaikan pasangan.
Perkataan apapun yang disampaikan pasangan akan diterima sebagai hujatan yang menyakitkan. Mereka sulit menyadari kesalahan bahkan yang terjadi malah ketersinggungan.

(4) Qiyasy-syumuly. Menganggap salah semua yang dilakukan atau dikatakan pasangan, padahal boleh jadi kesalahan yang dilakukan hanya satu atau beberapa kali saja.

(5) Tidak mencari akar masalah.
Ketika komunikasi harmonis tidak terjalin di antara suami-istri, sering keduanya menghindari komunikasi yang berkelanjutan.
Demi mengakhiri perdebatan, tidak jarang muncul pengakuan semu, “Ya, saya yang salah.” Pernyataan ini bukanlah pengakuan sebenarnya. Jauh di lubuk hati yang paling dalam dia tetap tak menerima perlakuan pasangannya dan cenderung menyalahkannya. Alih-alih menuntaskan permasalahan, yang terjadi bisa saja makin menumpuk masalah dan mendatangkan sengketa yang lebih besar.

(6) Jangkauan pendek, tidak ke masa depan. Perbedaan karakter suami-istri sangat membutuhkan kesabaran untuk mempertemukannya. Kesalahan yang dilakukan pasangan sekarang insya Allah ke depan akan bisa diperbaiki dengan upaya yang sungguh-sungguh dan disertai kesabaran.

Panduan Komunikasi Efektif Suami-Istri :

(1) Tanamkan dalam hati bahwa suami/istri adalah bagian dari kita; bukan orang lain, bukan saingan, apalagi musuh yang mengancam. Dengan pemahaman ini maka kita akan senantiasa menerima masukan, kritikan dan nasihat pasangan sebagai sesuatu yang baik untuk keutuhan keluarga.

(2) Mengedepankan hukum syariah, bukan keinginan dan kepentingan pribadi. Ketundukan terhadap hukum syariah akan meringankan kita untuk menerima kebenaran yang disampaikan suami/istri sekalipun bertentangan dengan keinginan kita.

(3) Berupaya memperlakukan suami/istri dengan makruf.

Bagi suami terdapat hadis Rasulullah saw.:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku”. (HR Tirmidzi dan Ibn Majah).

Untuk para istri ada hadis Rasulullah saw.:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Andai aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada seseorang yang lain, niscaya aku akan memerintahkan wanita bersujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi).

Dorongan meraih derajat terbaik di sisi Allah SWT akan membantu suami/istri memperlakukan pasangannya dengan sebaik-baiknya.

“Service Excelent” menjadi cita-citanya. Karena itu seorang istri akan berupaya keras menaati suaminya dan memasukkan kebahagiaan ke dalam hati suaminya meski harus mengorbankan istirahat atau rileks atau kesenangannya sendiri.

Sebaliknya, seorang suami akan menjadi orang yang paling lembut, paling perhatian dan paling bertanggung jawab di hadapan istri dan keluarganya meski harus memupus sebagian keinginannya.

(4) Tidak kaku dalam komunikasi. Kehidupan suami-istri adalah ketenteraman dan ketenangan serta cinta dan saling percaya. Sikap keras hati suami/istri kadang bisa diluluhkan dengan kelembutan.
Arogansi mampu ditundukkan dengan ketataan dan keikhlasan. Prasangka akan hilang dengan keterbukaan. Rasa kesal dan putus-asa sirna dengan kesabaran.

(5) Mendudukan suami/istri sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan sekalipun mereka ustadz/ustadzah atau aktivis dakwah yang senantiasa mengajak orang menegakkan kebenaran.
Kesadaran ini akan membantu kita menerima kesalahan yang dilakukan pasangan, namun tidak membiarkan kesalahan terus terjadi. Kesalahan dan kelalaian harus diisertai dengan sikap saling menasihati.
Pemahaman bahwa suami/istri bukan manusia sempurna tanpa cela dan cacat akan memupuk kesabaran menghadapi kelemahan dan kekurangan pasangan (Lihat: QS an-Nisa [4]:19).

Wallahu A’lam.

[Dedeh Wahidah Achmad; Koordinator Lajnah Tsaqafiyah DPP MHTI].