Uncategorized

​Cara Membangun Networking ala Orang Introvert

Posted on Updated on

Cara Membangun Networking ala Orang Introvert


Bagi para introvert, kegiatan networking bisa sangat menyiksa. Mereka terintimidasi oleh suara keras para ekstrovert. Lalu, kenapa bos tetap memilih seorang introvert untuk membangun jaringan?
Sebenarnya, introvert punya kemampuan untuk membangun jaringan yang baik. Mereka adalah pendengar yang baik dan cenderung lebih tertarik pada orang lain daripada berbicara tentang diri sendiri.
Jika Anda seorang introvert, jangan bersembunyi dari kegiatan networking. Anda harus menemukan “cara introvert” untuk melakukan “hal-hal yang ekstrovert”. Ingat, introvert bukanlah orang-orang pemalu dan canggung. Mereka hanya orang yang tidak mau berada di lingkungan yang bising, banyak orang, dan lampu terang. Berikut beberapa tips agar para introvert bisa mendapatkan hasil maksimal dari kegiatan networking seperti disarikan dari theguardian(dot)com.
Datang lebih awal
Jika Anda tidak suka keramaian, maka datanglah lebih awal. Anda mungkin adalah orang yang pertama datang setelah panitia. Ketika ada peserta lain yang datang setelah Anda, maka mulailah ajak berbicara. Anda bisa membangun obrolan yang hangat dengannya. Seorang introvert akan lebih mudah membangun percakapan baru daripada mencoba masuk ke dalam obrolan yang sudah terbentuk.
Langsung mengangkat topik berat
Kebanyakan orang memulai pembicaraan ringan dengan lawan bicara yang baru dikenal. Misalnya, soal kemacetan di jalan menuju lokasi kegiatan atau penyelenggaraan acara. Hal itu tidak ada salahnya. Namun, apa yang terjadi setelah obrolan pembuka itu? Hening. Setiap orang mencoba mencari topik berikutnya untuk memecahkan kecanggungan tersebut.
Menurut Ahli Prikologi Kerja, Liza Walter Nelson, introvert bisa sangat tenang menghadapi berbagai kondisi.
Umumnya introvert memiliki ketertarikan yang dalam akan suatu hal. Mereka juga punya banyak data dan fakta. Jadi, introvert bisa langsung mengangkat bobot pembicaraan ke level yang lebih tinggi dengan percaya diri. Hal ini bisa memberi keuntungan besar untuk para introvert yang sedang mencoba membangun jaringan.
Mendengarkan
Kebanyakan orang suka berbicara tentang diri sendiri. Maka biarkan mereka berbicara. Anda bisa menyiapkan pertanyaan terbuka untuk semua orang. Misalnya, tentang pekerjaan mereka dan alasan mereka berminat pada acara tersebut. Mereka akan mengoceh panjang lebar. Namun, Anda juga harus mempersiapkan diri dengan jawaban singkat dan padat saat mereka balik bertanya.
Utamakan kualitas daripada kuantitas
Kebanyakan orang merasa enggan atau bahkan cemas ketika harus berbicara dengan orang asing. Apalagi, jika tujuan pendekatan tidak murni dari dalam diri. Hal ini juga menjadi masalah para introvert. Jika Anda kesulitan menjalin hubungan dengan banyak orang, maka cobalah berkenalan dengan beberapa orang yang penting saja. Anda bisa melihat daftar hadir dari acara yang akan didatangi. Kemudian Anda bisa menilai siapa saja yang berguna untuk bisnis perusahaan di masa mendatang. Anda bisa mengincarnya dan mengajaknya berbicara.
Meluangkan waktu untuk “bernafas”
Anda mungkin merasa tidak nyaman selama berbicara dengan sekelompok orang. Anda harus terus melanjutkan pembicaraan demi mempererat hubungan. Tapi, Anda juga harus menyayangi diri sendiri. Berikan waktu untuk Anda untuk bisa “bernafas”. Jika pembicaraan sudah terlalu “bising”, Anda bisa minta izin dari grup untuk sekadar mengambil minum atau pergi ke toilet. Kalau perlu, Anda bisa mencuci pergelangan tangan agar membuat diri menjadi lebih tenang.
Jadi, untuk para introvert yang sedang berusaha membangun jaringan, cobalah untuk tetap tenang. Hormati orang-orang yang hadir di acara. Mereka datang untuk bersosialisasi. Begitu juga dengan Anda. 
Semoga bermanfaat.

Advertisements

ISLAM TANPA “NUSANTARA”

Posted on

ISLAM TANPA “NUSANTARA” ( Husain Matla)

Saya kira ungkapan “Islam Nusantara” itu tidak perlu. Seakan kok Islam itu masih kurang baik sehingga perlu ditambah baiknya dengan Nusantara. Masalahnya Nusantara sendiri juga tidak layak sebagai simbol kebaikan.

Atau kita berharap dengan Islam Nusantara akan lebih baik dari Islam lain, misal Islam Timur Tengah. Misal dikatakan Islam Timur Tengah itu seperti kita melihat Suriah…, perang !!! Sementara Islam Nusantara itu seperti kita melihat padi, nyiur, atau mata air, damai. Kenyataannya, pernah pada suatu masa Nusantara penuh pergolakan, sementara Timur Tengah penuh kedamaian.

Semoga tulisan saya pada buku “Khilafah jaga Kebinekaan” ini bisa membantu.
————————————————————–

“ISLAM INDONESIA LEBIH CINTA DAMAI”,
UNGKAPAN ORANG BUTA !!!

Beberapa pihak saat ini menyatakan adanya “Islam versi Indonesia”. Yang katanya lebih cinta damai. Sesungguhnya kalau kita menyelami sejarah Indonesia, nampak sekali itu ungkapan orang yang tidak paham sejarah.

Sejak meninggalnya pemimpin Demak Bintoro, Sultan Syah Alam Akbar III (Pangeran Trenggono), tahun 1546 M, kalangan pesisir Jawa tak pernah mau mengakui kalangan pedalaman Jawa sebagai penerus Demak. Tercatat adanya banyak pemimpin pantai utara Jawa yang melawan pemerintahan Pajang atau Mataram sejak tahun 1549 – 1680 M: Aryo Penangsang (Jipang –sekitar Blora dan Bojonegoro sekarang), Aryo Pangiri (Demak), Pangeran Pekik (Surabaya), Pangeran Puger (Demak), Adipati Pragola I dan Pragola II (Pati), Sunan Giri IV dan Panembahan Giri (keduanya dari Giri Kedhaton, Gresik), dan terakhir Pangeran Trunojoyo (Madura). Sepanjang masa itu Kesultanan Banten senantiasa memihak utara, entah secara aktif atau pasif. Sementara Kedaton Cirebon tergantung kondisi, kadang memihak utara, kadang memihak selatan.

Mengapa itu semua terjadi?

Karena adanya “gep batin” antara keduanya, yaitu dalam menempatkan Islam dan Jawa.

Pihak selatan seakan menyatakan, “Kalau bicara Islam, saya ini kan juga Islam, namun kamilah yang lebih merepresentasikan keturunan Majapahit”. Sementara pihak utara seakan menyatakan, “Kalau sekedar keturunan Majapahit, hendaknya kepemimpinan diserahkan kepada keturunan Demak, yang perjuangan pembelaan kepada Islamnya lebih nyata”. Kalangan selatan menganggap pihak utara kurang kadar kemajapahitannya. Kalangan utara menganggap pihak selatan kurang kadar Islamnya, sehingga tak layak mengaku sebagai penerus Demak.

Karena itu, kalau kita cermati siapa-siapa pihak di utara yang tidak pernah mau mengakui kekuasaan Mataram, mereka selalu terkait dengan para wali di utara. Aryo Penangsang adalah murid Sunan Kudus. Pangeran Pekik adalah keturunan Sunan Ampel. Sunan Giri IV (Sunan Prapen), bahkan konfrontasi langsung dengan Mataram. Adipati Pragola II didukung para santri Kudus. Sementara Pangeran Trunojoyo didukung Panembahan Giri.1
Sementara pihak selatan mengkaitkan dirinya dengan Sunan Kalijogo dan Brawijaya V Bhre Kertabhumi (raja Majapahit terakhir). Sultan Hadiwijoyo (Mas Karebet, alias Joko Tingkir, pemimpin Pajang) dan para penguasa Mataram di masa berikutnya dinyatakan didukung Sunan Kalijogo dan sebagai keturunan Bhre Kertabhumi.

Perang terus terjadi sampai Panembahan Adiprabu Anyokrokusumo memerintah di Mataram. Ia diterima pihak utara. Selain ia dinyatakan sebagai keturunan Majapahit dari jalur selatan (Pajang dan Selo), ia juga diakui sebagai keturunan Majapahit dari jalur utara (Demak) dan dianggap keturunan Sunan Giri I (Sunan Giri Gajah, yang bahkan selama ini diakui sebagai keturunan Rasulullah saw). Ia juga meminta Pangeran Pekik (pemimpin Surabaya, keturunan Sunan Ampel) sebagai menantunya dan meminta Panembahan Ratu (Cirebon) sebagai besannya. Kondisi ini menjadikan kondisi Jawa cenderung stabil sehingga pemerintahan Mataram sanggup menyerang Belanda pada tahun 1627.2

Namun sebenarnya kondisi tak sesederhana itu. Walaupun Jawa mulai stabil, sebenarnya sejak runtuhnya Demak, senantiasa terjadi persaingan Banten dan Pajang/Mataram untuk menjadi penerus Demak dan menjadi kekuatan yang lebih berpengaruh di Nusantara. Dan di sini asing juga mulai mengadakan pendekatan, di mana Portugis mendekati Mataram, sementara Belanda mendekati Banten. Kondisi itu nampaknya baik-baik saja saat keduanya berada dalam masa kejayaan. Bahkan keduanya berusaha mendapatkan pengakuan dari Syarif Mekah, yang saat itu berkedudukan sebagai penjaga dua kota suci dan gubernur dari khilafah Utsmaniyah. Setelah Panembahan Abdul Qodir (Banten) diakui Mekah dan mendapat gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1641, maka berikutnya Panembahan Anyokrokusumo melakukan upaya yang sama. Ia akhirnya juga diakui Mekah. Beliau bergelar Sultan Agung Abdullah Maulana Matarami. Beliau juga membangun persatuan utara selatan dengan menyatukan kalender Islam dan Jawa.3

Sayang, penguasa Mataram sesudahnya tak sebijak Sultan Agung. Amangkurat I, pengganti Sultan Agung, membantai ribuan ulama dan cenderung tunduk pada VOC. Sikap ini berbeda dengan sikap Sultan Ageng Tirtayasa di Banten yang tak mau dengan intervensi VOC. Keadaan semakin memanas karena Sultan Ageng semakin keras menentang Belanda bersama Sulan Hasanuddin di Makassar. Pihak utara jawa akhirnya memberontak kepada Mataram dipimpin Pangeran Trunojoyo yang didukung Sultan Ageng Tirtayasa dan Panembahan Giri (Sunan Giri V).

Akhirnya meledaklah perang besar skala Nusantara. Banten, Makassar, pesisir utara Jawa, dan beberapa kesultanan, melawan Mataram, Belanda (VOC), dan kadipaten/kerajaan yang telah ditundukkan. Dan dalam keadaan ini, Inggris dan Portugis cenderung berpihak kepada siapapun yang menentang Belanda. Surutnya kekuatan Islam di Nusantara mulai terjadi seiring kemenangan Belanda tahun 1680 yang ini hampir berbarengan dengan kekalahan kekhalifahan Utsmaniyah di Wina tahun 1683 M.

Dari gambaran di atas tadi, kiranya nampak sekali bahwa kondisi sepanjang lebih dari seabad itu (1549 – 1680 M) agak mirip dengan keadaan di Timur Tengah saat ini yang selalu membara, di mana Arab Saudi dan beberapa negara didukung AS dan Inggris, sementara Iran dan Suriah didukung Rusia.
Lalu, bagaimana kondisi Dunia Arab dulu saat Jawa senantiasa dalam kondisi konflik? Dunia Arab senantiasa “damai-damai saja”. Ini karena semua pihak di dunia Arab mendukung Kekhalifahan Utsmaniyah. Hanya Kesultanan Shafawi (Iran) yang menentang Utsmaniyah, namun akhirnya ia pun tunduk kepada Khalifah Salim II, pada awal abad XVII M.4

Sepanjang waktu itu pihak-pihak yang saat ini dijuluki “orang-orang Arab yang suka konflik” ternyata hidup penuh kedamaian. Kalau toh mereka perang, mereka ikut berperang serta di dalam kekhalifahan Utsmaniyah menggempur Eropa, bukan perang sesama mereka.

Lalu kapan Jawa berada dalam kedamaian?

Pertama, di zaman Demak Bintoro (1478 – 1549 M), saat mereka memimpin Islamisasi Nusantara dengan dakwah maupun jihad.

Kedua, tahun 1755-1825 (antara Perjanjian Salatiga sampai mulai Perang Diponegoro), saat mereka menjadi vasal tidak resmi dari VOC.

Ketiga, tahun 1830 – 1942 (antara Perang Diponegoro sampai PD II), saat mereka menjadi vasal Belanda secara nyata, saat mereka begitu nurut disuruh membunuhi orang-orang Minangkabau dan Aceh, serta menjadikan rakyatnya sebagai kuli perkebunan Belanda.

Keempat, tahun 1966 – sekarang, saat masyarakat Indonesia, terang-terangan sebagai antek Amerika, mengobral emas dan segala sumber alam lain kepadanya, serta menjadikan rakyatnya sebagai kuli-kuli perusahaan asing dengan gaji rendah, segera mengadakan impor beras dan sapi saat petani dan petrnak mulai merasa untung, membunuhi rakyatnya sendiri tanpa pengadilan dengan tuduhan sebagai pembela ISIS, menangkap siapapun yang memakai bendera “Ketuhanan Yang Maha Esa” (bendera lailaha illallah yg dipakai simpatisan ISIS, padahal itu bukan bendera ISIS, namun bendera Islam), sementara membiarkan warganya menjadi tentara Amerika Serikat (untuk selanjutnya membunuhi orang Islam), serta mengobral berbagai pelabuhannya kepada asing.

Memang damai itu harus ekstrem: saat menang atau kalah. Sementara saat dalam kondisi tanggung, yang ada adalah perang.

TINGGAL KITA PILIH MANA: DAMAI TERHORMAT, PERANG, ATAU DAMAI TERHINA ???