DASAR ONTA ! PERGI SANA, KE ARAB !

Posted on

Oleh : Ippho Santosa

Saat kita berargumen soal Islam, lalu mereka kehabisan akal menjawab argumen kita, maka keluarlah jawaban khas dan pamungkas mereka, “Pergi sana, ke Arab.” Hehehe, ada-ada saja.

Btw, kenapa sih mereka menjawab begitu? Bagi mereka, Arab itu muslim semua. Bergamis semua. Berjenggot semua. Bahkan kolot semua. Dipikirnya Arab yah begitu. Terus, benarkah asumsi ini?

Sebenarnya ini adalah ciri orang yang gagal paham, hehehe. Saya yakin mereka gizinya cukup alias akalnya cukup. Sayangnya, mereka enggan menggunakan akalnya. Paling parah, mereka enggan menggunakan Google-nya. Mungkin kuota mereka terbatas, hehehe.

Kalau saya diseru, “Pergi sana, ke Arab,” maka saya sambar saja, “Alhamdulillah, saya sering ke negeri-negeri Arab, seperti Arab Saudi, Mesir, Qatar, Kuwait, Oman, dan Dubai. Tapi saya juga pernah ke Amerika, Australia New Zealand, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dll.” Dia jual, saya beli. Hehehe

Tanpa harus ke Arab sekalipun, kita tahu bahwa agama di negeri-negeri Arab itu beragam. Ya, beragam. Bukan Islam saja. Yaman, misalnya. Populasi umat Kristen relatif besar di sana. Menariknya, meski Islam itu mayoritas di negeri-negeri Arab, namun di sana amat langka gereja dihancurkan. Sebaliknya, di Eropa masjid-masjid bersejarah sering dihancurkan.

Lantas, gimana dengan fenomena gamis dan jenggot di Arab? Pertama, yang bergamis dan berjenggot BUKAN muslim saja. Kedua, sebagian raja-raja dan pangeran-pangeran Arab tidak berjenggot. Ketiga, teramat banyak orang Arab yang sehari-hari berkemeja dan bercelana seperti kita, orang Indonesia. Nggak bergamis.

Btw, Nabi Muhammad pun pernah memakai semacam kemeja dan semacam celana. Berkancing. Terpisah. Tidak melulu bergamis.

Saran saya, sesekali main-mainlah ke Arab sana. Piknik. Setidaknya, Googling. Biar terbuka wawasan Anda. Dan terbuka pula hati Anda. Jangan seperti katak di bawah temperamen, hehehe.

Jujur saja, saya sempat heran, mereka kok benci banget sama Arab. Padahal :

– Negeri-negeri Arab tidak pernah sekalipun menjajah Indonesia. Sebaliknya, negeri-negeri Barat-lah yang silih-berganti menjajah Indonesia. Dulu, menjajah semuanya. Sekarang, menjajah ekonomi.

– Lebih dari itu, negeri-negeri Arab-lah yang pertama-tama mengakui kemerdekaan Indonesia, terutama Mesir dan Palestina.

– Ketika masa penjajahan, warga keturunan Arab di Indonesia segera menyatakan diri sebagai warga Indonesia dan turut berjuang melawan penjajah.

Kita pun semakin heran, masih ada Muslim Indonesia yang anti-Arab. Muslim kok gitu, siapa yang ngajarin? Sementara, sholat dan ngajinya pake Bahasa Arab. Haji dan umrahnya ke Tanah Arab. Pimpinan Wali Songo berasal dari Tanah Arab. Kosa kata Bahasa Indonesia pun sangat dipengaruhi Bahasa Arab.

Lebih lanjut, Soekarno, Presiden Indonesia ke-1, menyatakan komitmennya terhadap kemerdekaan Palestina, salah satu negeri Arab. Bahkan Megawati, Presiden Indonesia ke-5, pernah menikah dengan pria Arab, menurut Wikipedia. Hassan Gamal, namanya.

Lantas, benarkah negeri-negeri Arab itu kolot? Ah, saya malas menjawab beginian. Anda tonton saja film Fast and Furious yang salah satunya berlatar Abu Dhabi yang begitu modern. Terus Anda tonton juga film Mission: Impossible yang salah satunya berlatar Dubai yang begitu canggih.

Jelas, negeri-negeri Arab tidak sempurna, sama seperti negara-negara Barat dan negara-negara lainnya. Boleh kritis, tapi jangan sampai benci dan anti. Sekali lagi, pikniklah. Setidaknya, Googling-lah. Biar terbuka wawasan Anda.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Kisah Yahoo dan Realitas Kejam Bisnis Internet

Posted on Updated on

Jakarta – Kita kembali disuguhkan sebuah realitas kejam di ranah bisnis internet. Siapa yang masih terjebak di zona nyaman dan tetap bertahan dengan ide-ide usang, siap-siap saja terlindas dan menunggu mati.

Sudah banyak contoh yang bisa kita lihat dalam satu dekade terakhir. Siapa yang tak kenal Friendster pada masanya? Hanya dalam waktu singkat, pionir media sosial yang tadinya begitu populer sekejap terlupakan ketika Facebook hadir.

Namun kita sekarang tidak sedang membicarakan soal Friendster. Sekarang kita bicarakan saja soal Yahoo saja yang megap-megap ketika eranya diambil alih oleh Google. Padahal dulu, Yahoo punya kesempatan untuk terus jadi raja diraja di internet jika berhasil mengakuisisi Google saat masih murah.

Lalu, sekarang di mana posisi Yahoo? Sempat dihargai USD 125 miliar pada tahun 2000, kini hanya laku dijual dengan harga murah untuk perusahaan pionir internet sekaliber itu, hanya USD 4,83 miliar.

Pelajaran yang bisa dipetik di era saat ini, perusahaan teknologi muncul dan tenggelam. Bahkan status perusahaan raksasa internet hari ini tak menjamin seperti apa nasib mereka di masa depan.

Fosil T-Rex di kantor Google, Mountain View, Amerika Serikat (fotografer: Achmad Rouzni Noor II/detikINET)Fosil T-Rex di kantor Google, Mountain View, Amerika Serikat (fotografer: Achmad Rouzni Noor II/detikINET)

Itu pula yang diyakini oleh Google. Itu sebabnya mereka sengaja memajang replika T-Rex di halaman depan kantornya. Google tak ingin nasib mereka hanya dikenang sebagai ‘dinosaurus terkuat’ yang kini tinggal kenangan sejarah saja.

Kisah Yahoo

Kisah Yahoo bermula puluhan tahun lalu, tepatnya di 1994. Jerry Yang, imigran asal Taiwan yang baru lulus dari Stanford berduet dengan David Filo, seorang programmer pendiam dari Lousiana. Mereka membuat semacam direktori website bernama David’s Guide to the World Wide Web.

Direktori itu disukai pengguna internet. Tahun berikutnya, Sequoia Capital menyuntikkan modal untuk perusahaan yang berganti nama jadi Yahoo itu, lalu menunjuk mantan eksekutif Motorola, Tim Kogle, sebagai CEO. Jerry Yang dan David Filo sendiri masih banyak terlibat.

Masa itulah Yahoo berjaya tanpa tandingan. Tahun 1998, Yahoo adalah website paling populer dan telah go public alias berjualan saham di bursa. Pada Januari 2000, harga saham Yahoo mencapai titik puncak senilai USD 118.

Namun kemudian, terjadilah apa yang disebut sebagai dotcom bubble di mana banyak perusahaan internet bertumbangan. Harga saham Yahoo di tahun 2001 bahkan anjlok sampai USD 8.

Beruntung, Yahoo mampu bertahan di masa-masa sulit tersebut. Tampuk kepemimpinan berganti dengan ditunjuknya Terry Semel, mantan eksekutif Warner Brothers, sebagai CEO menggantikan Kogle.

Kisah Yahoo dan Realitas Kejam Bisnis InternetFoto: CEO Yahoo

Di masa inilah, Yahoo melewatkan kesempatan besar yang pasti mereka sangat sesali. Dilansir Economic Times, Yahoo di tahun 2002 bisa saja membeli Google. Namun karena kurang gigih, aksi akuisisi tersebut tidak pernah terjadi.

Kemudian di tahun 2006, hampir saja Yahoo membeli Facebook. Namun Semel menurunkan tawaran dari USD 1 miliar ke USD 850 juta. Mark Zuckerberg yang sebenarnya memang kurang berniat menjual Facebook akhirnya benar-benar mantap menolak tawaran Yahoo.

Seperti diketahui, Google dan Facebook kemudian menjadi raksasa yang melahap bisnis Yahoo. Kedua perusahaan itu tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu alasan mengapa Yahoo terpuruk di kemudian hari.

Tentu saja tidak semua strategi Yahoo gagal. Pada tahun 2005, Jerry Yang mengatur pembelian 40% saham perusahaan e-commerce asal China, Alibaba, senilai USD 1 miliar.

Sebuah pembelian berisiko, namun kemudian sukses besar karena Alibaba berkembang jadi raksasa e-commerce di China. Saat ini, saham Yahoo di Alibaba itu nilainya sekitar USD 80 miliar, jauh lebih besar dari nilai Yahoo sendiri.

Waktu pun berlalu. Tahun 2008, Yahoo mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Microsoft datang memberi penawaran senilai USD 44,6 miliar. Namun ditolak oleh Jerry Yang yang saat itu CEO Yahoo, karena menganggap tawaran itu terlampau rendah.

Penolakan itu terbukti kebijakan yang salah dan lagi-lagi berujung penyesalan, karena nilai Yahoo terus menurun. Tiga tahun setelah tawaran Microsoft itu, kapitalisasi pasar Yahoo hanya USD 22,24 miliar.

Begitulah, Yahoo tak pernah mampu bangkit seperti zaman keemasannya dahulu walau sudah bergonta-ganti CEO. Kapitalisasi pasar mereka makin anjlok, PHK terpaksa dilakukan dan operasional kantor di berbagai negara termasuk Indonesia ditutup.

Episode Yahoo sebagai perusahaan mandiri pun berakhir setelah dicaplok Verizon dengan angka hanya USD 4,83 miliar. Seperti detikINET kutip TheGuardian, Selasa (10/1/2017), akuisisi ini akan rampung Maret, akhir kuartal pertama 2017.

Sumber : Detik

Mengenal VoWiFi, Teleponan Bisa Lewat Hotspot

Posted on

Jakarta – Setelah beberapa waktu lalu mengumumkan penggunaan teknologi VoLTE, Smartfren kini menyiapkan teknologi lainnya bernama VoWiFi.

Voice over WiFi, demikian kepanjangan dari VoWiFi. Prinsip kerja teknologi ini terbilang menarik, sebab bisa menjadi alternatif pengganti sambungan seluler. Seperti diketahui, umumnya untuk melakukan panggilan suara dibutuhkan sinyal seluler yang tersambung ke ponsel.

Nah, dengan VoWiFi ketika pelanggan kehilangan sinyal, misalnya saat berada dalam gedung, pelanggan bisa memanfaatkan sambungan WiFi yang tersedia untuk melakukan sambungan telepon. VoWiFi sendiri merupakan pengembangan lanjutan dari teknologi Voice over LTE (VoLTE) yang juga telah diterapkan Smartfren.

“Misalnya ketika pengguna berada di dalam ruangan yang sinyal datanya lemah. Dengan menggunakan sambungan WiFi, pengguna bisa melakukan panggilan suara bila fitur Vo-WiFi diaktifkan,” kata Hartadi Noviyanto, Mass Product Dept. Head Smartfren, di Exodus, Kuningan City, Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Mengenal VoWiFi, Teleponan Bisa Lewat HotspotFoto: detikINET/Yudhianto

Seperti VoLTE, untuk menggunakan VoWiFi pelanggan harus menggunakan perangkat yang secara hardware telah mendukungnya. Andromax B dan Andromax L yang baru dirilis Smartfren masuk daftar ponsel yang telah mendukung teknologi tersebut.

Meski telah mulai melakukan pengembangan, status VoWiFi di jaringan Smartfren masih beta tester. Meski demikian, Hartadi berharap VoWiFi sudah bisa diterapkan di sekitar semester I 2017.

“VoWiFi kami masih beta tester, belum sempurna. Perangkatnya (Andromax B dan Andromax L-red) sudah mendukung, peresmiannya diharapkan tidak lama lagi,” imbuhnya.

Keuntungan lain penerapan VoWiFi juga bakal terasa ketika pelanggan berada di luar negeri. Agar bisa menggunakan sambungan data atau melakukan telepon dan SMS, biasanya pelanggan diharuskan mengaktifkan layanan roaming. Dengan VoWiFi pelanggan hanya perlu mencari koneksi WiFi untuk melakukannya. (yud/rns)

Sumber : Detik

ANDAI ARISTOTELES TAHU KHILAFAH

Posted on Updated on

ANDAI ARISTOTELES TAHU KHILAFAH

Sumber : Abu Zaid

Sering dikatakan oleh banyak orang, jika tidak memilih demokrasi, berarti memilih monarki. Lalu dikatakan bahwa monarki akan membawa pada tirani. Kemudian, disimpulkan bahwa “kalau tidak demokrasi berarti tirani”. Oleh karena itu, sistem pemerintahan terbaik adalah demokrasi. Bahkan seandainya di dalam demokrasi terdapat kekurangan, demokrasi tetap lebih baik dibanding tirani.

Benarkah kalau tidak demokrasi berarti tirani? Untuk mengkaji hal ini kita perlu melacak para penggagas ide itu, yaitu para filusuf Yunani Kuno. Menurut Aristoteles sendiri sistem kekuasaan terbagi menjadi enam yaitu: monarki, tirani, aristokrasi, oligarki, demokrasi dan mobokrasi. Dengan mencermati klasifikasi jenis kekuasaan oleh Aristoteles ini, maka pernyataan bahwa “jika tidak demokrasi berarti tirani”, jelas bertentangan dengan maha gurunya sendiri. Sebab, selain tirani dan demokrasi, masih ada empat yang lain, yaitu monarki, aristokrasi, oligarki dan mobokrasi.

Selanjutnya masih menurut Aristoteles, jenis kekuasaan yang enam tadi dapat diringkas lagi menjadi tiga berdasarkan banyaknya orang yang memegang kekuasaan, yaitu apakah kekuasaan itu dipegang oleh satu tangan atau orang (mono), beberapa tangan atau orang (few), ataukah banyak tangan atau orang (many). Kekuasaan di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi pihak lain agar mereka menuruti keinginan atau maksud si pemberi pengaruh.

Masih menurut Aristoteles, baik-buruknya kekuasaan itu tidak terletak pada jumlah pemagang kekuasaan, apakah kekuasaan itu mono, few atau many. Kekuasaan yang dipegang satu orang (mono) bisa baik, ini yang dinamakan monarki; dan bisa juga buruk, ini yang dinamakan tirani. Kekuasaan yang dipegang beberapa orang (few) bisa baik, ini yang dinamakan aristokrasi; dan bisa juga buruk, ini yang dinamakan oligarki. Kekuasaan yang dipegang banyak orang (many) bisa baik, ini yang dinamakan demokrasi; dan bisa juga buruk, ini yang dinamakan mobokrasi (anarki). Tentu saja yang dimaksud baik-buruk di sini, bukan dalam hakikatnya, tetapi baik-buruk menurut persepsi Aristoteles (manusia). Pembahasan baik-buruk dari aspek hakikatnya ini memerlukan pembahasan tersendiri.

Apakah dalam demokrasi, rakyat benar-benar berkuasa? Secara teori, jenis kekuasaan demokrasi yang dikenal terdiri dari dua jenis, yaitu demokrasi langsung (direct democracy) dan demokrasi perwakilan (representative democracy).

Demokrasi langsung berarti rakyat memerintah dirinya secara langsung, tanpa perantara. Salah satu pendukung demokrasi langsung adalah Jean Jacques Rousseau. Namun menurut Rousseau, demokrasi langsung ini hanya mungkin dilaksanakan dalam masyarakat sederhana yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, jumlah rakyat harus sedikit, kedua pemilikan dan kesejehateraan harus sudah merata atau hampir merata, ketiga masyarakat harus homogen (sama) secara budaya, dan keempat masyarakat harus bermata pencaharian pertanian.

Dalam demokrasi langsung, secara teoritis, kedaulatan rakyat memang lebih nyata karena rakyat terjun secara langsung tanpa perwakilan. Semua warga negara ikut terlibat di dalam proses pengambilan keputusan. Namun, apakah demokrasi langsung ini benar-benar ada? Tidak ada. Bahkan, pada masa negara-kota Yunani Kuno, ada beberapa kelompok masyarakat yang tidak diizinkan untuk ikut serta di dalam proses demokrasi langsung yaitu: budak, perempuan, dan orang asing.

Dengan mustahilnya demokrasi langsung, maka demokrasi disulap menjadi demokrasi perwakilan. Di dalam demokrasi perwakilan, tetap diasumsikan rakyat berdaulat. Ingat, diasumsikan. Sekali lagi, diasumsikan. Sebenarnya, rakyat tidak terlibat dalam pengambilan keputusan, pembuatan aturan dan UU. Yang membuat aturan adalah wakil rakyat.

Dengan demokrasi perwakilan, rakyat sebetulnya tidak terlibat dalam membuat UU dan aturan. Misalnya saja, dari hampir 240 juta jiwa warga negara Indonesia, proses pemerintahan demokrasi di tingkat parlemen hanya dilakukan oleh sekitar 500 orang wakil rakyat yang duduk menjadi anggota DPR. Apakah 500 orang ini benar-benar mewakili rakyat? Secara teori memang harus begitu, tetapi jangan tanya praktiknya. Praktiknya, wakil rakyat justru mewakili para kapitalis atau mewakili dirinya sendiri atau partainya. Saat BBM dinaikkan, apakah itu wewakili suara rakyat??? Rakyat mana yang setuju BBM naik???

Dalam demokrasi, kekuasaan dan kepentingan menjadi tujuan. Karena itu kekuasaan dibagi-bagi. Oleh sebab itu, jika kekuatan-kekuatan politik berimbang, biasanya justru akan terjadi chaos (kekacauan), karena masing-masing kekuatan saling menyandra. Keadaan ini diungkapkan dengan pernyataan: bellum omnium contra omnes (perang semua lawan semua). Kondisi demokrasi yang seperti ini dinamakan dengan anarki atau mobokrasi. Anarki ini merupakan suatu bentuk dari demokrasi, di mana rakyat memang berdaulat tetapi negara berjalan dalam situasi perang dan tidak ada satu pun kesepakatan dapat dibuat secara damai.

Jadi, pernyataan bahwa jika tidak demokrasi berarti tirani, merupakan pernyataan yang tidak ada landasan teoritisnya. Penyataan bahwa demokrasi selalu membawa kebaikan, juga tidak ada pijakan teoritisnya.

*****
Telah dibahas bahwa baik buruknya kekuasaan bukan ditentukan dari jumlah pihak yang berkuasa, apakah mono, few atau many. Tidak bisa diambil kesimpulan bahwa demokrasi selalu berdampak baik, baik secara teori atau praktik. Bisa jadi, kekuasaan mono itu baik atau sebaliknya. Bisa jadi kekuasaan many itu baik atau sebaliknya.

Bahkan menurut para pakar sendiri bahwa kekuasaan yang dipegang satu orang (mono) terkadang lebih baik dibanding banyak orang. Sebab, jenis kekuasaan yang dipegang oleh satu tangan ini lebih efektif untuk menciptakan suatu stabiltas atau konsensus di dalam proses pembuatan kebijakan. Perdebatan yang bertele-tele, pendapat yang beragam, atau persaingan antar kelompok menjadi relatif terkurangi karena cuma ada satu kekuasaan yang dominan.

Namun kekuasaan yang hanya dipegang satu orang, akan menjadi tirani karena disalahgunakan oleh pihak yang berkuasa. Tetapi, saat kekuasaan di pegang oleh many juga tidak ada jaminan tidak disalahgunakan oleh banyak (many) orang yang berkuasa. Bukankah kita sering mendengar tirani mayoritas? Bukankah kita melihat dengan kepala sendiri, korupsi berjamaah oleh pihak-pihak yang berkuasa dalam sistem demokrasi?

Sebetulnya baik buruknya suatu kekuasaan sangat ditentukan oleh faktor lain, yaitu paradigma pihak yang berkuasa dan juga paradigma rakyat yang membentuk sistem. Selama paradigmanya adalah bahwa aturan dibuat manusia, maka baik yang berkuasan mono, few atau many, kekuasaan akan cendrung disalahgunakan oleh pihak yang membuat aturan. Pembuat aturan akan membuat aturan yang mementingkan dirinya, kelompoknya dan kolega-koleganya. Selama paradigma kebahagiaan hanyalah terpenuhinya kebutuhan indrawi, maka baik yang berkuasan mono, few atau many, kekuasaan akan dijadikan sebagai alat untuk memuaskan nafsu serakahnya. Di sini tidak ada bedanya kekuasaan itu mono, few atau many,.

Lalu, bagaimana solusi atas masalah ini? Inilah yang membuat Aristoteles dan para filosof lainnya pusing tujuh keliling. Sebab, solusi atas masalah itu haruslah memenuhi tiga syarat:

Pertama, bahwa aturan itu harus dibuat oleh pihak yang tidak memiliki kepentingan pribadi dan kelompok. Padahal, karakter dasar manusia selalu mementingkan diri dan kelompoknya.

Kedua, pihak yang berkuasa harus memahami bahwa pertanggung-jawaban kekuasaannya harus lebih substantif, dibanding hanya pertanggung jawaban di hadapan manusia yang bisa dimanipulasi.

Ketiga, rakyat yang diatur harus memiliki pemahaman tentang aturan yang berlaku, sehingga mereka terlibat dalam memberikan kontrol kepada penguasa saat mereka mengalami penyimpangan.

Terus terang ketiga syarat ini tidak akan pernah ditemukan, kecuali hanya dalam Islam. Hanya Islam dengan sistem Khilafahnya yang akan memnuhi ketiga syarat di atas.

Pertama, dalam Khilafah, aturan datang dari Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta, yang tidak memiliki kepentingan apapun kecuali kebaikan umat-Nya.

Kedua, hanya dalam Islam, pihak yang berkuasa, siapapun dia, akan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT, pada suatu hari manusia tidak akan bisa berdusta. Sikap inilah yang dinamakan taqwa. Apakah ada taqwa dalam sistem selain Islam?

Ketiga, hanya dalam Islam, rakyat memiliki pemahaman yang sama baiknya dengan para pemimpinnya. Sebab, al quran dan hadits bukan hanya dipegang oleh para penguasa, tetapi juga dipegang dan dikaji dengan teliti oleh semua rakyat. Dengan demikian, saat seorang penguasa menyimpang dari aturan Allah SWT, rakyat akan maju ke depan mengoreksi pemimpinnya yang menyimpang. Bahkan Rasulullah SAW. menyampaikan dalam hadits: “Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa dzalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya”. (HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy).

Dalam praktiknya yang sangat panjang selama lebih dari 1000 tahun, sistem Khilafah telah membawa kepemimpinan yang adil, berkah dan membawa kesejahteraan rakyatnya. Sebagai manusia biasa, seorang Khalifah meskipun dipilih dari kalangan orang yang ber-taqwa, tetapi dalam perjalanan waktu mereka bisa menyimpang. Kita juga telah melihat bagaimana masyarakat Islam (terutama para ulama) tampil di garda terdepan untuk mengoreksi para penguasa yang menyimpang. Sikap kepahlawanan yang ditunjukkan oleh para ulama itu terdokumentasi dengan sangat baik, di berbagai kitab para ulama yang datang setelah, diantaranya adalah kitab Al Islam Bainal Ulama Wal Hukkam, karya Syeikh Abdul Aziz Al Badry.

Dalam Islam telah dipisahkan dengan sangat jelas antara assiyadah (kedaulatan, pembuat undang-undang) dan assulthan (kekuasaan, pihak yang memilih Khalifah). Dalam Islam assiyadah berada di tangan Allah SWT. Hanya Allah SWT yang memilikinya. Sementara assulthan itu milik umat, artinya pemimpin dipilih oleh umat bir-ridlo wal ikhtiyar (dengan keridloan dan kebebasan). Inilah yang membedakan Khilafah dengan semua sistem pemerintahan di dunia lainnya.

Itulah Islam. Itulah sistem Khilafah.

Khilafah bukan demokrasi, namun juga bukan anarki. Khilafah bukan aristokrasi, namun juga bukan oligarki. Khilafah bukan monarki, namun juga bukan tirani. Khilafah adalah Khilafah. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang datang dari Sang Pencipta alam semesta.

Saya tidak tahu bagaimana respon Aristoteles, seandainya dia mengetahui Islam dengan sistem Khilafahnya. Mungkin, dia akan menyatakan bahwa sistem inilah yang diidam-idamkannya.

Wallahu a’lam.

Apakah Ikhtilath Itu?

Posted on Updated on

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Apakah Ikhtilath Itu?

Ikhtilath artinya adalah bertemunya laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan wanita itu (misal bicara, bersentuhan, berdesak-desakan, dll). (Said Al Qahthani, Al Ikhtilat, hlm. 7).
Contoh ikhtilat, para penumpang laki-laki dan perempuan yang berada di suatu gerbong kereta api yang sama secara berdesakan-desakan. Jika seseorang pernah menumpang KRL Jabotabek jurusan Jakarta-Bogor pada jam-jam sibuk (jam masuk kerja atau pulang kerja), sangat mungkin dia terjebak dalam ikhtilat. Karena dalam KA Jabotabek itu para penumpang laki-laki dan perempuan berada dalam gerbong yang sama dan saling berdesak-desakan satu sama lain.
Contoh ikhtilat lainnya, para penumpang laki-laki dan perempuan dalam bus Trans Jakarta. Pada jam-jam sibuk para penumpang itu dipastikan akan berdesak-desakan. Kondisi seperti itu disebut ikhtilat. Contoh lainnya, misalkan di sebuah restoran, dalam satu meja ada laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, mereka makan dan ngobrol bersama. Ini juga ikhtilat.
Ikhtilat hukumnya haram dan merupakan dosa menurut syariah (Hukum Islam), meskipun disayangkan kaum muslimin banyak yang melakukannya. Mungkin itu karena ketidaktahuan mereka akan hukum Islam, atau mungkin karena terpengaruh oleh gaya hidup kaum kafir dari Barat yang serba boleh, yang tidak mengindahkan halal haram.
Di samping haram, ikhtilat juga berbahaya, karena mudah menjadi jalan untuk kemaksiatan-kemaksiatan lain yang merusak akhlak, seperti memandang aurat, terjadinya pelecehan seksual, terjadinya perzinaan, dan sebagainya. Banyak kitab karya para ulama yang khusus menerangkan bahaya-bahaya ikhtilat itu, seperti : (1) kitab Khuthurah Al Ikhtilath (Bahaya Ikhtlath), karya Syaikh Nada Abu Ahmad; (2) kitab Al Ikhtilath Ashlus Syarr fi Dimaar Al Umam wal Usar (Ikhtilat Sumber Keburukan bagi Kehancuran Berbagai Umat dan Keluarga), karya Syaikh Abu Nashr Al Imam, dan (3) kitab Al Ikhtilath wa Khatruhu ‘Alal Fardi wal Mujtama’ (Ikhtilat : Bahayanya Bagi Individu dan Masyarakat), karya Syaikh Nashr Ahmad As Suhaji, dan sebagainya.
Kriteria Ikhtilat dan Keharamannya
Seperti dijelaskan di muka, pengertian ikhtilat adalah bertemunya laki-laki dan perempuan di suatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan wanita itu. Maka berdasarkan pengertian ikhtilat itu, suatu pertemuan antara laki-laki dan peremuan baru disebut ikhtilat jika memenuhi dua kriteria secara bersamaan, yaitu : Pertama, adanya pertemuan (ijtima’) antara laki-laki dan perempuan di satu tempat yang sama, misalnya di gerbong kereta yang yang sama, di ruang yang sama, di bus yang sama, rumah yang sama, dan seterusnya. Kedua, terjadi interaksi (ittishal, khilthah) antara laki-laki dan perempuan, misalnya berbicara, saling menyentuh, bersenggolan, berdesakan, dan sebagainya.
Jika perempuan dan laki-laki duduk berdampingan di suatu bus angkutan umum, tapi tidak terjadi interaksi apa-apa, maka kondisi itu tidak disebut ikhtilat (hukumnya tidak apa-apa). Tapi kalau di antara mereka lalu terjadi interaksi, misalnya perbincangan, kenalan, dan seterusnya, maka baru disebut ikhtilat (haram hukumnya). Sebaliknya kalau di antara laki-laki dan perempuan terjadi interaksi, misalnya berbicara, tapi melalui telepon, maka tidak disebut ikhtilat karena mereka tidak berada di satu tempat atau tidak terjadi pertemuan (ijtima’) di antara keduanya.
Jadi yang disebut ikhtilat itu harus memenuhi 2 (dua) kriteria secara bersamaan, yaitu : (1) adanya pertemuan antara laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu tempat, dan (2) terjadi interaksi di antara laki-laki dan perempuan itu.
Mengapa ikhtilat diharamkan? Karena melanggar perintah syariah untuk melakukan infishal, yaitu keterpisahan antara komunitas laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan Islami yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW di Madinah dahulu, komunitas laki-laki dan perempuan wajib dipisahkan dalam kehidupan, tidak boleh campur baur. Misalnya, dalam shalat jamaah di masjid, shaf (barisan) laki-laki dan perempuan diatur secara terpisah, yaitu shaf laki-laki di depan yang dekat imam, sedang shaf perempuan berada di belakang shaf laki-laki. Demikian pula setelah selesai shalat jamaah di masjid, Rasulullah SAW mengatur agar jamaah perempuan keluar masjid lebih dahulu, baru kemudian jamaah laki-laki. Pada saat Rasulullah SAW menyampaikan ajaran Islam di masjid, laki-laki dan perempuan juga terpisah. Ada kalanya terpisah secara waktu (hari pengajiannya berbeda), ada kalanya terpisah secara tempat. Yaitu jamaah perempuan berada di belakang jamaah laki-laki, atau kadang jamaah perempuan diatur terletak di samping jamaah laki-laki. (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizhamul Ijtima`i fil Islam, hlm. 35-36).
Namun demikian, ada perkecualian. Dalam kehidupan publik, seperti di pasar, rumah sakit, masjid, sekolah, jalan raya, lapangan, kebun binatang, dan sebagainya, laki-laki dan perempuan dibolehkan melakukan ikhtilat, dengan 2 (dua) syarat, yaitu ;
Pertama, pertemuan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan itu untuk melakukan perbuatan yang dibolehkan syariah, seperti aktivitas jual beli, belajar mengajar, merawat orang sakit, pengajian di masjid, melakukan ibadah haji, dan sebagainya.
Kedua, aktivitas yang dilakukan itu mengharuskan pertemuan antara laki-laki dan perempuan. Jika tidak mengharuskan pertemuan antara laki-laki dan perempuan, hukumnya tetap tidak boleh. Sebagai contoh ikhtilat yang dibolehkan, adalah jual beli. Misalkan penjualnya adalah seorang perempuan, dan pembelinya adalah seorang laki-laki. Dalam kondisi seperti ini, boleh ada ikhtilat antara perempuan dan laki-laki itu, agar terjadi akad jual beli antara penjual dan pembeli. Ini berbeda dengan aktivitas yang tidak mengharuskan pertemuan laki-laki dan perempuan. Misalnya makan di restoran. Makan di restoran dapat dilakukan sendirian oleh seorang laki-laki, atau sendirian oleh seorang perempuan. Tak ada keharusan untuk terjadinya pertemuan antara laki-laki dan perempuan supaya bisa makan di restoran. Maka hukumnya tetap haram seorang laki-laki dan perempuan janjian untuk bertemu dan makan bersama di suatu restoran. (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizhamul Ijtima`i fil Islam, hlm. 37).
Perlu diperhatikan juga, di samping dua syarat di atas, tentunya para laki-laki dan perempuan wajib mematuhi hukum-hukum syariah lainnya dalam kehidupan umum, misalnya kewajiban menundukkan pandangan (ghaddhul bashar), yaitu tidak memandang aurat (QS An Nuur : 30-31), kewajiban berbusana muslimah, yaitu kerudung (QS An Nuur : 31) dan jilbab atau baju kurung terusan (QS Al Ahzaab : 59), keharaman berkhalwat (berdua-duaan dengan lain jenis) (HR Ahmad), dan sebagainya.
Bahaya-Bahaya Ikhtilat
Sesungguhnya ikhtilat adalah jalan yang memudahkan terjadinya berbagai kemaksiatan. Antara lain : (1) terjadinya khalwat, yaitu laki-laki yang berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah SAW,”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan, karena yang ketiganya adalah syaitan.” (HR Ahmad);
(2) terjadinya pelecehan seksual, seperti persentuhan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram, dan sebagainya. Rasulullah SAW pernah bersabda,”Kedua mata zinanya adalah memandang [yang haram]; kedua telinga zinanya adalah mendengar [yang haram], lidah zinanya adalah berbicara [yang haram], tangan zinanya adalah menyentuh [yang haram], dan kaki zinanya adalah melangkah [kepada yang haram].” (HR Muslim). Rasulullah SAW juga melarang laki-laki dan perempuan berdesak-desakan. Maka dari itu pada masa Rasulullah SAW para perempuan keluar masjid lebih dulu setelah selesai shalat, baru kemudian para laki-laki. (HR Bukhari, no 866 & 870).
(3) terjadinya perzinaan, yang diawali dengan ikhtilat. Imam Ibnul Qayyim pernah berkata dalam kitabnya At Thuruqul Hukmiyyah,”Ikhtilat antara para laki-laki dan perempuan, adalah sebab terjadinya banyak perbuatan keji (katsratul fawahisy) dan merajalelanya zina (intisyar az zina).”
Dan yang lebih mengerikan lagi, jika zina sudah merajalela di suatu negeri, maka akan terjadi kerusakan atau bencana umum bagi sebuah negeri. Sabda Rasulullah SAW,”Tidaklah merajalela perbuatan zina di suatu kaum, kecuali kematian pun akan merajalela di tengah kaum itu.” (HR Ahmad, dari ‘A`isyah RA).
Maka dari itu, jelaslah ikhtilat adalah perbuatan buruk yang wajib kita jauhi. Jika tidak, berbagai kemaksiatan akan terjadi, dan bahaya kematian pun akan merajalela pula di tengah-tengah umat Islam. Nauzhu billah min dzalik.

Ahok Tidak Berkompetensi Mengomentari atau Menolak Disebut Kafir

Posted on Updated on

Pernyataan Ahok yang menyebutkan orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai kafir sama saja artinya dengan menyatakan Yesus, Tuhan yang ia sembah, adalah kafir, dinilai sebagai kedangkalan dalam memahami istilah kafir dalam Islam.

“Menurut saya, dia ini tidak mempunyai kompetensi, tidak punya hak untuk bisa mengomentari atau menolak kalau dia disebut kafir dalam istilah Islam karena pemahamanya dia itu sangat dangkal,” ujar KH Muhammad Shiddiq Al Jawi, Pimpinan Ma’had Hamfara, Bantul, DIY kepada mediaumat.com, Rabu (25/1/2017).

Shiddiq menjamin orang Islam tidak mungkin menghina Nabi Isa as atau yang orang Kristen sebut sebagai Yesus sebagai orang kafir, karena orang Islam itu beriman bahwa Nabi Isa atau Yesus itu seorang Nabi dan Rasul. Dalam rukun iman di ajaran Islam itu kan ada “beriman kepada rasul-rasul Allah” jadi bukan hanya beriman kepada Nabi Muhammad SAW saja tetapi beriman kepada semua rasul-rasul Allah termasuk kepada Nabi Isa as dan Nabi Musa as.

“Jadi tidak mungkin, ketika kita katakan Ahok kafir, itu artinya mengkafirkan juga Nabi Isa!” tegasnya.

Ia juga menjelaskan yang kafir itu bukan Nabi Isa as, tetapi pengikut Nabi Isa yang sudah menyimpang dari Nabi Isa.  “Nabi Isa itu tauhid ajarannya, Tuhan itu Esa, Satu. Tidak seperti pengikut Nabi Isa sekarang, yang tuhannya itu tiga dengan konsep Trinitas,” bebernya.

Menurut Shiddiq, seharusnya Ahok mengerti, kafir menurut istilah agama Islam itu artinya adalah orang yang tidak beragama Islam. Baik itu orang Yahudi, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Komunis dll itu menurut agama Islam itu namanya kafir. Tidak peduli apakah orangnya baik-baik ataukah dia orang jahat, suka merampok, suka membunuh, itu semuanya kafir menurut istilah agama Islam.

“Tinggal kita jelaskan saja kepada Ahok, kalau dia tidak mau disebut kafir, implikasinya adalah tinggal bersyahadat saja, sehingga dia tidak disebut kafir menurut istilah agama Islam,” pungkasnya.
Pada Selasa, 24 Januari 2017, di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ahok menyatakan, dalam Alquran, jelas dikatakan Nabi Isa adalah seorang Muslim. Sementara di kalangan umat Kristen, Nabi Isa adalah Yesus yang merupakan Tuhan mereka. Menurut Ahok, menyatakan orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai kafir sama saja artinya dengan menyatakan Yesus, Tuhan yang ia sembah, adalah kafir.

“Saya percaya Yesus Tuhan, bukan kafir. Saya keberatan Anda menganggap saya kafir. Saya bertuhan dan saya terima Yesus adalah Tuhan, dan hak saya di negeri Pancasila, dan setiap WNI di negeri ini, saya berhak menjadi apapun di republik ini,” ujar terdakwa kasus penistaan agama tersebut. (mediaumat.com, 25/1/2017)

POKOKNYA SALAH, TIDAK USAH NGEYEL!

Posted on

Sumber : Choirul Anam

POKOKNYA SALAH, TIDAK USAH NGEYEL!

Di zaman demokrasi seperti sekarang, memeluk agama apapun itu hak dan tentu saja pilihan bebas. Bahkan beragama dianggap sbg hak asasi paling fundamental.

Termasuk memeluk agama Islam atau yg lain. 1000% bebas. Meski memeluk Islam itu bebas, tapi menjalankan Islam itu tidak bebas. Islam hanya boleh dijalankan yg berkaiatan dg masalah privat, tetapi tdk dlm masalah yg lain.

Jika ada yg melaksanakan Islam dlm urusan non privat, maka itu salah dan merupakan pelanggaran hukum.

Umat Islam boleh sujud semalam sampai keningnya hitam, atau baca alquran sampai khatam setiap hari. Tapi jangan coba-coba bawa SATU ayat saja dalam kehidupan nyata. Haramnya pemimpim kafir mmg ajaran Islam, tp jangan sekali-kali disampaikan apalagi jadi sikap dlm menentukan langkah hidup. Itu pelanggaran yg teramat keras dlm demokrasi.

Pokoknya, jika umat Islam bicara Islam, apalagi syariah Islam, apalagi Khilafah Islam, apalagi sok-sokan bela Islam, maka itu salah, kuno, fanatik, berbahaya, intoleran, tak berpendidikan, garis keras, brutal, kolot, seabrek gelar lainnya.

Bahkan, menutup aurat menurut Islam saja, sudah dianggap berbahaya dan disuruh pindah ke Arab. Boleh pakai baju tapi tdk boleh ada nuansa Islamnya, apalagi berdasarkan Islam. Kalau ada nuansa yg lain, seperti barat atau cina tdk apa-apa karena itu berarti go international.

Mengatur rambut (yg tumbuh di mana pun) itu bebas. Tapi jangan sampai berjenggot sesuai Islam. Itu berbahaya dan bisa jadi delik terorisme. Boleh manjangin jenggot, tapi tubuh harus ditato. Nah itu baru keren. Itu baru taat hukum.

Menyampaikan pendapat itu bebas. Tapi tdk boleh ada kaitannya dg Islam. Bicara Islam itu dianggap monopoli kenenaran, sok suci dan patut diwaspadai. Tapi kalau mengkritik Islam, itu baru kritis, intelektual, punya nalar, berwawasan terbuka.

Nulis tauhid di bendera, wah itu penghinaan berat negara. Itu menusuk rasa kebangsaan terdalam. Itu penodaan yg sangat fatal. Kalau nulis selainnya, itu berarti sangat cinta Indonesia. Itu berarti terjadi perpaduan harmonis antara nasionalisme dan kreativitas. Apa yg dilakukan Slank, misalnya, adalah contoh musisi dg rasa cinta tanah air yg luar biasa.

Sudah, pokoknya umat Islam yg bicara Islam di ruang publik itu salah dan pelanggaran hukum. Tidak usah ngeyel.

Kalau tdk terima, silahkan protes. Bawa jutaan umat ke monas. Tak ada pengaruhnya. Mau ngadu, ya sudah ngadu saja ke Tuhan yang katanya Maha Mendengar.

*****
Begitulah demokrasi. Jika kemarin, demokrasi masih malu-malu menampakkan wajah, sekarang demokrasi menampakkan wajah aslinya.

Demokrasi selalu bersembunyi dibalik nama rakyat, sekarang wajah aslinya tampak. Demokrasi hanyalah mengabdi kepada pemilik modal. Jutaan rakyat boleh protes, tapi keinginan tuan reklamasi pantai tdk boleh terusik.

Menghadapi wajah asli demokrasi yg sangat mengerikan memang tidak ringan. Tapi bagaimanapun, tetap lebih baik srigala berwajah srigala, sehingga kita menjauhinya, daripada srigala berwajah domba.

Kita sekarang ditakdirkan Allah menghadapi srigala dalam wujudnya aslinya.

Memang tidak ringan. Semoga Allah melindungi kita semua. Insya Allah hari-hari yang di nanti semakin dekat waktunya.

Wallahu a’lam.